Posted in dailynotesyanti

#MENYUKAI DIAM-DIAM DENGAN HASIL DIPANGGIL ‘MBAK’

#MENYUKAI DIAM-DIAM DAN DIPANGGIL ‘MBAK’
Write at : 16 Pebruari 2013

By : Yanti Nurhida

Pernahkah kamu menyukai seseorang secara diam – diam? atau jadi pengagum rahasia (Secret Admire) seseorang? Jawabannya bisa PERNAH atau NGGAK PERNAH. Kalo pertanyaan itu dilempar atau bahasa banjarnya ‘dihamput’ sama gue, gue jawab dengan jawaban ‘SERING SEKALI’. Baru-baru ini gue jadi pengagum rahasia seseorang, seorang cowok *pastinya cowok tulen*, berinisial huruf ‘E’, bukan ‘ee’ ya, sebut saja namanya Eza *cie,artis Eza Gionino kayaknya*. Si Eza ini awalnya gue kenal di koran, dia bukan pejabat, bukan Presiden apalagi tersangka pelaku kriminal yang sering muncul di surat kabar, salah, tapi dia adalah pengisi rutin rubrik opini di salah satu koran lokal di kota gue. Nah, tipe gue kan cowok yang smart dan ga bego gitu, udah dipastikan si Eza ini orangnya smart, banget, setiap opini yang dia tulis di Koran, sangat berpendidikan, cerdas dan sesuai sama tema yang dibahas. Gue langsung jatuh suka sama tulisan-tulisannya, belum orangnya. Di surat kabar lokal lain, gue mendapati, nama dia terpampang gede banget *lebih gede dari upil* di rubrik sastra, cerpennya terpilih masuk rubrik sastra, wah… ternyata dia nggak cuma cerdas secara akademis, tapi juga pandai bikin karya sastra kayak puisi dan cerpen, gue makin kagum.
Dari yang awalnya cuma tau namanya, lama-lama gue nyari nama dia di pencarian facebook, kalo beruntung, gue pasti bisa dapet alamat akun fb-nya, gue emang pengen tau lebih banyak tentang cowok ini. Yang gue liat di koran sih, fotonya ganteng, berwibawa, manis, cakep gitu *lebay*. Akhirnya setelah sepuluh menit ngutak-ngatik fb, gue dapet akun bernama sama seperti nama dia Muhammad Eza Zalfino *bukan nama sebenarnya*. Gue kesenengan setengah mati, sorak-sorak sambil bawa pom-pom dan make baju cheerleaders. Gue ngerasa udah menemukan emas berharga dari perut bumi, atau nemuin koin yang udah lama gue cari-cari, gue bahagia banget. Gue langsung mengirim permintaan pertemanan ke dia. Dan beberapa hari setelah itu, permintaan pertemanan gue diterima.
Beberapa bulan setelah itu, gue cuma berani nge-like, nge-like statusnya tanpa berani memberi komentar. Sungguh, isi status-status dia sangat berbobot dan nggak ada status 4L4y ditulisannya, dia selalu membahas tentang hadist nabi, hal-hal yang dia amati, kata-kata bijak, kejadian di kampusnya atau tentang hal-hal penting lain. Ngga ada masalah cinta atau curhat pribadi yang dia tulis, dan gue seneng sebagai pembaca setia statusnya. Padahal sebelumnya gue paling anti ngebaca status ngebosenin kayak gini, menurut gue terlalu ‘dewasa’ dan nggak ‘gaul,Man’.
Lama-kelamaan status yang dia tulis banyakan tentang usaha. Nah lo, apakah Eza ganteng ini udah banting setir ke dunia enterpreuner? Gue nggak tau. Dia bikin status tentang dagangan, tips biar usaha lancar, lalu produk-produk yang ditawarkan sama CV. Makmur Eza, kalo gue liat dari nama CV-nya sepertinya itu milik dia sendiri deh. Selidik punya selidik *GueKanDetektif* ternyata Eza sekarang jualan…. Terus gue harus bilang WOW getho?
