Posted in Uncategorized

MISS WRITER VS MR. EDITOR

MISs WriterVsMr. Editor

   B

                                                                                                                                                    OLEH :  YANTI (20.11.12)

BAB 1

ekerja sebagai SPG di salah satu mini market jelas bukan profesi yang didambakan orang dalam perjalanan karirnya. Sama seperti yang Gea alami. Gea pun tidak pernah bercita-cita bahkan berharap pun tidak, kalau suatu saat pekerjaan yang akan dia dapat adalah SPG,‘ Sales Promotion Girl’. Nama pekerjaan itu awalnya sangat asing di telinga Gea bahkan Gea sempat menganggap itu adalah nama profesi yang keren, namun setelah mengetahui apa pekerjaan yang musti dia lakukan, Gea jadi mengerti, nama pekerjaannya tidak sekeren pekerjaan yang dia lakukan.

Setiap hari yang dijalani bersama rutinitasnya bekerja adalah hari-hari yang membuat Gea merasa jenuh dan bosan. Namun, lamarannya ke perusahaan-perusahaan yang tak kunjung mendapat balasan membuat Gea harus pasrah menerima nasib yang dijalaninya. Ya, hanya pasrahlah Gea sekarang. Gaji kecil dan hanya cukup untuk membayar uang kost serta kebutuhan hidup bukanlah yang diinginkan Gea.

Gea selalu berharap bisa menjadi sekretaris di sebuah kantor. Mengenakan blouse dan blazer ketat serta rok mini di atas lutut adalah dambaan Gea ketika dia baru lulus SMA. Keren banget, itulah yang terlintas di benak Gea saat membayangkan dirinya akan menjadi Sekretaris setelah lulus nanti. Tapi, semua mimpi-mimpinya itu buyar setiap kali lamarannya menjadi Sekretaris tidak diterima. Gea tahu yang mereka butuhkan adalah Sarjana Administrasi dan lulusan Akademi Sekretaris namun dengan segenap rasa yakin dan optimisme yang membumbung tinggi dia tetap melamar ke perusahaan itu dan lamarannya ditolak mentah-mentah karena tidak masuk kualifikasi. Setiap pulang dari melamar kerja mukanya selalu suntuk dan ditekuk. Amat menyedihkan hidupnya saat ini, pikirnya.

Selesai menamatkan SMA, Gea pindah dari Jakarta ke Bandung. Hal ini ia lakukan karena tak kunjung mendapat panggilan kerja di Jakarta. Memang benar kata orang-orang, Jakarta penuh dengan mimpi. Mimpi itu menggantung sampai di puncak langit. Gea tidak mampu menjangkau mimpi itu, terlalu sulit untuk diraih. Akhirnya di Bandung dia hanya dapat pekerjaan SPG. Hal itu tetap Gea syukuri. Terkadang semua keinginan kita tidak dapat terwujud, tapi Gea yakin suatu hari nanti nasibnya bisa berubah.

Semenjak meminjam buku Kambing Jantan  karya Raditya Dika dari temannya, Gea jadi bercita-cita menjadi penulis. Dia sudah mencoba beberapa kali mengikuti essai dan lomba cerpen untuk mengasah kemampuan menulisnya, namun yang didapatnya hanya habis tinta, habis kertas dan habis uang untuk biaya pendaftaran essai dan uang untuk mengirim cerpen lewat pos dan ke warnet. Gea agak kesal juga dengan kompetisi essai yang selalu memungut biaya pendaftaran dan lomba cerpen yang mengharuskannya mengirimkan karya dalam dua fomat, soft copy dan hard copy. Tak ada satupun dari kompetisi-kompetisi menulis yang jumlahnya sudah puluhan itu dimenangkan oleh Gea. Akhirnya Gea menyerah untuk mempublikasikan karyanya. Gea memang tetap menulis di komputer bututnya, tapi hanya menulis untuk dirinya sendiri dan tidak berniat mempublikasikannya ke siapapun.  Sampai akhirnya, Ajeng, temannya yang berprofesi sama sebagai SPG berkunjung ke rumahnya dan tanpa permisi mengutak-atik komputer Gea dan menemukan tulisan Gea yang jumlahnya sudah lebih dari 200 halaman itu.

“Ya ampun, Gea, bagus banget.” Komentar Ajeng berbinar-binar.

“Masa sih? foto kita di Kebun Raya Bogor waktu itu?” Tanya Gea berjalan menghampiri Ajeng sambil membawa piring berisi potongan buah nenas.

