Posted in dailynotesyanti

FRIEND TO LOVE— SHORT STORY

Friend To Love

Selasa, 09-April-13

“Dia itu ngga banget, Ga, dia nyebelin, jutek, suka nyuruh-nyuruh orang, rese..” Ucapku membeberkan semua kekurangan Resty, tapi Ega tetap bersikeras sama pendapatnya. Emang ya, cinta selalu bisa bikin mata orang jadi buta.
“No body’s perfect, Kara.”
“Up to you lah, Ga, tapi entar kalo cewek itu nyakitin loe, jangan cari bahu gue untuk nyender ya?” Ucapku sambil menjauhi Ega dan berjalan menuju kelas.
“Yah, loe gitu banget sih, Ra, ga ngedukung gue banget.” Ega mengikuti dibelakangku, masih minta dukungan atas rencananya ngegebet Resty.
“Jauhin gue, sekarang.” Ucapku jutek.
“Ra, gue butuh loe, gue butuh bantuan loe, please Ra.”
“Kali ini loe usaha sendiri buat ngedapetin cewek itu, karena gue ngga setuju loe deket sama dia.”
“Jadi gue musti nunggu restu dari loe dulu?”
“Gue ngga ngomong gitu ya, yang pasti gue udah ngasih pendapat gue tentang cewek itu dan gue ngga setuju, Titik.”
“Ya udah kalo ngga mau bantuin.” Ucap Ega sambil berjalan meninggalkanku. Aku terdiam dan melihatnya berjalan menjauh sambil masang tampang kesal.
“Oke, terserah. Kita liat apa loe bisa tanpa gue.” Ucapku kesal.

