Posted in dailynotesyanti

TENTANG BLOG DAN GANK RYU CHAN *UnegUneg*

“TENTANG BLOG, dan GANK RYU CHAN”
Daily notes at : 17 Pebruari 2013

Guys, Girls, Mas Bro, Mbak Sister and kalian semua, sebenarnya gue udah capeeek banget hari ini, ngantuk banget, sumpah deh, udah merem-melek mata gue. Tapi karena beberapa temen di blog, yang blognya gue follow dan gue liatin hari-hari (Blog Mbak Ayanapunya, Blog Dyazafryan, Blog Mbak Aditya Yudis, Blog kamar depannya Tuannico, blog RayaAdawiyah, Blognya Johanesjonaz, dan lain-lain), gue jadi langsung semangat nulis lagi. Mereka kayak suntikkan semangat baru buat gue, karena mereka punya tulisan di blog yang bagus-bagus, berkualitas, jujur, keren dan bermutu kalo menurut gue, mereka dengan bakat dan hobi serta profesinya masing-masing bisa menghasilkan tulisan yang menarik setiap harinya. Mereka yang jadi senior gue atau panutan sama acuan gue dalam menulis di WordPress, karena jujur, gue nggak ngerti banyak tentang blog dan WordPress. Gue emang masih punya ilmu yang cetek/dangkal banget tentang hal apapun, maklum gue gaptek.
Gue pengen selalu dan selalu belajar. Belajar dan juga berkembang jadi seseorang yang lebih baik dalam kehidupan dan dunia blogger. Pengen merubah ulat menjadi cupu-cupu *ehKupu-Kupu*. Ngomong-ngomong, waktu SMA, aku sama Gank *RyuChanGank*, menyebut seorang teman sekelas cowok dengan sebutan cupu-cupu, nama aslinya Joko, orang bersuku Jawa-Banjar, orangnya agak-agak o’on dan aneh, cupu artinya culun punya, dan itu menggambarkan dia banget, dengan kelakuan gokilnya, oiya, dia punya tai lalat di pipi tepat deket idung *hehe*. Pas gue, Riri dan Yuyuy *RyuChanGank* lagi ada di balkon atas, nyantai, kebetulan hari itu lagi ekskul dan jam istirahat dari senior Pramuka, si babang Joko alias ‘cupu-cupu’ lagi nangkring di bawah, kami di atas balkon ngetawa’in dia, dia lagi cuci muka di keran. Tiba-tiba si babang Joko ini, kawai-kawai *bahasaBanjar* atau bahasa Indonesianya melambai- lambai ke arah kami bertiga sambil cengir-cengir dari bawah *cengiranlucuKhas babangjoko*, kami ikutan melambai ke arah dia, dia lalu meliuk-liukkan tangannya, gue lalu memberi pendapat ke Riri dan Yuyuy kalo Joko itu liukan tangannya mirip kupu-kupu homo lagi nyari serbuk bunga, lalu kami memberi dia gelar cupu-cupu *TanpaSepengetahuanJoko*. Setiap kali ngeliat muka polos Joko, kami suka senyum-senyum ditahan, takut menyinggung perasaan Joko. Gokil banget, pas sama-sama Yuyuy dan Riri, kami suka ngasih gelar orang-orang sesuka dan semau kami sendiri lalu ngetawain hal itu, tentunya di belakang orangnya, haha. Pernah suatu hari kami melakukan Sikat *Aksi Nekat* di Pasar Batuah Martapura, si Yuyuy, gue dan Riri kelaperan lalu mesan bakso, pas kebetulan si abang tukang bakso ditungguin lama banget nggak muncul-muncul, di depan abang tukang bakso ada gerobak mangga, gak lama ada ibu-ibu nanyain harga mangga ke kami bertiga, kami bilang kami nggak tau harganya, karena kami bukan pedagang mangganya, si pedagang mangga nggak tau lagi boker kemana. Gue, Riri dan Yuyuy lalu ketawa-ketawa sendiri ingat dikira penjual mangga, tiba-tiba seorang bapak-bapak lewat dan melihat cekikikan kami, kami langsung dikomentarin miring : “Eh, adek… lagi ada lomba ketawa ya dek?” Komentar bapak itu.
Kami malah langsung ngakak ketawa lagi, udah dikira pedagang mangga, sekarang dikira lagi kontes ketawa, entar apa lagi ya. Gak lama kemudian, penjual bakso datang, kami segera duduk dan memesan tiga magkok bakso, gila, baksonya disini cukup mahal bagi kantong anak SMA yang uang jajannya dikit bahkan pas-pasan seperti kami, tapi kami tetep beli bakso itu, karena Yuyuy udah maksa-maksa mau beli bakso. Satu porsi bakso harganya lima ribu rupiah waktu itu. Baksonya nggak terlalu enak menurut gue, tapi menurut Yuyuy cukup enak dan menurut Riri, lumayan lah. Yah, pendapat orang kan beda-beda.
