Diposkan pada dailynotesyanti

Lomba Desain Poster Nasional CST 2013 STAN

Lomba Desain Poster Nasional CST 2013 STAN

 

Ketentuan Umum

  1. Peserta adalah masyarakat umum.
  2. Peserta adalah perseorangan; apabila karya yang dikumpulkan merupakan hasil kerja kelompok atau kolaborasi beberapa perseorangan, tetap hanya boleh mengatasnamakan salah satu individu (anggota yang terlibat dalam kelompok tersebut) saja, agar mudah dalam hal penjurian dan pengumuman pemenang. 
  3. Karya yang dilombakan adalah karya seni bebas, sesuai dengan tema, sarat makna, penuh kreativitas, tidak terdapat unsur pornografi, dan tidak menjelek-jelekkan SARA. 
  4. Karya harus mudah dilihat, mudah dimengerti, menarik, informatif, dan sesuai dengan persyaratan. 
  5. Karya orisinil, asli 100% buatan sendiri, dengan ide cerita tidak mengutip, mencontoh, meniru, menjiplak, mengambil isi, cerita, gambar dari karya-karya manapun. 
  6. Karya yang dikumpulkan belum pernah dikirimkan, dipresentasikan, dipublikasikan, atau dimuat dalam media apapun dan/atau perlombaan lain yang sejenis. 
  7. Seluruh karya yang diterima panitia merupakan sepenuhnya milik panitia, tidak dikembalikan, dan panitia berhak menggunakan, memanfaatkan, dan mempublikasikan karya tersebut dalam bentuk apapun. 
  8. Setiap karya yang tidak sesuai dengan ketentuan umum, ketentuan khusus, dan tidak dilengkapi dengan data diri akan langsung digugurkan.
  9. Keputusan tim penilai (juri) tidak dapat diganggu gugat. 
  10. Biaya pendaftaran tiap-tiap lomba sebesar Rp 25.000,-
  11. Pendaftaran lomba dibuka pada tnggal 10 Januari 2013
  12. Batas akhir waktu pengumpulan karya adalah 31 Maret 2013 pukul 23.59

KETENTUAN TEKNIS REGISTRASI PERLOMBAAN

  1. Biaya pendaftaran dapat ditransfer ke Rekening Bank Mandiri dengan nomor 143-00-1298549-3 atas namaMasitha Rani Wulansari
  2. Mohon konfirmasi ke nomor Contact Person masing-masing lomba apabila telah mengirim biaya pendaftaran.

Ketentuan Khusus

  1. Poster dibuat dengan ukuran A3.
  2. Poster yang dibuat harus sesuai dengan tema.
  3. Desain poster boleh menggunakan cetak digital (menggunakan aplikasi komputer atau software yang sudah umum, seperti Adobe Photoshop, CorelDraw, atau aplikasi grafis lainnya), boleh juga menggunakan alat gambar biasa seperti cat air, cat minyak, cat poster, krayon, pensil warna, spidol, atau pewarna lainnya, yang nantinya di-scan untuk dikirimkan ke dalam bentuk file digital. 
  4. Jumlah warna bebas. 
  5. Gaya visualisasi (apabila menggunakan alat cetak digital) serta terknik menggambar, teknik pewarnaan, teknik arsiran (apabila menggunakan alat gambar biasa) BEBAS. 
  6. Jumlah poster yang dapat dikumpulkan tiap-tiap peserta adalah 1 (satu) lembar poster. 
  7. Data diri yang harus disertakan:

    a. judul poster,
    b. nama lengkap sesuai dengan KTP,
    c. nomor ponsel (nomor telpon yang dapat dihubungi),
    d. alamat (asal)/domisili,
    e. nama sekolah/universitas/instansi tempat bekerja/UMUM, dan
    f. tujuan atau maksud dari isi poster, apa yang ingin disampaikan dalam poster tersebut.

  8. Total hadiah 5 juta rupiah untuk 3 orang pemenang pilihan juri dan 1 juara favorit.

TEMA: EXPRESSING INDONESIA
Deskripsi singkat tema: Pada lomba ini kami mengajak para creator sekalian untuk menuangkan ide dan pemikirannya tentang Indonesia, bagaimana kalian berpikir tentang Indonesia. Indonesia yang kaya akan budaya, adat-istiadat, serta beribu watak dan karakter yang berbeda pasti membentuk suatu pandangan dan ide di setiap benak. Setiap pemikiran itu unik. Setiap orang pasti memiliki ide dan pandangan tersendiri terhadap Indonesia. Tuangkan ide dan kreativitasmu dalam kanvas dan kuas digital atas pemikiran tersebut.Don’t be shy in expressing Indonesia!

Kirimkan poster beserta data diri yang harus disertakan ke: cststan2013@gmail.com
Subject email: CST2013(spasi)LOMBA POSTER(spasi)NAMA LENGKAP
Kirimkan sms konfirmasi  dengan format: Poster CST 2013_nama lengkap_alamat lengkap kirim ke085693206800 (Anis).

Info: cst2013.weebly.com

Diposkan pada dailynotesyanti

PARTAI

‘PARTAI’

Daily Notes at : 23 Januari 2013 (Wednesday)

 

            Gue lupa kapan saat itu terjadi, yang pasti saat itu gue lagi sakit-sakitnya abis kecelakaan. Yup, alien selihai gue juga pernah mengalami KECELAKAAN, bahkan berulang kali. Ceritanya gue lagi belajar naik sepeda motor  for the first time dan motor yang gue mau bawa buat belajar mengendarai brutal ala-ala gue adalah sebuah motor Shogun dengan plat nomor DA XXXX sekian. Bokap yang lagi ngajarin gue milih dengan santai berdiri di samping pertokoan –tempat  dimana gue belajar– sambil ngawasin dan sesekali memberi instruksi udah kayak tukang parkir, nyuruh gue berbelok ke kiri dan kekanan, dia nggak berani ikut naik dibonceng sama gue. Gue tau kalau bokap cuma was-was kalo gue, anak pertamanya yang unyu ini bakal bikin dia masuk UGD.