“Bukan, Gea, bukan..”

Gea segera mendekat ke depan layar monitor yang ditatap Ajeng, Gea akhirnya sadar apa yang sedang dilihat sahabatnya itu. Gea segera melesat berdiri menutupi layar monitornya.

“Gue kan udah nulisin folder ini dengan nama ‘private’ artinya ngga semua orang boleh buka, loe…” belum sempat Gea memarahi, ucapannya dipotong Ajeng.

“Gue terharu banget..”Potong Ajeng. “Sama kisahnya” lanjutnya.

Gea mendesah panjang lalu menyingkir dari menutupi layar monitornya.

“Ya udah, loe baca sampai akhir dulu, nanti loe kasih komennya ke gue.”

“Di print dong, Gea, gue mau baca tapi capek kalo mandangin layar monitor terus.”

“Print gue lagi ngadat, Jeng, tau deh kenapa.”

“Ngga loe perbaiki?”

“Belom ada uangnya, kemarin abis gajian gue kirimin setengah buat orang rumah, setengahnya buat bayar kost sama beli persediaan mie instan.”

“Kasian juga lama-lama ngeliat nasib loe, Ge.”

“Apanya yang dikasianin, Jeng, loe juga sama kan sama gue. Sama-sama SPG bergaji rendah, hufh.”

“Udah, jangan ngeluh gitu, ntar cepet tua.”

“Bener. Jadi gimana ni, mau lanjut baca atau komputernya gue mati’in, bayar listrik mahal tau.”

“Ah, pelit. Ya udah besok gue kesini lagi deh Ge.”

“Oke. Gue seneng kalo loe kesini, Jeng. Ngga pernah dateng dengan tangan kosong.”

“Tapi lama-lama gue bisa bangkrut juga kali.”

Tawa mereka pecah, bersamaan dengan itu suara handphone Gea berdering.

“Hp loe tu, Ge.” Ucap Ajeng sambil mengunyah nanas yang baru dikupas Gea.

“Cuma suara sms masuk. Udah lama hp gue ngga bunyi.”

“Keluarga loe ngga pernah nelpon?”

“Mereka jarang menghubungi gue, kecuali kalo lagi genting. Oiya, novel tadi… gimana?”

“Kasian banget tokoh utamanya, udah direbutin dua cowok, masa punya penyakit kronis?”

“Itulah realita, Jeng. Masa tokoh utamanya mau gue bikin happy terus, ngga ada cobaannya dong, mana air matanya?”

“Tapi semua orang seneng cerita yang bahagia, Ge, kayak ending di dongeng-dongeng, dan mereka hidup berdua selamanya, tak terpisahkan”

“Alah, lebay.” Ucap Gea seraya menyumpalkan dua potongan nenas ke mulut Ajeng.

“Loe kan belum baca akhirnya, Jeng.” Sambung Gea.

“Gue ngga mau baca lagi kalo akhirnya sang cewek meninggal, meninggal nggak, Ge?” Tanya Ajeng antusias. Gea mengangguk.

“Aah, tu kan, gue udah bisa nebak.”

“Loe tu kecepetan menyimpulkan. Tokoh utama cewek ngga meninggal kok, tapi dia bunuh diri.”

“Lebih tragis lagi Ge, ngomong-ngomong loe ngga pernah cerita sebelumnya kalo loe bisa nulis novel?”

“Gue emang ngga cerita ke siapapun. Awalnya gue berniat cerita kalo gue bercita-cita jadi penulis ke loe dan yang lain, tapi tulisan-tulisan gue ngga ada yang menang satupun, jadinya gue ngga minat lagi cerita ke siapa-siapa.”

“Jangan nyerah dong, Ge. Loe bilang pengen ngubah nasib loe dari SPG kan? Loe coba kirimin aja novel loe itu ke penerbit, siapa tau loe bisa jadi kaya Raditya Dika, penulis idola loe?”

“Hah?” Gea belum terpikir itu sebelumnya, lagipula dia tau novel yang dia buat hanya novel amatiran.

“Iya.” Ucap Ajeng mengangguk – angguk.

“Gue pikir-pikir dulu deh.” Komentar Gea pelan.

**********************************

Setiap hari adalah Blue Monday, begitu bagi Gea yang hari ini bertugas menyusun kotak-kotak susu bubuk dan mie instan ke rak-rak yang tersedia di mini market tempatnya bekerja.

Kapan hal-hal monoton ini berhenti ? Gumam Gea yang sedari tadi hanya cemberut saja.

