Posted in dailynotesyanti

PERJALANAN PENUH KESESATAN

PERJALANAN PENUH KESESATAN

Daily notes at : 23 Desember 2012 (Cloudy Sunday)

              Asalamualaikum…

              Eh, BTW yang lagi baca tulisan ini apalagi judul yang gue tulis gede-gede di atas jangan langsung negatif thinking ya sama gue. Gue bukan orang yang SESAT, sekali lagi BUKAN. Gue cuma orang yang suka bikin orang lain tersesat dan suka tersesat sendiri kalo lagi di jalan.

              Hari itu, Minggu, 23 Desember 2012, tepat sebelum tanggal merah, libur natal, gue –seperti biasa, like always– pergi jalan-jalan sama Riri. Tujuan awal kami adalah sejenis wahana bermain air gitu, namanya Aquatika, tapi karena ngga punya referensi yang jelas mengenai alamat pasti tempat itu, kami jadi membatalkan niat ke wahana air Aquatika itu. Gue dengan mengumpulkan segala kesotoyan gue yang cukup memadai akhirnya mengusulkan untuk pergi ke sebuah tempat yang sejenis dengan Aquatika, namanya MUSTIKA DUFAN, wahana bermain air juga. Gue udah bangga setengah ko’id karena udah berhasil mengusulkan tempat yang kedengerannya keren itu. Gue akhirnya dengan sengaja memotong koran yang tergeletak di meja ruang tamu Riri–tanpa sepengetahuan Riri tentunya– dan potongan koran itu berisi apa saja fasilitas  yang ditawarkan serta alamat lengkap tempat yang gue usulkan. Riri aja sampai tercengang dan melongo ngeliat gue membawa guntingan koran itu, dia pikir gue sengaja membawanya dari rumah–padahal dia ngga tahu aja, hehe–, dasar Riri. Nanti pas dia lihat salah satu korannya bolong, baru deh dia tau rasa. Licik ya gue? ah, biarin, sekali-kali.

              Akhirnya gue dan Riri berangkat sambil bersiul-siul riang di jalan. Riri gue suruh memegang erat guntingan koran itu, jangan sampai lepas, karena itu satu-satunya petunjuk kami. Tanpa itu, kami jadi seperti anak ayam kehilangan induk atau serigala berbulu domba, nah lo!

              Gue udah membaca baik-baik guntingan koran itu bahkan udah memperhitungkan budget minimal yang akan kami keluarkan nanti, karena disana tertulis harga tiket : Rp 40.000 hari libur dan Rp 25.000 hari kerja. Bahkan gue dan Riri, kami berdua udah menyunggingkan senyum terbaik kami untuk menyambut ini semua. Orang-orang yang  berpapasan sama kami di jalan pasti langsung mengira kami pasangan sejenis yang udah GILA. Enak aja, kalian salah tau! yang bener itu kami sepasang sahabat yang lagi BERBAHAGIA.

              Sudah sekitar satu jam gue dan Riri muter-muter bahkan sampai speedometer gue gerak-gerak ngga karuan dan bensin gue sekarat. Akhirnya kami nyari tukang bensin terdekat sembari bertanya alamat kepada sang penjual bensin, jadinya sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Untunglah sang penjual bensin bisa memberi sedikit petunjuk dan gue puas sama hasilnya *udah kayak komentar orang abis masuk salon aja ya gue?*. Kami beberapa kali putar-putar sampai gue dan Riri pusing, Riri lalu ngasih tau gue arah yang benar, akhirnya gue bisa ngelanjutin perjalanan lagi dan menghilangkan pusing gue. Dasar Riri, kalo dia tau, kenapa ngga bilang dari tadi, ya , kan? kalo tau gitu gue nggak bakal cape-capein mulut untuk bertanya sama pedagang bensin eceran, ya kan? hehe.

              Beberapa kali kami melewati jalan yang sepi dan menyeramkan karena ngga ada satupun kendaraan yang melintas, hingga akhirnya ada tanda panah dan menunjuk ke arah MUSTIKA DUFAN tersebut. Kami mengikuti arah petunjuk panah lalu setelah beberapa ratus meter, kami menemukan baliho atau poster dari tempat yang ada di koran, kami langsung seneng setengah mati, pengen loncat-loncat, bahkan sampai hampir gila. Ekspresi berlebihan ya. Jantung gue aja mau melonjak keluar dari tempatnya.