“Oh My God, kalian, liat deh” Ucap gue ke Riri dan Yuyuy, seolah-olah gue baru ngeliat alien.
“Apa’an sih, Yan?” Ucap Yuyuy dengan mulut penuh bakso.
“Iya, ada apa sih, heboh banget.” Ucap Riri.
“Itu, liat-liat, ada monster aneh…” Ucap gue.
“Mana, si bapak-bapak gemuk itu?” Tunjuk Yuyuy ke arah bapak-bapak perut buncit yang lewat.
“Bukan, tapi itu..” Tunjuk gue ke seorang cowok antara umur tua atau muda entahlah meragukan, rambut gondrong lepek klimis berminyak, berkumis tipis di pinggir atas bibir yang menyerupai kumis ikan arwana alias mirip kumis Tukul, baju kaos di atas pusar berwarna PINK, celana jeans bawahnya sobek dan bersendal jepit Nippon.
“Mana? Yang pake daster biru itu?” Tanya Riri ngaco, jelas-jelas yang gue tunjuk cowok, bukan ibu-ibu.
“Bukan, tapi cowok yang berbaju pink itu… masa kalian gak liat?”
“Wahahahaha… wahahaha…hahaha” Yuyuy langsung tertawa terbahak-bahak, gue lega, akhirnya Yuyuy ngerti maksud gue, si Riri malah ngeliatin cowok-cowok anak SMA keren di depan kami.
“Itu lho, Ri, itu…” Tunjuk gue lagi, Riri akhirnya ngangguk.
“Apanya yang lucu ya?” Riri garuk-garuk jilbab.
“Kurang lucu apa lagi, mukanya, rambutnya, bajunya, kumisnya…” Ucap gue ngejelasin.
“Pakai sandal jepit lagi, haduuh…” Tambah Yuyuy.
“Hahahaha…. Hahahaha…” Riri ikutan ketawa, tapi bagi gue udah terlambat momennya.
“Gimana kalo kita sebut dia ‘Tukul Pink’. “ Usul gue ke Riri sama Yuyuy.
“Tukul sandal jepit biru aja, Yan.” Yuyuy berpendapat.
“Kenapa musti Tukul Pink sih ?” Tanya Riri ke gue, Yuyuy ngangguk.
“Kalian liat sendiri kan, orang itu, pakai baju kaos pink kekecilan, udah kayak homo telat balig aja, terus kumisnya itu mengingatkan kalian sama sesuatu kan..?”
“Iya lah, Tukul Arwana.” Jawab Yuyuy.
“Ya udah setuju kalo gitu, ‘Tukul pink”. Ucap Riri.
“Gue juga setuju deh. Tukul Pink, nama yang pas.” Tambah Yuyuy.
Kami ketawa- ketawa sendiri, lalu setelah membayar bakso, sesuai sama rencana awal, kami masuk ke Pasar dan hunting baju. Kami bukan sophaholic lho, kami ngumpulin uang kas Gank yang bakal kami pake buat acara ke Pasar kali ini. Terkumpullah tiga puluh ribu dalam waktu sebulan, kami termasuk anak-anak yang gemar nabung kan? Kami mau beli baju yang kembaran hari ini, biar kami terlihat seperti gank sesungguhnya, gank sejati selalu pake baju sama’an atau biar terlihat seperti girlband culun, atau biar eksis di mata temen-temen sekelas, hehe. Baju yang kami beli akhirnya nggak bisa sama’an, karena stok baju garis-garis yang mau kami beli cuma tersisa dua buah,buat gue dan Riri, sedangkan Yuyuy kepaksa ngalah dan beli baju ‘jablay’ yang waktu itu lagi musim/ nge-hits, gue nggak tau kenapa dinamakan baju jablay oleh sang pemilik toko baju, yang jelas baju seperti ini lagi nge-trend seiring ketenaran film Mendadak Dangdut dan lagu ‘Jablay’ yang dinyanyikan sama Titi Kamal. Oh, Gosh, bisa-bisanya para pedagang itu menamakan baju mereka dengan sebutan aneh dan menjijikkan itu. Bajunya jauh dari kesan jablay (jarang dibelai), karena gue yakin udah ada puluhan tangan yang membelai alias memegang-megang baju-baju itu.
Setelah membeli baju berharga sama (dua puluh lima ribu perak), kami mutusin buat pulang, sayang, tiba-tiba hujan turun dengan deras, lalu dengan gilanya Yuyuy ngajakin kami hujan-hujanan karena setelah ditunggu satu jam, hujan gak reda-reda dan jam udah menunjukkan pukul tiga sore lewat, kami segera berlarian di tengah hujan, udah kayak adegan-adegan romantis gitu, dengan masih memakai seragam sekolah, jilbab sekolah, dan pakai sepatu sekolah, kami membasahkan diri dan sepatu kami kebanjiran, karena jalanan lagi banjir saat itu, Yuyuy mengusulkan agar kami