******************************************************************************

Satu bulan lamanya, Ega tidak menghubungiku, tidak menelpon dan tidak mengirim SMS, tidak menegurku meskipun sering bertemu di koridor kampus, tidak menyapa meskipun berdiri dalam jarak yang begitu dekat, bahkan saat duduk berseberangan di kantin. Sebenarnya aku nggak ingin ini terjadi, tapi siapa yang harusnya minta maaf, aku rasa bukan aku yang salah. Terserah kalo dia lebih pilih Resty daripada aku, sahabatnya sendiri.
Akhir-akhir ini aku jadi uring-uringan dan suka marah-marah ngga jelas sama orang lain. Aku merasa sakit, ngga tau kenapa. Kehilangan Ega membuat aku merasa sendiri, sepi dan semua orang di sekelilingku hanya kujadikan pelampiasan atas kekecewaanku kehilangan Ega. Aku ngga pernah selama ini kehilangan Ega, biasanya kami bertengkar dan hanya bertahan satu hari lalu esoknya baikan lagi, biasanya pihak yang bersalah yang minta ma’af duluan, lalu hubungan kami membaik seperti semula. Tapi kali ini Ega terlalu membela wanita menyebalkan itu, dia bahkan sangat marah padaku, entah apa sekarang aku yang harus minta ma’af padanya, dan itu artinya aku merestui hubungannya dengan Resty. Ah, aku tidak bisa tidak menegur Ega, aku ingin tetap jadi sahabatnya, selamanya.
Aku melangkah gugup menuju ke kelas Ega, seperti biasa dia ada di depan taman dekat kelasnya dan aku segera menghampirinya.
“Hai, Ega.” Sapa Resty, sial, aku keduluan sama cewek itu dan aku harus melihat Ega tersenyum ramah sama cewek itu. Ihh, kesal. Aku berdiri membatu dekat tempat mereka bertemu.
“Hai, Res” Sapa Ega balik.
“Ga, besok ultah gue, dateng ya, oiya… bawa cewek loe juga.” Ucap Resti sambil menyerahkan selembar undangan berwarna silver.
“Apa aku ngga salah denger nih? Resty ngundang Ega ke ultahnya dan nyuruh Ega ngajak ceweknya, apa sih maksudnya?” Gumamku.
“Ah, gue ngga punya cewek, Res, btw makasih ya, gue pasti dateng kok.” Ucap Ega sambil menerima undangan Resty. Resty pergi dan aku bersiap-siap menghampiri Ega.
“Ega.” Panggilku, Ega menoleh, tersenyum manis, senyum yang selama sebulan ini tidak kulihat.
“Emm…. loe siapa ya? anak baru ya? gue ngga pernah liat loe sebelumnya..”
“Loe sakit ya?” Ucap gue sambil memegang jidatnya. Aku tersenyum. Ega tersenyum. Kami tersenyum malu-malu, sulit mengakui bahwa kami saling merindukan. Hmm… apa Ega juga kangen sama aku? Atau cuma aku yang ke-GR- an?
“Gue mau…. minta…” sulit rasanya untuk bilang ‘maaf’.
“Minta apa? sana…sana, gue ngga nerima pengemis..”
“Enak aja, gue minta ma’af, Ga.”
“Iya, udah gue ma’afin kok.”
“Udah, gitu aja? Loe ngga minta ma’af balik ke gue?”
“Kayaknya ngga perlu deh, hehe.”
Aku cemberut, bisa-bisanya dia merasa kalau dia ngga salah.
“Iya, iya, gue juga minta ma’af ya, ma’af karena gue ngga dengerin kata-kata loe… Resty nolak gue, dia udah punya cowok.”
“Terus?”
“Ya gitu aja..”
“Loe tega banget, Ga.”
“Hmm…?”
“Loe nyuekkin gue selama sebulan ini.”
“Bukannya loe yang nyuekkin gue duluan, ngga nelpon gue, ngga SMS lagi, loe tu yang tega..”
“Terus aja nyalahin gue…”
“Udah… udah, jangan ngambek lagi, yang penting kan kita sekarang udah baikan.”
“Ya udah, traktir gue bakso..”
“Yeee…. masih aja kayak dulu…”
“Ya lah, mau gimanapun, gue tetep suka bakso… hidup bakso malang..”
Dan hidup berjalan seperti sedia kala lagi, gue baikan sama Ega dan gue harap kami ngga akan pernah bertengkar lagi.
“Temenin gue ke ultahnya Resty ya?”
“Males..”
“Kenapa? Loe masih kesel sama Resty?”
“Gue kan ngga diundang..”
“Dia ngga ngundang loe secara langsung sih, tapi dia bilang gue disuruh ngajak pasangan gue.”
“Tapi kan gue bukan pacar loe..”
“Pasangan kan bukan berarti pacar, sahabat kan juga pasangan…?”
“Apa loe ngga bisa nganggap gue lebih dari sahabat loe, Ga?” Gumamku.
******************************************************************************
Malam itu, Ega menjemputku dengan mobil Suzuki Swift putihnya, aku hanya memakai gaun simple berwarna hitam dengan sedikit manik di bagian lengannya. Ega mengenakan jas berwarna hitam dan celana hitam tanpa dasi.
“Loe cantik juga ya, Ra.”
“Baru nyadar ya? kemana aja loe selama ini?”
“Hehehe….kalo gitu loe gue pacarin aja ya?”
“What? Loe mau macarin gue?”
“Iya, gue udah males nyari-nyari terus Ra, mending loe aja, yang deket…ya, nggak?”
“Hehe..” Aku cuma bisa tersenyum
Anehnya kata-kata Ega, meskipun cuma becanda’an tapi cukup membuat hatiku bahagia.
“Kamu sebenarnya ngga perlu mencari, karena yang kamu cari ada di depan kamu.” Ucapku membatin.
“Ya udah, kita berangkat yuk…” Ajaknya sambil menggandeng tanganku.
“Yuk… tapi ngga usah pake gandeng-gandeng kali…” Ucapku memarahinya, aku ngga marah karena digandeng Ega, tapi rasanya begitu gugup, deg-degan dan ngga tau harus berbuat apa saat tanganku digandeng Ega.
Aku tau ini, sejak lama sudah ada perasaan aneh kalau berada di dekat Ega. Aku sadar kalau perasaan aneh ini adalah tanda-tanda kalau aku jatuh cinta sama Ega.