Gue coba-coba antusias berkomentar di status dia tentang produk cokelat, selain karena gue penggemar makanan satu ini, gue juga pengen nyobain cokelat bikinan Eza, so cweet. Dia jawab komentar gue, gue langsung GR terus nanya harga cokelatnya berapa. Bayangin! Gue kayaknya udah gila cuma karena Eza menjawab komentar singkat gue, gue kan lagi ngga ngerencana’in beli cokelat, gue emang ada uang, tapi itu rencananya buat gue pake jalan-jalan bareng Riri sama buat beli sebuah buku inceran gue. Kata Eza “Harganya lima puluh ribu per toples”, gue jawab “Gue mau dong nyobain beli, satu toples”, kata Eza “Mau yang rasa apa, ada berbagai macam rasa : Cokelat-susu, melon, strawberi, blueberry, jeruk, cokelat-mint”. Gue jawab “Gue mau yang rasa Cokelat Mint”, dia bilang “Oke, siap diantar!”. Gak lama kemudian dia nambahin komentar “Mau beli buku juga nggak? Saya ada buku Kick Andy, harganya murah lho, cuma dua puluh delapan ribu aja :)”. Sial, gara-gara satu smiley🙂 di akhir tulisannya, gue kemakan rayuan buat beli buku itu dan akhirnya gue bilang : “Oke, boleh deh”. Jadinya gue beli kedua barang yang nggak tau bakal kemakan atau enggak, bakal kebaca atau enggak.
Kami tukeran nomor handphone, kata Eza biar komunikasi jadi lebih lancar, karena repot buka facebook melulu. Oke, gue malah seneng kalo di sms. Isi sms dia nggak jauh-jauh dari bisnis, dia muji-muji cokelat dia dan belakangan gue baru tau kalo itu bukan cokelat bikinan dia *DanGueKecewa*, itu cokelat produksi rumahan milik temannya, dia cuma sebagai distributornya aja. Hmm… gue masih ngga percaya, gue yakin itu cuma akal-akalan dia aja, pasti itu cokelat dia yang bikin, tapi dia nggak mau ngaku, ngerendah sama gue. Sebenarnya kalo punya keberanian ekstra gede, gue mau banget nanya, dia udah punya pacar apa belum, tapi kalo diliat-liat, gue terlalu lancang nanya kayak gitu buat cowok yang suka manggil gue ukhti. Dia orangnya alim banget, terlihat dari status yang sering dia update di facebook.
Hari Jum’at gue dan Eza janjian ketemuan, gue kecewa karena kata-kata dia di fb yang bilang “Oke, siap diantar” ternyata nggak sepenuhnya bener. Sekarang malah gue sebagai konsumen yang mesti nemuin dia, menyebalkan kan. Sebenarnya gue mau janjian hari Minggu, tapi dia nolak, mungkin dipikirnya gue mau ngajak dia kencan, padahal dia salah, hari Jum’at itu gue musti kerja, jadi waktunya agak mepet.
Gue sampai di tempat kami janjian, di depan minimarket. Huh, gue bingung kenapa musti disini, kenapa nggak di taman, rumah makan, atau kebun binatang aja sih. Sebenernya awalnya dia ngajak ketemuan di depan Rumah Sakit X, tapi gue nggak tau dimana Rumah Sakit itu, lalu dia mindahin lokasi ke SMK Y, tapi gue juga ngga tau tempatnya. Dia geleng-geleng heran, karena gue nggak tau alamat apapun yang dia kasih. Iya, gue mungkin adalah cewek yang paling nggak tau alamat sedunia. Akhirnya dipilihlah Minimarket Z dan untungnya gue tau dimana lokasinya, kami janjian disitu. Jam setengah delapan pagi, gue nunggu di depan Minimarket Z, gue sms-in Eza, dalam beberapa menit dia datang, pake sepeda motor butut tua, baju yang sudah mulai luntur warnanya, celana kain longgar berwarna cokelat dan tanpa helm, gue yakin rumahnya deket dari sini karena dia berani nggak pake helm. Penampilan dia sangat bersahaja, sederhana, jauh dari kesan glamour, atau lebih tepatnya ‘kayak orang susah’, hehe, ma’af ya Eza.
Dia melangkah mendekat, gue turun dari sepeda motor. Wajahnya itu, sangat…. berkilau, hehe. Iya, dia bercahaya banget, ciri-ciri orang yang rajin sholat, mukanya cerah bercahaya. Dia nundukkin pandangan, gue agak-agak malu nanya ke dia :
“Rumahnya deket dari sini ya?”
“Iya. Di Jalan Purnama, nggak jauh dari sini, coba aja kamu tau Rumah Sakit X, nah.. rumahku nggak jauh dari situ.”
“Ooh..” Ucap gue kikuk. “Cokelatnya kamu yang bikin kan?” Tanya gue.
“Kan udah dibilang, bukan, temen yang buat, aku cuma bantu jualin.” Eza masih nunduk, tapi mukanya masih bisa kelihatan kok, dan gue nggak segan natap langsung ke mukanya yang kece badai membahana itu.
“Ini cokelat sama bukunya, Mbak.” Ucapnya sambil menyerahkan sebuah kantong plastik berisi pesenan gue.