              Setelah kami susuri arah petunjuk poster tersebut yang kami dapati cuma truk-truk yang berjejer rapi dan jalan yang sepi minta ampun–udah kayak di kuburan. Kami berdua juga ngga ada nanya sama orang, bego ya?. Akhirnya gue putar balik sepeda motor dan balik ke arah kami menemukan baliho atau poster gede itu, kami jalan terus, terus dan terus, jalan yang kami lalui masih aja horor, gak kebayang kalo di jalan ini ada mobil/ motor orang yang rusak sementara disini ngga ada bengkel, semoga bukan gue. Kami tau kami udah tersesat. Yups, harus gue akui, gue udah bikin kami berdua tersesat, akhirnya gue puter balik lagi dan keluar kembali ke arah truk yang berjeret dengan rapi.

              Disana ada beberapa warung indomie yang buka, lalu inisiatif gue pun muncul. Kami mampir ke sebuah warung dan coba bertanya. Apa yang kami dapati? Kami malah mendapati beberapa gadis belia dan ada yang seusia kami lagi dandan di dalam dan keliatan lagi masang bulu mata palsu. Kami udah panggil-panggil itu cewek tukang warung, tapi dia malah pura-pura budek atau lagi kesulitan masang bulu mata palsu. Akhirnya setelah suara kami serak, karena terlalu lama teriak-teriak, itu cewek mau keluar juga dari persembunyiannya. Apa yang kami lihat? Gadis belia itu memakai tank top dan hot pants jeans yang amat sangat pendek, Ya ampun, astaghfirullahal adzim, kalo cowok melihat apa yang kami lihat, mereka pasti bakal ngenetesin air liur sebanyak-banyaknya, tapi nggak, kami cewek normal yang tulen, kami malah jadi malu sendiri bahkan sama diri kami, kami paling terlihat aneh disini, penampilan kami sangat jauh beda sama cewek-cewek yang menghuni warung-warung ini. Kesotoyan gue langsung bertanya-tanya dalam hati kecil gue, “Ni cewek mau jual indomie, minuman atau apa…?” Ah, gue kesini kan mau nanya, bukannya mau negatif thinking atau sok tau sama orang. Akhirnya, ngga ada yang kami dapatkan. Nihil. Malahan kami dapat tatapan sinis dari cewek-cewek yang berjualan itu.. Peduli amat, amat aja ngga peduli sama gue, hehe.

              Ini hal yang sangat aneh, kami bertanya tapi ngga satupun yang bisa menjawab. Semua orang yang kami tanya malah mengerutkan dahinya kuat-kuat sambil menggeleng dan bilang : “Nggak tahu, apa itu?”

              Bahkan orang – orang itu nggak tahu yang kami tanya  apakah nama orang, benda, makanan atau apa, padahal itu adalah nama wahana tempat rekreasi keluarga dan itu berada  ngga lebih lima ratus meter dari tempat mereka berada. Kami menyerah, kami akan segera ngacir dari tempat ini lalu pergi tanpa rasa bersalah dan menganggap apa yang kami lihat tadi nggak pernah terjadi. Sumpah, baru satu kali gue melihat tempat yang lebih mirip tempat lokalisasi daripada warung Indomie. Sumpah, gue nggak mau lagi lewat jalan itu –ngga tau deh kalo Riri. Gue takut sesat beneran. Iiy, serem.

              Dengan rasa marah, sedih, bingung, galau, panik, gugup, sama takut bercampur bersamaan gue akhirnya mengajak Riri untuk pergi ke tempat lain aja. Riri bilang dia tau ada waterboom lain dan letaknya lebih jauh dari situ, gue langsung mengangguk setuju. Pencarian terhadap Mustika Dufan membuat gue hampir gila dan linglung, bahkan semangat gue jadi luntur gara-gara ngeliat kejadian tadi. Akhirnya setelah satu jam mengendarai motor dengan Riri nebeng di belakang gue, kami berhasil dengan selamat menemukan tempat yang Riri maksud. Sesampainya di sana, gue langsung merobek-robek dengan kesal potongan koran yang gue gunting di rumah Riri, lalu gue kepal, injek-injek dan gue buang ke tempat sampah terdekat–karena gue cinta sama lingkungan hidup. Ini jadi pelajaran berharga buat kami *loe aja kali, Yan* agar ngga pergi sembarangan lagi  tanpa tahu secara pasti tempat yang ingin kami tuju. Gue ngga mau kalau kejadian tersesat ini terulang sampai kedua apalagi ketiga kalinya, jera gue, mana buang-buang waktu.