            Akhirnya apa yang orang-orang bilang tentang orang yang baru belajar naik motor pasti ngerasain gimana rasanya jatoh dari motor, bener-bener ampuh bikin kejadian itu nyata. Gue dengan sukses nabrakin si Shogun yang malang ke pelataran pertokoan, gue rasa bokap udah salah deh milih tempat ini –pertokoan– sebagai arena belajar, karena tempat ini terlalu menantang bagi gue yang masih amatiran dan ngebawa motor ugal-ugalan, lagian gue baru inget kalo tadi gue lupa baca ‘doa sebelum naik kendaraan’ dulu sebelum naik motor.

            Akhirnya gue yang jatuh, lemas, lunglai ngga berdaya dan kesakitan dibonceng bokap untuk pulang ke rumah. Muka bokap kayak marah-marah gitu sama gue. Dia marah karena pas dia teriak-teriak ‘injek rem, injek rem’ ngga didengerin sama kuping bolot gue yang terlalu asik ngedengerin deru mesin motor. Tapi gue tau dibalik muka marahnya itu juga tersimpan mimik muka ‘kasian dan cemas’, gue tau itu meskipun bokap nggak bilang apa-apa, ini mungkin yang dibilang chemistry antara bokap sama anaknya, meskipun gue tau kalo dulu bokap ngga pernah diajarin Kimia (Chemistry) karena dia ngambil jurusan IPS.

            Singkat cerita, nyokap langsung manggil tukang pijit ke rumah. Tukang pijit itu nggak lain dan nggak bukan adalah sahabat baik nyokap sendiri namanya Tante Zebadiah. Tante Zebadiah cuma bertugas ngurutin kaki kanan gue yang luka cukup parah –sampe bikin gue nyaris ngga bisa melenggang kangkung ke toilet– ya, cuma kaki sebelah kanan. Dan berapa dia masang tarif? tiga puluh ribu rupiah. Gue pikir setelah nyokap ngebuka dompet terus ngeluarin uang tiga puluh ribu, itu si Tante Zebadiah bakal ngasih kembalian lima ribu, atau kalo nyokap gue beruntung, si Tante Zebadiah bakal bilang ‘udah, gratis kok, kita kan temen’, tapi gue lupa kalau uang itu ngga bersahabat. Setelah gue pikir-pikir, kalo mijit satu kaki orang aja ongkosnya udah tiga puluh ribu, gimana kalo mijit dua kaki sama dua tangan, apalagi kalo orang yang dipijit juga sekalian sakit leher karena salah bantal, itu sama artinya dengan lima kali tiga puluh sama dengan seratus lima puluh ribu. Bayangin, ngasih jasa ke satu orang  udah mungut seratus lima puluh ribu, gimana kalo tiga atau sampe sepuluh? bisa kaya sehari ni Tante Zebadiah, pikir gue. Di tengah-tengah nyeri kaki, gue masih sempet-sempetnya mengkalkulasikan honor atau pendapatan yang diterima orang lain, sadis.

            Beberapa hari kemudian ada sebuah kabar menggembirakan yang diterima nyokap dari temen atau koneksinya, sampai-sampai matanya berbinar-binar *mirip mata kucing yang nyala dalam kegelapan*, nyokap diajakin ikut kampanye sebuah partai ternama berinisial ‘D’ dan gue juga boleh ikut. Gue juga nggak kalah hepi sambil menyalakan bola mata gue kuat-kuat, terus nyokap menatap dengan lemas gemulai, dan bilang : ‘Kamu kan lagi sakit, Yan?’ Ucap beliau sambil melototin kaki kanan gue yang masih berdarah-darah.

            “Ngga apa-apa, Ma, Yanti mau ikut.” Ucap gue sangat bersemangat setelah nguping pembicaraan nyokap dan temennya di handphone dan denger kalo disana bakal dikasih uang masing-masing 50 ribu pas selese acara, hati gue langsung mencelos keluar, dan jatuh ke jalan raya *Glek*.

            “Bener, ngga apa-apa? Mama takut nanti disana ada yang nyenggol kaki kamu..” Ucap nyokap khawatir setengah mati, andai aja gue pemain sepakbola profesional, nyokap pasti nggak bakal sepanik ini, karena kaki disenggol itu merupakan hal yang lazim buat pemain bola.

            “Iya. Ngga apa-apa. Yanti mau ikutan, lagian ini kan pertama kalinya Yanti ikut acara kayak begituan, Yanti pengen tau disana nanti kayak gimana.” Ucap gue menutupi segala kelicikan gue yang ngarepin dapet 50 ribu perak.

            Akhirnya tibalah saat yang ditunggu-tunggu, sesuatu yang bikin gue tegang banget, dan keringat ngga henti-hentinya mengalir dari jidat lebar gue, saatnya menyaksikan calon orang penting atau ‘bakal calon gubernur’ dipromosiin sama partainya. Gue men-check segala keperluan yang perlu gue bawa disana entar, baju berlambang partai plus ada muka Cagubnya (check), terus celana jeans yang ngga terlalu kekecilan atau kebesaran (check), handphone China kesayangan gue (check), tas yang berisi selembar kertas sama pulpen buat nyatat-nyatat siapa tau ada yang penting (check), sebuah tissue (check), sama sebuah spons bedak (check) *jangan tanya kenapa gue bawa spons bedak, itu urusan pribadi gue, ya*.