Gila! Dia manggil gue dengan sebutan ‘Mbak’? sebutan yang paling gue benci sedunia itu, kini disebutkan sama idola gue sendiri, gue langsung ilfeell. Gue paling sebel ada yang manggil gue Mbak, padahal gue tau kalau umurnya adalah 22 tahun, lebih tua setahun dari gue. Apa gue ini terlalu bermutu (bermuka tua) di hadapan Eza. Oh, gue bener-bener ilfeell. Gue benci sama Eza. Bagaimana mungkin ini terjadi, ah.. gue sebel.
“Jadinya semua berapa ?” Tanya gue tanpa basa-basi lagi.
“Cokelatnya lima puluh ribu, sama bukunya dua puluh delapan, jadinya tujuh puluh delapan ribu rupiah. Uangnya pas apa pake kembalian?”
Gue nengok uang di dompet, ada delapan puluh ribu disana.
“Pake kembalian.” Ucap gue sambil nyodorin uang, dia ngasih kembalian dua ribu perak dan uang uang kembalian yang dia kasih amat sangat lecek dan ada sobeknya, bikin gue tambah sebel.
“Makasih Mbak, silahkan di cek dulu buku sama cokelatnya.” Ucapnya kembali manggil gue Mbak, sambil senyum, sebel banget sih.
Gue liat isi kantong plastik, bukunya masih baru, utuh dan nggak cacat, cokelat satu toplesnya pun kelihatan enak dan cantik dipandang dari luar.
“Iya, udah lengkap kok.”
“Makasih ya Mbak, saya musti pulang dulu.”
“Iya. Makasih juga.”
Eza memalingkan sepeda motornya lalu berlalu begitu saja, tanpa menoleh lagi ke gue. Begitu aja. Nggak nyangka akhirnya cuma kayak gini, padahal di pikiran gue sebelum kesini sempat terlintas hal yang indah-indah, misalnya jabatan tangan, senyum manis, canda’an atau sedikit basa-basi dia, ternyata enggak, dia langsung to the point, nggak asik, dan nyebelin karena manggil gue ‘Mbak’. Pertemuan yang nggak gue harapkan. Semua khayalan gue langsung buyar, berganti dengan kekesalan dan penyesalan.
Seorang temen cowok, namanya Ical, nawarin gue ikut workshop kepenulisan, gue yang seneng belajar nulis, mengiyakan ajakan dia, tapi nggak langsung beli tiketnya. Gue sms ke Ical, menanyakan siapa yang mengadakan Workshop, ternyata Forum Kepenulisan X, dan gue tau siapa ketua dari Forum kepenulisan itu, dia bernama Muhammad Eza Zalfino, gue langsung ciut, tanpa bilang apa-apa ke Ical, gue batal beli tiketnya. Workshop kepenulisan itu diadakan besok, 17 Pebruari, dan kalo gue mau beli hari ini, tiketnya pasti udah abis, lagian gue besok ada halangan jadi nggak mungkin bisa ikut workshop yang rencananya bakal seharian penuh itu. Gue ada sedikit penyesalan nggak ikut acara itu, tapi setengah hati gue juga nolak, karena disana nggak ada orang yang gue kenal, kecuali Ical dan gue malu plus males bertemu atau ngeliat idola gue lagi, si Eza, meskipun gue yakin Eza udah nggak ingat sama gue lagi. Kejadian pertemuan itu udah berbulan-bulan yang lalu, tapi tetap membekas di hati gue, tentang buku, cokelat, seorang cowok yang berbaju sederhana *TanpaMakeUp* dan bersahaja serta memanggil gue dengan sebutan ‘Mbak’. Sungguh pengalaman naksir seseorang yang nggak bisa dilupakan.
Bagaimana ceritamu? Share ya sama gue…. ihihihihi.

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥**********************♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Penulis:

Yantinurhida lahir pada tanggal 17 Nopember. Dia anak pertama. memiliki 1 adik laki2 yang sekarang sudah kelas XI SMA. sedang dalam pencarian pekerjaan yang membuatnya merasa menemukan passion-nya. Hobinya adalah menulis, membaca, bermimpi, menggambar, menyanyi asal , nonton film, nonton acara sport, main game dan menonton Running Man. Motto : Selalu OPTIMIS dan pantang menyerah!

3 thoughts on “#MENYUKAI DIAM-DIAM DENGAN HASIL DIPANGGIL ‘MBAK’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s