Jam 08.00 malam, kami sampai di depan rumah Resty. Seperti yang sudah aku duga, Resty adalah anak orang kaya, dan benar, rumahnya sangat mewah.
“Loe sayang banget, ngelepasin Resty yang kaya raya, Ga.”
“Emang loe pikir gue cowok matre apa?”
“Iya, loe ngga matre tapi loe playboy…”
“Ah, elo, bisa aja nyelingin pembicaraan, hehe…ayo turun..” Ajak Ega. Kami berdua keluar dari mobil, sudah banyak teman sebaya kami berdatangan di seputar halaman rumah Resty.
“Gue malu, Ga.”
“Kenapa?”
“Jalan berdua sama loe sama aja kayak putri kodok jalan sama pangeran tampan..”
“Kan gue udah pernah nasehatin loe, Ra, loe harus percaya diri, itu yang bisa bikin kecantikan loe keluar…”
“Sotoy loe, buruan masuk…” Ajakku langsung berjalan mendahului Ega.
Kami berdua segera menghampiri Resty yang nampak anggun dengan gaun putih dipenuhi payet bunga-bunga. Ega menyerahkan kado yang kami beli secara patungan. Resty menyambut kami dengan ramah, ngga nyangka, cewek yang paling gue benci ternyata senyumnya manis banget, pantesan Ega bisa naksir sama dia.
“Makasih ya, Ga….Oiya, siapa nama loe?” Tanya Resty ke gue, sial, rupanya gue masih jadi anak paling ngga tenar di kampus, bahkan dia ngga tau siapa gue.
“Gue Kara..”
“Makasih ya, Kara… kalian berdua pacaran?”
“Ngga… dia sohib gue sejak SMP…” Jawab Ega secepat kilat, seolah-olah kalau jawabnya lama, itu sebuah aib buat dia. Aku cuma tersenyum simpul.
“Ya udah, kalian silahkan menikmati hidangannya…” Ucap Resty, Ega dan aku segera berlalu dari hadapan Resty dan menuju ke arah makanan dan minuman. Aku mengambil beberapa kue, kudapan dan es buah, satu untukku dan satu untuk Ega.
“Gue cari tempat duduk ya, loe ambilin kesukaan gue..” Suruh Ega.
“Iya, iya..”
Setelah memilih makanan kesukaan kami, aku segera celingukan mencari tempat duduk Ega dan setelah melihat tanda-tanda kepalanya, aku langsung tau kalau itu Ega.
“Ega..” Ucapku memanggilnya, Ega menoleh dan yang muncul bukan kepala Ega, tapi cowok lain.
“Sori, gue salah orang…” Ucapku ke cowok itu, senyumnya manis, matanya teduh, alisnya tebal dan kulitnya kecoklatan, cowok yang sangat cute.
“Iya, ngga apa-apa.” Jawabnya sambil senyum, aku langsung melted dibuatnya.
“Habis mirip sih, sori ya..” Aku segera melangkah menjauhi tempat cowok itu duduk.
“Nama kamu siapa?” Tanya cowok itu, aku langsung GR.
“Kara.” Jawabku polos, semoga cowok itu ngga menangkap muka tololku saat ini. Karena saking gugupnya, aku segera berjalan cepat-cepat tanpa menoleh lagi ke muka cowok itu.
“Loe lama banget sih, Ra.” Ucap Ega mengagetkanku.
“Hufh…. Sori..”
“Loe kenapa, kayak habis ngeliat hantu aja.”
“Aah…engga kok, ayo duduk.”
Aku dan Ega segera menyantap kudapan kami, aku masih deg-degan habis melihat pangeran berwajah tampan tadi. Ega keheranan melihat ekspresiku.
“Loe kenapa sih, Ra, aneh banget.”
“Udah gue bilang, gue ngga kenapa-kenapa, Ega.”
“Ega, dansa yuk…” Ajak Resty, dasar perusak harmonisasi, bisa-bisanya dia ngajak Ega berdansa, padahal kata Ega dia udah punya cowok.