              Kekesalan gue terbayarkan dengan main air sepuasnya di Waterboom yang Riri maksud, Waterboom Pesona Modern namanya. Meskipun gue nggak bisa berenang dan cuma pakai pelampung kayak anak balita, gue seneng karena akhirnya gue punya keberanian untuk masuk kolam air, karena ini pengalaman pertama gue. Gue nggak pernah dan nggak bisa berenang sebelumnya. Akhirnya Riri yang lagi ‘dapet’ cuma bisa memandangi dengan lesu  gue yang keasyikan *sampai mulut gue biru, kedinginan* di dalam air yang penuh tawas dan kaporit. Gue sebenernya kasian juga sama Riri, kasian banget,  dan ngga berharap ini terjadi, gue juga ngga tau kalo dia lagi ‘dapet’ karena dia ngga bilang ke gue sebelumnya. Gue pikir Riri udah salah menyetujui rencana untuk jalan-jalan ke wahana air, sedangkan dia lagi nggak bisa nyebur di air. Akhirnya karena kasihan ngelihat Riri yang ngga ada kerjaan, gue malah nyuruh-nyuruh dia nahanin pelampung yang mau gue naikin, hehe.

              Sepulang dari Waterboom, Riri minta gue untuk membawa dia menuju sebuah danau wisata dan gue menuruti kemauannya soalnya tadi gue kasian karena dia nggak bisa ngapa-ngapain di Waterboom. Sebenernya gue sempet ngajakin Riri naik flying fox di sana , tapi dia ngga mau, katanya dia takut ketinggian dan menggantungkan diri pada seutas tali, dan gue pun ngga naik juga, selain karena unsur solidaritas juga karena gue kaget setelah melihat harga tiketnya yang tiga puluh ribu rupiah. Wow!

              Sampai di Danau Wisata itu, kami berdua jadi orang paling narsiiis sedunia, bayangin! hampir lima puluh kali kami ngejepret – jepret disana, mengabadikan keeksotisan wajah kami yang ayu nan indah ini –Gubrakk, kaca pecah–. Bahkan karena saking narsisnya memoto diri sendiri, kami sampai ditertawakan sama bapak-bapak nelayan yang lagi naik kapal, bahkan angsa-angsa di danau ikut menertawakan tingkah absurd kami dengan mengatakan “Wkwkwkwkwkwkwkwk…..wkwkwkwk”, gue yakin tuh angsa puas banget ngetawain kami. Rasanya pengen gue potong terus gue bikin gulai tuh angsa sialan.

              Dan setelah perjalanan yang melelahkan dan terlama dalam hidup gue bahkan sampai hampir seharian itu, gue mengambil hikmah penting yaitu “Jangan Sembarangan Percaya Sama Iklan dan Jangan Menggunting Koran Milik Orang Lain tanpa Ijin” ” dan “Jangan Mudah Tersesat Di Jalan”, Juga “Bertanyalah Pada Orang Yang Kompeten Dalam Menjawab Pertanyaan Kita”. Itulah beberapa hikmah yang gue petik dari PERJALANAN YANG MENYESATKAN ini. Sekian.

              Tidak lama setelah gue jalan sama Riri waktu itu, gue ngga sengaja menyalakan TV dan menonton sebuah iklan di TV lokal, dan yang sangat mengejutkan iklan itu adalah iklan tentang ‘MUSTIKA DUFAN’, gue langsung shock, pantesan aja tempat yang kami tuju terlihat ‘FIKTIF’ hal itu dikarenakan MUSTIKA DUFAN belum launching alias belum dibuka dan baru dibuka pada awal Januari 2013 nanti. Aduh, rupanya gue udah salah, gara-gara nggak teliti baca iklannya jadi tersesat deh dan pantas semua orang yang kami tanyai bingung dan bilang ngga tau, tempatnya aja belum buka. Ngga lama kemudian, Riri sms gue:

              “Yan, pantas aja Mustika Dufannnya ngga ada kita cari-cari, barusan gue liat koran dan di situ tertulis bahwa tempat itu baru launching Januari 2013 nanti.” Tulis Riri di sms.

              “Iya, Ri. Gue tau, gue udah salah. “ Jawab gue sambil masang muka pasrah.

              Iya gue tau, gue dodol, gue yang salah, ma’afin gue ya yang udah bikin kita berdua salah jalan alias tersesat. Gue janji deh ngga bakal ngulangin lagi, hehehe. JJJJJ

 

*******************************************

 

 

Penulis:

Yantinurhida lahir pada tanggal 17 Nopember. Dia anak pertama. memiliki 1 adik laki2 yang sekarang sudah kelas XI SMA. sedang dalam pencarian pekerjaan yang membuatnya merasa menemukan passion-nya. Hobinya adalah menulis, membaca, bermimpi, menggambar, menyanyi asal , nonton film, nonton acara sport, main game dan menonton Running Man. Motto : Selalu OPTIMIS dan pantang menyerah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s