semua lepas sepatu, akhirnya kami melepas sepatu dan kaos kaki bau kami dan menentengnya, lalu berlarian sambil bertelanjang kaki menuju taksi yang akan membawa kami pulang. Sambil menggigil, gue dan Yuyuy nyari taksi buat Riri, karena Riri pulangnya pake taksi, sementara karena nggak ada taksi yang menuju ke arah rumah gue, gue mutusin untuk nyari becak aja, Yuyuy juga mau naik becak bareng sama-sama gue, dengan susah payah dan basah kuyup kami mengantar Riri masuk taksi, gue dan Yuyuy segera nyari becak, dan mentang-mentang lagi hujan, sang tukang becak belagu dan masang tarif selangit buat kami, setelah negosiasi berkali-kali, akhirnya didapatlah tarif yang sebenarnya masih cukup mahal bagi kami. Karena rumah alias kost-kostan Yuyuy lebih deket, dia gue suruh bayar cuma sepertiga dari ongkos becak.
Keesokan harinya, gue , Yuyuy dan Riri langsung kena kutu air stadium lanjut dan make baju ba’al (belom kering) sambil sesekali bersin-bersin di kelas karena terkena flu. Hehehe. Sungguh Sikat *AkSiNeKat* yang nggak akan terlupakan sepanjang hidup gue dan kedua sahabat gue *RiridanYuyuy*.
************************************
Kisah lainnya hari ini….
Hari ini gue memutuskan untuk potong rambut *AsikAsik*. Gue udah lama membiarkan rambut gue panjang sampai ke punggung dengan liarnya. Hal yang paling malas gue lakukan adalah ke salon murahan dekat rumah, ya, cuma salon murah rumahan yang ngga terkenal. Gue trauma dan kali ini trauma gue terulang, gue suruh si tante tukang salon motong rambut gue yang hampir sepinggang ini menjadi sebatas bahu, gak taunya dia terus memotong, memotong, dan memotong, hingga akhirnya di atas daripada bahu. Oh, Gosh, si tante ini kenapa sih, udah gue bilang jangan terlalu pendek, eh dia malah tetap menggunting dan terus menggunting, hingga akhirnya setiap dia memotong, gue jadi makin panik dari waktu ke waktu. Sungguh tukang salon jahat, gue sampe malu nampakkin rambut gue ini ke orang-orang. Gue mungkin musti pake jilbab kemana-mana, bahkan di rumah gue sendiri. Dan bagi adek gue, ini adalah saat yang tepat untuk dia nge –bully gue, mengejek dan menghina gue. Dia bilang rambut gue jelek, gue kayak DORA The Explorer, atau gue mirip anak bocah ‘walangSangit’ anak tetangga sebelah tuh, yang rambutnya pendek banget, gue tersinggung dan bilang ke adek kalo potongan gue kali ini sangat bagus dan cocok sama muka unyu gue, tapi dia tetep menghina dan menjelek-jelekan gue sepanjang waktu. Gue ampe dongkol kuadrat, hufh. Inilah yang membuat gue males ke salon dan males potong rambut.
Rambut gue bukannya jadi eksotis, eh sekarang malah kayak rambut anak autis. Seratus delapan puluh derajat pandangan orang-orang hari ini bikin gue pengen nangis di pojokan teras, gila, gue dan rambut gue ini ditertawakan. Meskipun nggak terbahak-bahak, tapi tetep bikin gue merasa terhina. Kalian semua, ingat ya, jangan ngetawain gue, karena belom tentu rambut kalian lebih baik dari gue.

Bagi yang ngebaca postingan ini, tolong jangan ketawa sepanjang membacanya dan gue nggak akan pernah nunjukkin gaya rambut aneh ini ke kalian. So…. Ini cerita daily notes gue hari ini, ngomong-ngomong, apa kalian udah potong rambut juga kayak gue???🙂 kepo ya gue …
***************************************

Penulis:

Yantinurhida lahir pada tanggal 17 Nopember. Dia anak pertama. memiliki 1 adik laki2 yang sekarang sudah kelas XI SMA. sedang dalam pencarian pekerjaan yang membuatnya merasa menemukan passion-nya. Hobinya adalah menulis, membaca, bermimpi, menggambar, menyanyi asal , nonton film, nonton acara sport, main game dan menonton Running Man. Motto : Selalu OPTIMIS dan pantang menyerah!

2 thoughts on “TENTANG BLOG DAN GANK RYU CHAN *UnegUneg*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s