“Cowok gue belum datang, loe mau kan nemenin gue dansa?”
“Ok, boleh deh..” Ucap Ega kesenengan, grhhh… kesal banget ngeliat muka Ega.
“Boleh kan, Kara?” Tanya Ega ke gue.
“Terserah, gue kan cuma sahabat loe…” Ucap gue ketus. Kalau bisa, gue pengen jawab ‘ngga boleh’, tapi apa boleh buat, gue lagi ada di pesta orang lain, dan ngga ada salahnya bikin seneng orang yang lagi ulang tahun.
Ega sekarang lagi menikmati dipeluk sama Resty. Harus gue akui kalau Resty itu cantik, kata orang –orang lain, cantik itu relatif, tapi bagi aku yang ngga bisa dandan dan ngga pernah ke salon, cantik itu kalau loe bisa ngabisin uang banyak demi memperindah bentuk wajah loe, seperti yang Resty lakukan, ngomong-ngomong mana sih cowoknya Resty, kok nggak muncul-muncul?
“Loe lebay deh, Kara, Ega itu kan cuma temen loe, kenapa loe musti cemburu?” Gumamku, aku segera keluar dari ruangan pesta itu dan menepi keluar dari keramaian.
“Kenapa? bete ya?”
Aku menoleh, lalu menoleh sekali lagi, aku harap ini bukan mimpi atau lagi ada di dongeng, ini nyata kan? real kan? oke, biar aku cubit tanganku sendiri, dan rasanya sakit, berarti ini kenyataan, hmmm… cowok berwajah cute itu lagi, ada di depanku.
“Emm… engga kok, sok tau.” Jawabku, aku emang agak kasar sama cowok yang baru dikenal, meskipun cowok itu ganteng banget.
“Gue juga bete banget, rasanya pengen pulang, main PS, terus tidur deh, pestanya ngebosenin.”
“Iya, siapa sih yang punya ide pesta kayak gini?”
“Adek gue, Resty.”
“Ja…jadi loe kakaknya Resty?” Tanya gue mendadak gagap, untung tadi gue ngga bilang kalau Resty itu nyebelin, suka ngupil sembarangan dan playgirl. Pantesan ganteng, rupanya berasal dari induk yang sama, hehe.
“Oiya, gue Abrar, loe Kara kan?”
“Iya, syukur loe masih ingat nama gue..”
“Emang kenapa?”
“Berarti loe belum pikun dan belum jadi kakek-kakek..”
“Dasar loe, ups… sori…”
“Mau bilang apa tadi, bilang aja…”
“Serius?”
“Iya, gue ngga takut tuh sama kata-kata…”
“Dasar makhluk cantik…”
Mukaku langsung merah, baru kali ini ada cowok yang baru dikenal bilang gue cantik, dan hati gue rasanya melayang.
“Emang bener kok…” Ucapnya lagi.
“Ngga nanya, udah ya, gue mau masuk ke dalam…” Ucapku sebelum semua ini mengarah pada hal yang lebih jauh.
“Kenapa musti balik ke acara dansa ngebosenin itu sih?”
“Ngga enak ada diluar sini..” Ucapku, sambil menghindari sorot mata teduh cowok itu.
“Ya udah, gue ikut loe..”Ucapnya sambil menggamit tanganku, aku gugup sekaligus kaget sama perlakuan dia terhadapku.
“Loe kemana aja sih, gue cariin dari tadi, ngga taunya ngilang…” Marah Ega, tatapan matanya turun ke arah tangan Abrar bersarang, terlihat raut muka ngga senang dari Ega.
“Ayo kita pulang.” Ega tiba –tiba menarik tanganku yang sedang dipegang Kakaknya Resty.
“Kok pulang sih, ngga pamitan dulu sama Resty?”
“Tadi gue udah bilang sama dia…” Tatapnya tajam, aku menoleh ke arah Kakaknya Resty, dia cuma tersenyum sambil melambaikan tangannya.