Gea baru teringat satu hal, tadi malam ada suara sms masuk. Gea segera merogoh saku dan mengeluarkan handphone murah miliknya. Ternyata ada 2 pesan masuk, yang pertama dari operator selulernya dan satunya dari nomor yang tidak dikenalnya. Gea segera membuka pesan itu.

Selamat, kamu memenangkan kompetisi menulis cerpen bertema arti cinta yang diadakan oleh penerbit RealsMedia, Pengumuman lebih lanjut dapat dilihat di website kami, RealsMediagroup.com. Terima kasih.

Gea merekahkan senyum di bibir mungilnya. Rasa senang bukan main menggeluti pikirannya. Dia belum tahu akan jadi juara berapakah dia, namun yang pasti, juara terakhir yaitu juara ketiga pun mendapat hadiah yang tak kalah lumayan, uang tunai Rp 1.500.000,- dan itu bisa untuk mengirimkan uang pada orang rumah di Jakarta dan itu sangat berarti buat mereka, ayah, ibu dan adik Gea.

Gea hanya bersiul-siul riang sambil kembali menyusun kembali barang-barang ke rak-rak untuk makanan kemasan. Gea tidak lupa mengirim sms ke Ajeng sahabatnya yang sedang  kena shift malam hari itu bahwa dia menang lomba cerpen. Ajeng yang sangat mendukung sahabatnya bergegas membantu Gea dengan cara pergi ke warnet untuk melihat pengumumannya di website RealsMedia.

***************************************************************

Ajeng bilang dia juara ketiga, Gea sangat bahagia sekarang bahkan dia sempat koprol tadi di jalan menuju kostnya. Tebakannya bahwa dia mendapat juara ketiga ternyata tidak salah. Ajeng bilang uangnya akan ditransfer oleh pihak penyelenggara yaitu RealsMedia satu minggu setelah hari pengumuman kemarin. Gea sangat girang, saking girangnya dia sampai menumpahkan kopi yang baru dibuatnya. Gea tetap tersenyum meski kopinya tumpah. Hanya perasaan puas yang dia rasakan. Akhirnya mimpinya terkabul, do’anya di ijabah oleh Tuhan. Paling tidak kemenangan ini menjadi suntikan semangat baru untuknya agar bisa membuat tulisan yang lebih baik lagi.

Gea juga ingin mentraktir sahabatnya Ajeng untuk merayakan kemenangannya, tapi sayang dia tidak punya uang saat ini, uangnya yang ada sekarang hanya cukup untuk biaya transport. Sedangkan perjalanan menuju gajian masih lima belas hari lagi. Kalau dia pakai untuk mentraktir Ajeng, dia bakal jalan kaki ke mini market selama seminggu penuh. Dia tidak mau itu terjadi lagi, karena itu pernah terjadi sebelumnya. Kakinya sampai pegal sekali dan rasanya mau copot waktu itu. Apalagi saat lagi berjalan kaki ke minimarket ada sebuah insiden tak terlupakan yang pernah di alaminya.  Hari itu dengan menggunakan payung di atas kepalanya karena hari sedang hujan, Gea berjalan tergesa gesa bahkan terkadang lari kecil memakai high heelsnya yang tidak terlalu tinggi. Dia takut hari ini akan dimarahi bosnya karena terlambat.

Dia ingat waktu itu, gara-gara Ajeng merengek minta ditemani nonton. Akhirnya malah tidak cuma nonton, tapi makan-makan yang mengkandaskan uang transport Gea hari itu juga. Akibatnya dia harus berjalan kaki seminggu penuh menuju minimarket yang jaraknya lumayan jauh, lima belas menit berjalan kaki.

‘Ciprat!’ Sebuah cipratan air dari kubangan meluncur deras ke baju hem putih Gea. Gea yang saat itu tergesa-gesa langsung emosi melihat bajunya kotor terkena cipratan air dari kubangan itu. Gea langsung melempar high heelsnya dengan kencang sampai mengenai mobil yang mencipratinya air. Pas, mengenai bemper belakang mobil Honda CR-V itu.

Mobil itu berhenti tepat sepuluh meter dari Gea. Sebuah rekor lemparan high heels yang sangat bagus buat Gea. Mobil itu mundur, lalu pengemudinya turun dari mobil.

“Eh, loe sadar ngga apa yang udah loe perbuat? Loe mau cari gara-gara sama gue?” Marah laki-laki yang tingginya 15 cm di atas Gea itu sambil membuka kacamata hitamnya. Terlihat lingkaran berwarna keabuan dari kedua mata berwarna kecoklatan itu.