            Gue duduk disamping sepupu jauh gue yang bermuka cantik, namanya Hana, dia sepupu jauh gue yang paling cantik dan baru beranjak remaja, kecil-kecil gitu, dia udah ditaksir sama puluhan cowok lho, adik perempuan nenek gue aja sampe bilang kalo sepupu jauh gue itu meskipun masih kecil-kecil cabe rawit, tapi mukanya udah kayak Manohara versi Kalimantan Selatan. Widiiih, canggih banget nih Hana, beda banget sama gue yang sampe sekarang nggak laku-laku *ngenes*. Sedangkan nyokap gue, duduk di sebelah nyokapnya Hana. Nggak gue sangka, ada yang bakal ganggu ketenangan gue, kursi kosong disebelah sepupu jauh gue Hana, yang awalnya aman tanpa pantat siapapun yang mendudukinya, tiba-tiba diambil alih oleh bokong seorang ibu-ibu paruh baya yang kalo dilihat dari mukanya adalah seorang nenek-nenek yang cerewet bermuka sebelas dua belas sama Mak Lampir yang ada di Indosiar, Widih, parah. Lalu kursi depan gue yang semula juga aman tanpa pantat seseorang tiba-tiba diduduki dengan semena-mena oleh seorang bocah cowok pitak yang badannya kecil tapi kelakuannya hiperaktif. Dengan begini, kepanikan gue soal ucapan nyokap yang bilang ‘takut kaki gue kesenggol’, bisa bener-bener terjadi, gawat. Gue langsung ngeliatin kaki gue, dia masih berada di bawah seperti biasa, berarti masih aman terkendali *biasanya juga gitu kali*. Sebenernya kaki kanan imut gue ini masih berasa nyut-nyutan akibat pijitan nggak beres dari Tante Zebadiah waktu itu, waktu itu entah sengaja atau enggak, Tante Zebadiah pas mijitin gue ngegencet luka berdarah di kaki indah gue dan bikin gue terisak, teriak ngejerit sambil gigit bibir keras-keras dan bilang ‘Wadooooooooowwww….Sakkkittt…”, gara-gara itu gue langsung jera dipijitin sama dia lagi. Gue langsung ngucapin sumpah serapah dalam hati gue bahwa gue nggak mau dipijit sama Tante Zebadiah lagi, sekuat apapun nyokap maksa gue untuk dipijit.

            Kembali ke acara partai ‘D’, gue dan nyokap  yang antusias mendengar para pendukung parpol berteriak-teriak penuh semangat sambil mikirin uang 50 ribu di kepala, terganggu dengan kehadiran bocah kecil plontos di hadapan gue yang selalu jalan bolak-balik, mondar-mandir di sekitar gue, bukan di sekitar kursinya sendiri atau kursi nyokapnya. Sialan, gumam gue dalam hati. Memang selalu ada trouble maker yang mewarnai ketenangan hidup setiap insan di dunia, hehehe. Satu kali, kaki gue lolos dari senggolan anak pitak, dua kali, lolos, pyuhh… leganya gue, ketiga kali, hampir ke injek, ke empat kali, gue yang nge-injek tu anak sampe jatoh, rasa’in. Gue pelototin mata tu anak tuyul, dia ngga bergeming sama sekali, dasar anak bandel. Gue masih punya kesabaran, kalo nggak ni anak bakal segera gue masukin ke SDLB terdekat. SDLB : Sekolah Dasar Luar Biasa.

            Hana, si sepupu jauh gue yang berwajah cantik (udah tau kali), adalah anak yang gemar jajan. Dia ngajakin gue jajan, katanya dia kehausan dan kelaperan serta kegatelan, sementara gue nggak punya uang di tangan, karena 50 ribu belum dimiliki sama gue dan nyokap, tapi karena dia maksa-maksa, akhirnya gue cuma nemenin dia jajan doang ke lantai bawah gedung. Gue memaksakan kaki gue yang nyut-nyut gak karuan untuk menuruni anak tangga, yang *kampret*, anak tangganya banyak banget, kayaknya si Hana mau membunuh gue pelan-pelan. Sebenarnya Hana dan nyokap Hana nggak tau kalo gue habis kena insiden bersama si motor Shogun malang, kami (gue dan nyokap) sengaja nggak cerita ke siapapun, nanti ketauan banget kalo gue terlalu niat jadi simpatisan Partai *alias niat dapet komisi* sementara kaki gue masih sakit.

            Hana dengan tergesa-gesa menuruni anak tangga, sementara gue kececer di belakangnya sambil megangin kaki takut copot, beberapa anak bocah lari-larian dan jumpalitan di tangga, gue semakin was-was kaki gue kesenggol, andai aja gue pemain bola profesional, hehehe. Saat sampai dengan selamat di bawah, hati gue plong banget, mirip ekspresi orang abis BAB, hehe.

            Gue menghampiri Hana yang mulai menusuk-nusuk pentol (bakso) dengan tusukan dari bambu lalu memasukkannya ke dalam plastik, iler gue langsung ngeces melihat pentol yang mengepulkan asap dan ngeluarin bau yang aduhai tralala menggoda itu. Si Hana yang sadar akan ekspresi gue  yang kelaperan melas pun nawarin gue ikut makan pentol, awalnya gue pura-pura nolak buat jaga image *masak Yanti ditraktir anak kecil ingusan*, tapi uang di saku celana jeans gue cuma ada dua ribu rupiah, lalu karena dia terus-terusan maksa sambil merengek-rengek, akhirnya gue luluh dan ikut menusuk-nusuk pentol itu lalu masukin ke plastik memberinya saos tomat. Mantap. Berikutnya kami nyari minuman, minuman yang terdekat saat itu adalah Pepsi sama Cola yang dimasukin dalam gelas sterofoam, Hana tentu menawari gue salah satunya dan dengan ganas gue mengambil segelas Pepsi dingin *rasa gengsi dan jaim gue pun sudah musnah seketika*. Harga diri gue pun ikut hancur seketika.

            Total jajanan yang ditraktir Hana adalah sepuluh ribu rupiah. Ya, ngga seberapa lah buat Hana si sepupu yang kaya raya itu. Sekaya raya itu, dia pun tetep pengen minta jatah komisi lima puluh ribu juga dari partai. Kayaknya dia bener-bener punya nasib bagus kayak Manohara, bedanya dia ngga musti kawin sama Raja Kelantan biar kaya, dia udah kaya sejak lahir (atau sejak anak kecil tepatnya). Tapi asal kalian tau ya, nyokap sama bokapnya Hana itu pelit minta ampun, mereka nggak pernah ngasih orang lain duit (terutama gue, ya iyalah). Mungkin itu adalah kunci sukses dalam menjaga kekayaan mereka, pelit. Hehe, gue jadi ngomongin orang ya.