************************

Di Mobil…

“Loe kenapa sih, Ga?” Ucapku yang dari tadi heran melihat tatapan dingin Ega.
“Cowok tadi siapa sih, loe baru kenal kan? main gandeng-gandeng gitu aja, gue aja ngga loe bolehin ngegandeng tangan lo.”
“Gue kan ngomong kayak gitu becanda, Ga.”
“Loe suka ya sama dia?”
“Kalo suka kenapa dan kalo engga juga kenapa?”
“Jawab ‘Ya’ atau ‘Ngga’ aja.”
“Sedikit sih, dikit banget.”
“Itu artinya loe suka kan sama dia?”
“Gue baru kenal, Ga, gue ngga bisa bilang suka atau ngga… tapi di mata cewek manapun pasti bakal menilai kalau dia itu cakep.”
CRIIIITTTTTTTT……
Ega mendadak menghentikan mobilnya, aku kaget, kami berdua terguncang dari tempat duduk masing-masing, aku berpaling dan menatap wajah Ega.
“Gue suka sama loe, Ra.” Ucapnya lirih, matanya bening.
“Apa?” Gue malah dengan tololnya menyuruh dia mengulang kata-kata tadi, padahal gue tau kalau dia dengan susah payah mengatakannya.
“Sebelum loe suka banget sama cowok itu, sebaiknya gue nembak loe duluan.”
“Ga, loe lagi nggak ngigau kan?”
“Ra, gue ngga becanda, coba tatap mata gue…”
Aku menatap matanya sebentar, tidak terlihat kebohongan dari sana. Aku mengedarkan pandangan ke depan jendela mobil, lalu mulai mengungkapkan apa yang sebenarnya ada di hatiku.
“Sebenarnya gue juga udah lama suka sama loe, sejak dulu, Ga, saat kita masih satu SMP, tapi lama-kelamaan gue mikir, kita udah sahabatan selama lima tahun dan rasanya persahabatan ini akan rusak kalau didalamnya ada cinta, biarlah kita berdua bersahabat aja, Ga.”
“Loe jangan bohongin hati loe, Ra, gue tau isi hati loe, loe tau pasti kalau ngga pernah ada cowok-cewek yang bener-bener sahabatan, mereka pasti akan saling jatuh cinta…”
“Terserah Ga, gue ngga mau kehilangan loe sebagai sahabat, gue mau kita tetap sahabatan dan gue pengen kita sahabatan terus selamanya.”
“Oke, kalau itu mau loe, gue bakal terima semua keputusan loe.” Ucapnya, terpancar jelas raut kekecewaan dan patah hati dari wajahnya. Ngga nyangka seorang Kara bisa segitu jahatnya.
“Makasih buat pengertian loe ke gue dan gue minta ma’af karena gue udah nolak loe.”
“Oke, ngga apa-apa, yang penting sekarang kita udah sama-sama tau perasaan kita masing-masing.” Ucapnya. Aku segera memeluk Ega, masih ada debar setiap kali aku ada di dekatnya, tapi aku tidak ingin merusak hubungan baik ini, aku ngga mau kehilangan dia, ma’af kalau sebenarnya aku juga cinta sama kamu, Ga, tapi aku ngga bisa nerima cinta kamu.

************************************* *****************************

Penulis:

Yantinurhida lahir pada tanggal 17 Nopember. Dia anak pertama. memiliki 1 adik laki2 yang sekarang sudah kelas XI SMA. sedang dalam pencarian pekerjaan yang membuatnya merasa menemukan passion-nya. Hobinya adalah menulis, membaca, bermimpi, menggambar, menyanyi asal , nonton film, nonton acara sport, main game dan menonton Running Man. Motto : Selalu OPTIMIS dan pantang menyerah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s