Gea sempat terkesima beberapa detik setelah melihat wajah pria dihadapannya itu tanpa mempedulikan lingkaran abu-abu di sekitar kelopak matanya, wajah itu tetap terlihat keren, tampan.

“Loe juga. Liat nih baju gue jadi kotor semua, loe ngga liat ada pejalan kaki di samping loe?” Ucap Gea tak mau kalah.

“Emang gue pikirin, liat nih, mobil gue jadi kegores kan, gue ngga yakin loe bisa ganti ?” Pandang cowok itu sinis sambil melihat Gea dari ujung rambut sampai ujung kakinya.

“Kenapa gue harus ganti, lagian gue rasa high heels gue ngga kena disitu deh, jangan nyalahin orang deh, udahlah, males ngeladenin cowok sombong.”

“Apa loe bilang…?” Cowok itu mulai emosi mendapat ejekan Gea, Gea malah teringat high heelsnya yang terpental di tengah jalan saat mobil cowok itu mundur.

‘High heels gue’ Gumam Gea sambil berjalan mencari sepatunya, laki-laki itu berjalan di belakang Gea, ingin lanjut memarahinya.

‘Itu dia’ Gumam Gea melihat sepatunya tergeletak di tengah jalan, Gea segera berlari. Saat Gea hendak memungut sebelah sepatunya tanpa ia sadari akan ada truk yang melintasi jalan itu. Laki-laki itu segera menarik tubuh Gea hingga akhirnya mereka berdua jatuh ke pinggir jalan. Tubuh Gea tepat menindihi tubuh cowok itu. Wajah Gea bersemu merah sekaligus rasa bersalah tertanam di hatinya.

“Loe udah gila ya?” Ucap cowok itu memarahi Gea.

Gea tersadar dari lamunannya lalu segera bangun dan duduk di samping cowok itu seraya membantu cowok itu bangun dengan mengulurkan tangan. Cowok itu menerima uluran tangan Gea sambil bangun. Dahinya mengernyit.

“Maaf ya, loe ngga apa-apa kan?”

“Punggung gue sakit.”

“Aduh, gimana ya?” Yang terpikir pertama di benak Gea adalah dia tidak mempunyai uang untuk membayar biaya pengobatan cowok itu.

“Loe harus tanggung jawab.”

Gea membisu. Mulutnya beku, tidak dapat berucap.

“Kenapa diem? Gimana sepatu loe? Dapet?” Tanya cowok itu.

“I-iya.” Jawab Gea  gugup lalu memperlihatkan sepatunya. Hak-nya patah.

“Gara-gara itu lo hampir menghilangkan nyawa kita tau ngga.”

“Gue minta ma’af.” Ucap Gea dengan mata berkaca-kaca, dia benar-benar merasa bersalah dan sedih.

“Udah… loe ngga usah nangis, sini gue temenin beli sepatu baru.”

Gea sekarang berada dalam mobil Honda CR-V laki-laki itu, entah kenapa dia menuruti kata-kata cowok itu, sebenarnya Gea lebih ingin mengusulkan membawa cowok itu ke dokter, namun dia tau dia tidak punya uang.

“Punggung kamu sakit banget ya?” Tanya Gea  dalam perjalanan.

“Nggak apa-apa, nggak lebih sakit dari ditinggal nikah sama orang yang dicintai.”

Gea menatap mata yang bersembunyi di balik kacamata hitam itu, tajam. Wajah cowok itu terlihat cukup memendam kepedihan.

“Emm… jangan memendam kesakitan sendirian.” Ucap Gea, cowok itu tersenyum.

“Kita ke dokter dulu ya.” Ucap cowok itu, Gea hanya mengangguk, berharap yang dia

khawatirkan tidak akan terjadi.

            Dokter mengatakan bahwa punggung Wisnu tidak apa-apa. Ya, nama cowok itu Wisnu. Dia hanya terluka sedikit di punggungnya dan tengannya terkilir. Setelah mengobati luka di punggung Wisnu dokter memberi beberapa resep obat dan menyuruhnya  istirahat selama beberapa hari di rumah.

            “Ma’af, sekali lagi ma’af.” Ucap Gea tidak lama setelah Wisnu membayar biaya berobatnya dan obat di apotek.

            “Loe sendiri ngga apa-apa kan? Ada yang luka juga ngga?” Tanya Wisnu, Gea menggeleng.