            Satu jam lamanya para petinggi parpol (partai politik) berorasi, berkoar-koar, mirip suara burung angry birds lagi ngamuk dan gue cuma bisa huh..hah..huh…hah, bukannya kepedesan, tapi ngantuk, mulut gue bahkan udah nganga segede-gedenya, pentol di tangan gue udah tandas dan tinggal bungkusan plastik, Pepsi dingin gue masih sisa separo gelas dan nenek-nenek paruh baya disebelah tempat duduk Hana cuma manyun-manyun ngedenger suara Hana nyedot Cola yang sisa air esnya doang “Grrrrk….grrrk..grrrrroook”. Ibu-ibu itu emang kayaknya sirik banget sama kebahagiaan gue dan Hana. Pas lagi bosen-bosennya, gue lalu ngajak Hana ngobrol, biasalah obrolan anak muda berkisar seputar artis, cowok, artis, pita rambut, cowok, ya… kira-kira berputar seputar itu aja. Itu ibu-ibu kembali sirik dan mengeluarkan bunyi-bunyian “Sst…. sst…berisik” Ucapnya tanpa kami gubris.

            Berikutnya kami diberikan sepotong selebaran sama kliping yang berisi tentang kelebihan-kelebihan cagub yang sedang kami pakai bajunya dan sedang kami dukung secara pura-pura, si Ibu-ibu paruh baya kembali marah dan geram mendengar kami membaca selebaran itu sambil ketawa cekikikan. Ini ibu maunya apa sih, ga seneng banget ngeliat orang happy, gue malah yang jadi dongkol. Nyokap juga sama nyokap Hana ikut-ikutan ngobrol berdua, si ibu sirik makin murka. Gue tau sekarang kenapa dari tadi dia gelisah sama sirik gitu, karena dia nggak punya teman bicara. Dari tadi dia cuma bisa ngomong sendiri atau paling banter, nepokkin lalat yang ngerubungin di sekitar mukanya, buset dah udah kayak bangke, astaghfirullah kasian banget. Selain si ibu super sirik, si bocah pitak juga belum capek-capek untuk mondar-mandir di sekitar kursi gue. Kayaknya bener-bener pengen minta dijitak nih anak. Gak lama kemudian terdengar bunyi “Gubraakkk” si anak pitak jatuh dari kursi dan mendarat dengan sempurna ke lantai. Gue pengen ketawa puas ngeliatnya, tapi takut sama nyokapnya, akhirnya gue tahan sampe gue pengen kencing. Saat gue mau nyari toilet, tau-tau ngga ada toiletnya. Hebat, gedung segede ini ngga punya fasilitas toilet.

            Akhirnya terpaksa gue tahan sampai akhirnya kami pulang dan ngedapetin uang 50 ribu. Horee, gue langsung lega (karena bisa cepet-cepet nyari toilet) dan kegirangan pas nerima uang hasil jerih payah gue itu sambil tetap nahanin nyeri kaki. Akhirnya uang itu, gue bagi 30 ribu sama nyokap dan gue sisanya. Itung-itung buat ganti uang yang dikeluarin nyokap buat mijit kaki gue yang sakit digencet sama Tante Zebadiah. Iya, gue emang begitu, kalau gue punya uang, bahkan sedikit aja, bahkan lima ratus perak pun bakal gue bagi ke nyokap. Uang sesedikit itu nggak akan bisa mengganti kerugian yang dialami nyokap akibat ngebesarin anak bego yang ngga bisa ngasih apa-apa kayak gue. Huhuhu… sedih jadinya.

****************************

Diposkan pada dailynotesyanti

REVIEW BUKU : KÃLA KÃLÍ

REVIEW BUKU :    KÃLA KÃLÍ

Daily Notes at : 19 Januari 2013

                Actually, pagi ini gue punya sebuah rencana licik. Pengen mencuci baju dari pagi hingga petang *WADUH*. Maksudnya adalah jumlah baju kotor di keranjang cucian gue sudah melebihi ambang batas, artinya sudah numpuk melebihi kapasitas. Itu semacam alert atau alarm berbunyi yang menandakan bahwa gue harus segera menyiapkan bak cucian, mengambil air dan deterjen *tanpa disebutkan merknya*. Dan lalu mulai mengucek pakaian dan membilas lalu menjemurnya di tali jemuran, hal ini mirip cara-cara orang jaman dulu mencuci baju ya? Ya, gue emang masih mempertahankan ke’JADUL’an gue untuk mencuci secara manual –nggak pake mesin cuci.

            Tapi semua rencana licik gue buyar seketika  setelah gue ingat kalau gue kemarin beli Novel Duet terbitan GagasMedia, berjudul : KÃLA KÃLÍ. Novel itu karangan dari dua penulis ternama *katanya, sih, gue nggak kenal* GagasMedia, yaitu Mbak Windy Ariestanty dan Mas Valiant Budi Yoga. Iiih, nama mereka keren-keren abis ya, nggak kaya nama depan gue yang kampungan, Nur, iiyuuh. Tangan gue yang jail dan gak bisa diajak kompromi ini lalu dengan gatelnya membuka tas yang kemaren gue pakai buat pergi ke bookstore dan mulai mengambil Novel yang terbungkus dengan rapi oleh plastik berwarna bening itu. Tangan super jail gue pun mulai mengubek-ngubek plastik itu. Gue udah nggak tahan lagi (sambil melototin mata kuat-kuat) dan gue udah sangat, sangat nggak sabar pengen ngebuka buku itu.

            Rasanya membuka sebuah buku/ novel baru yang masih terbungkus plastik adalah sensasi luar biasa *PenuhPercikanApi* yang nggak bisa terlukis, tercoret apalagi tergambar oleh kata-kata, rasanya SUUEENEENG BANGET, ngalahin rasa seneng gue abis makan ice cream *hanya seneng sesaat*.  Gue langsung memeluk, mencium bahkan menimang-nimang buku itu, saking gembiranya. Gue rasa Cover dari Novel KÃLA KÃLÍ ini udah dirancang sedemikian gimana gitu, hingga menghasilkan sebuah cover yang sangat indah dan spektakuler, WIDIHH, ––yang bikin cover langsung jumpalitan. Gue suka aroma buku yang habis dibuka dan sensasi saat membuka buku baru –ini pasti dialami juga oleh orang lain, yang suka membaca tentunya.

            Ni ya, bagi yang penasaran sama Novel Duet yang satu ini, gue kasih keterangan bukunya sama kalian semua (secara gratis, tentunya) :

 

 

REVIEW BUKU  :

©         Judul                         :           KÃLA KÃLÍ

©         Penulis                      :           Valiant Budi , Windy Ariestanty

©         Penerbit                     :           GagasMedia (Jakarta Selatan)

©         Editor                        :           Gita Romadhona

©         Proofreader               :           Alis Tisna Palupi

©         Penata Letak             :           Wahyu Suwarni, Dian Novitasari

©         Desain Sampul          :           Dwi Annisssa Anindhika

©         Photo Credit             :           Nanda Lubis, Taufik Imansyah, Windy Ariestanty

©         Tahun                        :           2012, Cetakan Pertama (Cet. 1)

©         Jumlah halaman        :           viii + 332 hlm; 13 x 19 cm

©         ISBN                                    :           979-780-581-6

 

                 Segini dulu ya REVIEW-nya (maaf, kalo agak nipu). Nanti deh gue kasih sinopsis versi gue sendiri *janji*, soalnya gue belom kelar ngebaca novel ini. So, See You Next Time… hehehehe.

******************************************************************************

 

Diposkan pada dailynotesyanti

Biografi (Lengkap) BJ Habibie : Bapak Teknologi dan Demokrasi Indonesia

Masa Muda

Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie atau dikenal sebagai BJ Habibie (73 tahun) merupakan pria Pare-Pare (Sulawesi Selatan) kelahiran 25 Juni 1936. Habibie menjadi Presiden ke-3 Indonesia selama 1.4 tahun dan 2 bulan menjadi Wakil Presiden RI ke-7. Habibie merupakan “blaster” antara orang Jawa [ibunya] dengan orang Makasar/Pare-Pare [ayahnya].

Foto : BJ Habibie

Foto : BJ Habibie

Dimasa kecil, Habibie telah menunjukkan kecerdasan dan semangat tinggi pada ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya Fisika. Selama enam bulan, ia kuliah di Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB), dan dilanjutkan ke Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule – Jerman pada 1955. Dengan dibiayai oleh ibunya,  R.A. Tuti Marini Puspowardoyo, Habibie muda menghabiskan 10 tahun untuk menyelesaikan studi S-1 hingga S-3 di Aachen-Jerman.

Berbeda dengan rata-rata mahasiswa Indonesia yang mendapat beasiswa di luar negeri, kuliah Habibie (terutama S-1 dan S-2) dibiayai langsung oleh Ibunya yang melakukan usaha catering dan indekost di Bandung setelah ditinggal pergi suaminya (ayah Habibie). Habibie mengeluti bidang Desain dan Konstruksi Pesawat di Fakultas Teknik Mesin. Selama lima tahun studi di Jerman akhirnya Habibie memperoleh gelar Dilpom-Ingenenieur atau diploma teknik (catatan : diploma teknik di Jerman umumnya disetarakan dengan gelar Master/S2 di negara lain) dengan predikat summa cum laude.

Pak Habibie melanjutkan program doktoral setelah menikahi teman SMA-nya, Ibu Hasri Ainun Besari pada tahun 1962. Bersama dengan istrinya tinggal di Jerman, Habibie harus bekerja untuk membiayai biaya kuliah sekaligus biaya rumah tangganya. Habibie mendalami bidang Desain dan Konstruksi Pesawat Terbang. Tahun 1965, Habibie menyelesaikan studi S-3 nya dan mendapat gelar Doktor Ingenieur (Doktor Teknik) dengan  indeks prestasi summa cum laude.

Karir di Industri

Selama menjadi mahasiswa tingkat doktoral, BJ Habibie sudah mulai bekerja untuk menghidupi keluarganya dan biaya studinya. Setelah lulus, BJ Habibie bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm  atau MBB Hamburg (1965-1969 sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan pada Analisis Struktrur Pesawat Terbang, dan kemudian menjabat Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada industri pesawat terbang komersial dan militer di MBB (1969-1973). Atas kinerja dan kebriliannya, 4 tahun kemudian, ia dipercaya sebagai Vice President sekaligus Direktur Teknologi di MBB periode 1973-1978 serta menjadi Penasihast Senior bidang teknologi untuk Dewan Direktur MBB (1978 ). Dialah menjadi satu-satunya orang Asia yang berhasil menduduki jabatan nomor dua di perusahaan pesawat terbang Jerman ini.

Sebelum memasuki usia 40 tahun, karir Habibie sudah sangat cemerlang, terutama dalam desain dan konstruksi pesawat terbang. Habibie menjadi “permata” di negeri Jerman dan iapun mendapat “kedudukan terhormat”, baik secara materi maupun intelektualitas oleh orang Jerman. Selama bekerja di MBB Jerman, Habibie menyumbang berbagai hasil penelitian dan sejumlah teori untuk ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang Thermodinamika, Konstruksi dan Aerodinamika. Beberapa rumusan teorinya dikenal dalam dunia pesawat terbang seperti “Habibie Factor“, “Habibie Theorem” dan “Habibie Method“.

Kembali ke Indonesia

Pada tahun 1968, BJ Habibie telah mengundang sejumlah insinyur  untuk bekerja di industri pesawat terbang Jerman. Sekitar 40 insinyur Indonesia akhirnya dapat bekerja di MBB atas rekomendasi Pak Habibie. Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan skill dan pengalaman (SDM) insinyur Indonesia untuk suatu saat bisa kembali ke Indonesia dan membuat produk industri dirgantara (dan kemudian maritim dan darat). Dan ketika (Alm) Presiden Soeharto mengirim Ibnu Sutowo ke Jerman untuk menemui seraya membujuk Habibie pulang ke Indonesia, BJ Habibie langsung bersedia dan melepaskan jabatan, posisi dan prestise tinggi di Jerman. Hal ini dilakukan BJ Habibie demi memberi sumbangsih ilmu dan teknologi pada bangsa ini. Pada 1974 di usia 38 tahun, BJ Habibie pulang ke tanah air.  Iapun diangkat menjadi penasihat pemerintah (langsung dibawah Presiden) di bidang teknologi pesawat terbang dan teknologi tinggi hingga tahun 1978. Meskipun demikian dari tahun 1974-1978, Habibie masih sering pulang pergi ke Jerman karena masih menjabat sebagai Vice Presiden dan Direktur Teknologi di MBB.