            “Kenapa loe sangat sayang sama sepatu itu?”

            “Karena gue ngga punya banyak sepatu.” Jawab Gea singkat.

            “Ya udah gue temenin beli yang baru.”

            Gea teringat kata-kata Ajeng tempo hari, dia bilang kalo cowok menghadiahi sepatu pada seorang cewek, maka mereka akan berpisah. Gea tidak ingin itu terjadi, dia ingin diberi kesempatan sekali lagi, untuk membayar hutangnya.

            “Jangan, gue sayang sepatu ini.” Ucap Gea sambil mematahkan hak sepatu sebelahnya lalu memakainya.

            “Kamu pintar juga ya.”

            Gea melirik jam di tangan laki-laki itu, kacanya pecah. Pasti gara-gara kejadian tadi, pikir Gea. Gea melihat jarum jam menunjukkan pukul 09.00, sudah terlambat empat puluh lima menit dari yang seharusnya.

            Setelah laki-laki itu mengantarkan Gea ke depan mini market…

            “Ma’af ya kita berpisah disini.” Ucap Gea sambil berpamitan.

            “Iya, ngga apa-apa.”

            “Makasih, ma’af tadi udah marah-marah.”

            “Maaf juga, gue pulang dulu.”

            “Iya, hati-hati di jalan.”

            Wisnu melambaikan tangan pada Gea. Gea tersenyum lega sambil melambaikan tangan juga. Dan disitulah akhir pertemuan mereka. Gea sadar apa yang sedang menanti di depannya atau lebih tepatnya di belakangnya. Bosnya sudah berdiri di belakangnya dan segera setelah Gea berbalik dia mendapat teriakan marah-marah karena keterlambatannya, apalagi saat bosnya melihat Gea memakai baju yang kotor. Gea cepat-cepat meminjam baju dari lokernya Ajeng dan mengganti bajunya.

**************************************

            “Siapa nama cewek itu.” Gumam Wisnu sesampainya di Jakarta, rumahnya. Wisnu berbaring di kasur empuknya sambil mendengarkan lagu dari earphonenya. Meskipun punggungnya masih terasa sedikit sakit, namun musik favoritnya dapat sedikit meredam rasa sakit itu.

            “Kenapa gue nggak nanyain namanya?” Gumamnya lagi.

            “Mungkin nanti kalau gue ke Bogor lagi gue mampir ke tempat dia kerja.” Ucap Wisnu dalam hati, dia kemudian teringat acara pernikahan yang baru dihadirinya, pernikahan Jim dan Eliana, mantan pacarnya. Dia jadi mengurungkan niatnya untuk kembali ke Bogor. Bogor akan selalu mengingatkannya pada Eliana. Dan dia sangat tidak ingin mengingat wanita yang sudah menyakiti hatinya lagi.

            “Nu, kata pembantu loe, loe sakit ya? sakit apa?”

            “Tadi gue jatuh pas nolongin orang.”

            “Siapa? Pasti cewek kan.”

            “Kok loe tau sih?”

            “Iya lah,kalo cowok mana mau loe berkorban sampe kayak gini.”

            “Cewek ini unik.” Ucap Wisnu, Evan segera tersenyum.

            “Eliana gimana? loe udah lupain dia belom?”

            “Loe nanya seolah –olah ini masalah kecil ya?”

            “Terus, gue harus nanya apa?”

 

******************************************************************************

            “Siapa, Ge yang nganterin loe?” Tanya Ajeng bersemangat.

            “Panjang ceritanya. Gue baru kenal dia tadi, Jeng.”

            “Terus… kenapa sama sepatu loe, baju loe? barusan, tapi kayak udah terjadi banyak hal.”

            “Loe nanya udah kayak detektif aja.”

            “Gue penasaran, pengen tau.”

            “Nanti aja, jam makan siang, kita selesai’in kerjaan dulu.” Ucap Gea sambil meletakan kotak-kotak es krim dan minuman ke freezer.

            “Ya udah. Gue tunggu.”

******************************************************************************

Penulis:

Yantinurhida lahir pada tanggal 17 Nopember. Dia anak pertama. memiliki 1 adik laki2 yang sekarang sudah kelas XI SMA. sedang dalam pencarian pekerjaan yang membuatnya merasa menemukan passion-nya. Hobinya adalah menulis, membaca, bermimpi, menggambar, menyanyi asal , nonton film, nonton acara sport, main game dan menonton Running Man. Motto : Selalu OPTIMIS dan pantang menyerah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s