Habibie mulai benar-benar fokus setelah ia melepaskan jabatan tingginya di Perusahaan Pesawat Jerman MBB pada  1978. Dan sejak itu, dari tahun 1978 hingga 1997, ia diangkat menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus merangkap sebagai Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Disamping itu Habibie juga diangkat sebagai Ketua Dewan Riset Nasional dan berbagai jabatan lainnya.

Pesawat CN-235 milik Angkatan Udara Turki
Pesawat CN-235 karya IPTN milik AU Spanyol

Ketika menjadi Menristek, Habibie mengimplementasikan visinya yakni membawa Indonesia menjadi negara industri berteknologi tinggi. Ia mendorong adanya lompatan dalam strategi pembangunan yakni melompat dari agraris langsung menuju negara industri maju. Visinya yang langsung membawa Indonesia menjadi negara Industri mendapat pertentangan dari berbagai pihak, baik dalam maupun luar negeri yang menghendaki pembangunan secara bertahap yang dimulai dari fokus investasi di bidang pertanian. Namun, Habibie memiliki keyakinan kokoh akan visinya, dan ada satu “quote” yang terkenal dari Habibie yakni :

I have some figures which compare the cost of one kilo of airplane compared to one kilo of rice. One kilo of airplane costs thirty thousand US dollars and one kilo of rice is seven cents. And if you want to pay for your one kilo of high-tech products with a kilo of rice, I don’t think we have enough.” (Sumber : BBC: BJ Habibie Profile -1998.)

Kalimat diatas merupakan senjata Habibie untuk berdebat dengan lawan politiknya. Habibie ingin menjelaskan mengapa industri berteknologi itu sangat penting. Dan ia membandingkan harga produk dari industri high-tech (teknologi tinggi) dengan hasil pertanian. Ia menunjukkan data bahwa harga 1 kg pesawat terbang adalah USD 30.000 dan 1 kg beras adalah 7 sen (USD 0,07). Artinya 1 kg pesawat terbang hampir setara dengan 450 ton beras. Jadi dengan membuat 1 buah pesawat dengan massa 10 ton, maka akan diperoleh beras 4,5 juta ton beras.

Pola pikir Pak Habibie disambut dengan baik oleh Pak Harto.Pres. Soeharto pun bersedia menggangarkan dana ekstra dari APBN untuk pengembangan proyek teknologi Habibie. Dan pada tahun 1989, Suharto memberikan “kekuasan” lebih pada Habibie dengan memberikan kepercayaan Habibie untuk memimpin industri-industri strategis seperti Pindad, PAL, dan PT IPTN.

Habibie menjadi RI-1

 

Secara materi, Habibie sudah sangat mapan ketika ia bekerja di perusahaan MBB Jerman. Selain mapan, Habibie memiliki jabatan yang sangat strategis yakni Vice President sekaligus Senior Advicer di perusahaan  high-tech Jerman. Sehingga Habibie terjun ke pemerintahan bukan karena mencari uang ataupun kekuasaan semata, tapi lebih pada perasaan “terima kasih” kepada negara dan bangsa Indonesia dan juga kepada kedua orang tuanya. Sikap serupa pun ditunjukkan oleh Kwik Kian Gie, yakni setelah menjadi orang kaya dan makmur dahulu, lalu Kwik pensiun dari bisnisnya dan baru terjun ke dunia politik. Bukan sebaliknya, yang banyak dilakukan oleh para politisi saat ini  yang menjadi politisi demi mencari kekayaan/popularitas sehingga tidak heran praktik korupsi menjamur.

Tiga tahun setelah kepulangan ke Indonesia, Habibie (usia 41 tahun) mendapat gelar Profesor Teknik dari ITB. Selama 20 tahun menjadi Menristek, akhirnya pada tanggal 11 Maret 1998, Habibie terpilih sebagai Wakil Presiden RI ke-7 melalui Sidang Umum MPR. Di masa itulah krisis ekonomi (krismon) melanda kawasan Asia termasuk Indonesia. Nilai tukar rupiah terjun bebas dari Rp 2.000 per dolar AS menjadi Rp 12.000-an per dolar. Utang luar negeri  jatuh tempo sehinga membengkak akibat depresiasi rupiah. Hal ini diperbarah oleh perbankan swasta yang mengalami kesulitan likuiditas. Inflasi meroket diatas 50%, dan pengangguran mulai terjadi dimana-mana.

Pada saat bersamaan, kebencian masyarakat memuncak dengan sistem orde baru yang sarat Korupsi, Kolusi, Nepotisme yang dilakukan oleh kroni-kroni Soeharto (pejabat, politisi, konglomerat). Selain KKN, pemerintahan Soeharto tergolong otoriter, yang  menangkap aktivis dan mahasiswa vokal.

Dipicu penembakan 4 orang mahasiswa (Tragedi Trisakti) pada 12 Mei 1998, meletuslah kemarahan masyarakat terutama kalangan aktivis dan mahasiswa pada pemerintah Orba. Pergerakan mahasiswa, aktivis, dan segenap masyarakat pada 12-14 Mei 1998 menjadi momentum pergantian rezim Orde Baru pimpinan Pak Hato. Dan pada 21 Mei 1998, Presiden Soeharto terpaksa mundur dari jabatan Presiden yang dipegangnya selama lebih kurang 32 tahun. Selama 32 tahun itulah, pemerintahan otoriter dan sarat KKN tumbuh sumbur. Selama 32 tahun itu pula, banyak kebenaran yang dibungkam. Mulai dari pergantian Pemerintah Soekarno (dan pengasingan Pres Soekarno), G30S-PKI, Supersemar, hingga dugaan konspirasi Soeharto dengan pihak Amerika dan sekutunya yang mengeruk sumber kekayaan alam oleh kaum-kaum kapitalis dibawah bendera korpotokrasi (termasuk CIA, Bank Duni, IMF dan konglomerasi).

Soeharto mundur, maka Wakilnya yakni BJ Habibie pun diangkat menjadi Presiden RI ke-3 berdasarkan pasal 8 UUD 1945. Namun, masa jabatannya sebagai presiden hanya bertahan selama 512 hari. Meski sangat singkat, kepemimpinan Presiden Habibie mampu membawa bangsa Indonesia dari jurang kehancuran akibat krisis. Presiden Habibie berhasil memimpin negara keluar dari dalam keadaan ultra-krisis, melaksanankan transisi dari negara otorian menjadi demokrasi. Sukses melaksanakan pemilu 1999 dengan multi parti (48 partai), sukses membawa perubahan signifikn pada stabilitas, demokratisasi dan reformasi di Indonesia.

Habibie merupakan presiden RI pertama yang menerima banyak penghargaan terutama di bidang IPTEK baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Jasa-jasanya dalam bidang teknologi pesawat terbang mengantarkan beliau mendapat gelar Doktor Kehormatan (Doctor of Honoris Causa) dari berbagaai Universitas terkemuka dunia, antara lain Cranfield Institute of Technology dan Chungbuk University.

Catatan-Catatan Istimewa BJ Habibie

Habibie Bertemu Soeharto

Laksanakan saja tugasmu dengan baik, saya doakan agar Habibie selalu dilindungi Allah SWT dalam melaksanakan tugas. Kita nanti bertemu secara bathin saja“, lanjut Pak Harto menolak bertemu dengan Habibie pada pembicaraan via telepon pada 9 Juni 1998.

(Habibie : Detik-Detik yang Menentukan. Halaman 293)

Salah satu pertanyaan umum dan masih banyak orang tidak mengetahui adalah bagaimana Habibie yang tinggal di Pulau Celebes bisa bertemu dan akrab dengan Soeharto yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Pulau Jawa?

Pertemuan pertama kali Habibie dengan Soeharto terjadi pada tahun 1950 ketika Habibie berumur 14 tahun. Pada saat itu, Soeharto (Letnan Kolonel) datang ke Makasar dalam rangka memerangi pemberontakan/separatis di Indonesia Timur pada masa pemerintah Soekarno. Letkol Soeharto tinggal berseberangan dengan rumah keluarga Alwi Abdul Jalil Habibie. Karena ibunda Habibie merupakan orang Jawa, maka Soeharto pun (orang Jawa) diterima sangat baik oleh keluarga Habibie. Bahkan,  Soeharto turut hadir ketika ayahanda Habibie meninggal. Selain itu, Soeharto pun menjadi “mak comblang” pernikahan adik Habibie dengan anak buah (prajurit) Letkol Soeharto. Kedekatan Soeharto-Habibie terus berlanjut meskipun Soeharto telah kembali ke Pulau Jawa setelah berhasil memberantas pemberontakan di Indonesia Timur.

Setelah Habibie menyelesaikan studi (sekitar 10 tahun) dan bekerja selama hampir selama 9 tahun (total 19 tahun di Jerman), akhirnya Habibie dipanggil pulang ke tanah air oleh Pak Harto.  Meskipun ia tidak mendapat beasiswa studi ke Jerman dari pemerintah, pak Habibie tetap bersedia pulang untuk mengabdi kepada negara, terlebih permintaan tersebut berasal dari Pak Harto yang notabene adalah ‘seorang guru’ bagi Habibie. Habibie pun memutuskan kembali ke Indonesia untuk memberi ilmu kepada rakyat Indonesia, kembali untuk membangun industri teknologi tinggi di nusantara.

Bersama Ibnu Sutowo, Habibie kembali ke Indonesia dan bertemu dengan Presiden Soeharto pada tanggal 28 Januari 1974. Habibie mengusulkan beberapa gagasan pembangunan seperti berikut:

  • Gagasan pembangunan industri pesawat terbang nusantara sebagai ujung tombak industri strategis
  • Gagasan pembentukan Pusat Penelitan dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek)
  • Gagasan mengenai Badan Pengkajian dan Penerapan Ilmu Teknologi (BPPT)

Gagasan-gagasan awal Habibie menjadi masukan bagi Soeharto, dan mulai terwujud ketika Habibie menjabat sebagai Menristek periode 1978-1998.

Namun, dimasa tuanya, hubungan Habibie-Soeharto tampaknya retak. Hal ini dikarenakan berbagai kebijakan Habibie yang disinyalir “mempermalukan” Pak Harto. Pemecatan Letjen (Purn) Prabowo Subianto dari jabatan Kostrad karena  memobilisasi pasukan kostrad menuju Jakarta (Istana dan Kuningan) tanpa koordinasi atasan merupakan salah satu kebijakan yang ‘menyakitkan’ pak Harto. Padahal Prabowo merupakan menantu kesayangan Pak Harto yang telah dididik dan dibina menjadi penerus Soeharto. Pemeriksaan Tommy Soeharto sebagai tersangka korupsi turut membuat Pak Harto ‘gerah’ dengan kebijakan pemerintahan BJ Habibe, terlebih dalam beberapa kali kesempatan di media massa,  BJ Habibie  memberi lampu hijau untuk memeriksa Pak Harto. Padahal Tommy Soeharto merupakan putra “emas’ Pak Harto. Dan sekian banyak kebijakan berlawanan dengan pemerintah Soeharto dibidang pers, politik, hukum hingga pembebasan tanpa syarat tahanan politik Soeharto seperti Sri Bintang Pamungkas dan Mukhtar Pakpahan.

Habibie : Bapak Teknologi Indonesia*

Pemikiran-pemikiran Habibie yang “high-tech” mendapat “hati” pak Harto. Bisa dikatakan bahwa Soeharto mengagumi pemikiran Habibie, sehingga pemikirannya dengan mudah disetujui pak Harto. Pak Harto pun setuju menganggarkan “dana ekstra” untuk mengembangkan ide Habibie. Kemudahan akses serta kedekatan Soeharto-Habibie dianggap oleh berbagai pihak sebagai bentuk kolusi Habibie-Soeharto. Apalagi, beberapa pihak tidak setuju dengan pola pikir Habibie mengingat pemerintah Soeharto mau menghabiskan dana yang besar untuk pengembangan industri-industri teknologi tinggi seperti saran Habibie.

Tanggal 26 April 1976, Habibie mendirikan PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio dan menjadi industri pesawat terbang pertama di Kawasan Asia Tenggara (catatan : Nurtanio meruapakan Bapak Perintis Industri Pesawat Indonesia). Industri Pesawat Terbang Nurtanio kemudian berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada 11 Oktober 1985, kemudian direkstrurisasi, menjadi Dirgantara Indonesia (PT DI) pada Agustuts 2000. Perlakuan istimewapun dialami oleh industri strategis lainnya seperti PT PAL dan PT PINDAD.

Sejak pendirian industri-industri statregis negara, tiap tahun pemerintah Soeharto menganggarkan dana APBN yang relatif besar untuk mengembangkan industri teknologi tinggi.  Dan anggaran dengan angka yang sangat besar dikeluarkan sejak 1989 dimana Habibie memimpin industri-industri strategis. Namun, Habibie memiliki alasan logis yakni untuk memulai industri berteknologi tinggi, tentu membutuhkan investasi yang besar dengan jangka waktu yang lama. Hasilnya tidak mungkin dirasakan langsung. Tanam pohon durian saja butuh 10 tahun untuk memanen, apalagi industri teknologi tinggi. Oleh karena itu, selama bertahun-tahun industri strategis ala Habibie masih belum menunjukan hasil dan akibatnya negara terus membiayai biaya operasi industri-industri strategis yang cukup besar.

Industri-industri strategis ala Habibie (IPTN, Pindad, PAL) pada akhirnya memberikan hasil seperti pesawat terbang, helikopter, senjata, kemampuan pelatihan dan jasa pemeliharaan (maintenance service) untuk mesin-mesin pesawat, amunisi, kapal, tank, panser, senapan kaliber,  water canon, kendaraan RPP-M, kendaraan combat dan masih banyak lagi baik untuk keperluan sipil maupun militer.

Untuk skala internasional, BJ Habibie terlibat dalam berbagai proyek desain dan konstruksi pesawat terbang seperti Fokker F 28, Transall C-130 (militer transport), Hansa Jet 320 (jet eksekutif), Air Bus A-300, pesawat transport DO-31 (pesawat dangn teknologi mendarat dan lepas landas secara vertikal), CN-235, dan CN-250 (pesawat dengan teknologi fly-by-wire). Selain itu, Habibie secara tidak langsung ikut terlibat dalam proyek perhitungan dan desain Helikopter Jenis BO-105, pesawat tempur multi function, beberapa peluru kendali dan satelit.

Panser 6x6 Buatan Pindad

Karena pola pikirnya tersebut, maka saya menganggap beliau sebagai bapak teknologi Indonesia, terlepaskan seberapa besar kesuksesan industri strategis ala Habibie. Karena kita tahu bahwa pada tahun 1992, IMF menginstruksikan kepada Soeharto agar tidak memberikan dana operasi kepada IPTN, sehingga pada saat itu IPTN mulai memasuki kondisi kritis. Hal ini dikarenakan rencana Habibie membuat satelit sendiri (catatan : tahun 1970-an Indonesia merupakan negara terbesar ke-2 pemakaian satelit), pesawat sendiri, serta peralatan militer sendiri. Hal ini didukung dengan 40 0rang tenaga ahli Indonesia yang memiliki pengalaman kerja di perusahaan pembuat satelit Hughes Amerika akan ditarik pulang ke Indonesia untuk mengembangkan industri teknologi tinggi di Indonesia. Jika hal ini terwujud, maka ini akan mengancam industri teknologi Amerika (mengurangi pangsa pasar) sekaligus kekhawatiran kemampuan teknologi tinggi dan militer Indonesia.

 

Sumber : http://nusantaranews.wordpress.com/2009/04/02/biografi-bj-habibie-bapak-teknologi-dan-demokrasi-indonesia/

Diposkan pada dailynotesyanti

HUJAN.. OH… GOD…

    Hari ini hujan, aduh kenapa musti hujan lagi sih, ini sudah tiga hari berturut-turut dan gue ngga bisa nyuci, aduh. Hari ini gue sama Riri Riri bpergi buat ikutan senam ceria dan unfortunately kami ngga beruntung, ngga ada orang di tempat pendaftaran itu dan kami pulang dengan tangan hampa ditambah kehujanan pula, aduh Siallll.

Diposkan pada dailynotesyanti

ABOUT BLOG ‘PART 2’

sudah berapa lama gue nge-blog, kalau gue hitung-hitung mungkin sudah 9 bulan (bentar lagi mau beranak). Dan waktu sembilan bulan itu bagi gue adalah waktu yang cukup lama, gue nggak pernah punya blog selama ini sebelumnya, karena setiap kali gue bikin blog, gue nggak pernah bisa lama-lama mengingat pasword blog gue dikarenakan gue jarang buka internet. Tapi untuk yang sekarang, gue mau setia sama blog yantinurhida.wordpress.com ini, karena gue ngerasa perjuangan gue berulang kali bahkan hampir ratusan kali ke warnet, serta uang yang gue habiskan untuk ke warnet nggak boleh terbuang sia-sia, termasuk waktu berharga yang gue buang demi membuat postingan-postingan lucu atau tentang hal-hal pribadi gue. Mungkin bagi blogger yang lain, gue masih di anggap amatiran, blogger kacangan atau apa lah, terserah mereka, namun bagi gue, gue bangga sama diri gue sendiri dan meskipun blog gue belum membuahkan prestasi apa-apa bahkan sekedar uang receh, gue nggak kecewa kok, yang gue lakukan ini berasal dari passion gue, dan gue enjoy dengan ini.

************************************ dailynotes at 15 Jnauari 2013**********************************