Diposkan pada dailynotesyanti

#ALoveGiveAway

“Aku Ingin Dia Tersenyum”

Feri menjadi seorang dengan tempramen sangat tinggi setelah kepergian orang tuanya setahun yang lalu. Ia merasa memiliki tanggung jawab atas adiknya, Reska. Ia menjadi seseorang yang sangat over protektif terhadap adiknya tersebut.
Sedangkan Reska sendiri, selama ini berusaha mengembalikan lagi sifat periang yang dulu ada pada Feri. Ia ingin agar abangnya tersebut menjalani hidup dengan lebih ringan, tidak penuh beban. Ia ingin mengembalikan lagi kebahagiaan yang ada di antara mereka, meskipun kini mereka bukan lagi menjadi keluarga yang utuh dengan ketiadaan orang tua mereka yang meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat.
Banyak cara yang telah Reska lakukan demi, minimal, memancing kembali senyum di wajah Feri. Selama setahun ia tidak pernah berhenti mencoba. Ia merindukan Feri yang dulu, Feri yang selalu mampu membawa suasana keceriaan. Sekarang, ia akan mengambil alih posisi Feri dulu, ia akan mencoba membawa suasana ceria di hati Feri yang sekarang kelam.
“Kalian ke kampus, kan?” tiba-tiba Kokom, pembantu sebelah rumah, sudah duduk di kursi belakang mobil yang akan membawa Feri dan Reska ke kampus.
“Kokom ngikut sampai depan, ya? Ke pasal.”
“Pasal? Pasal berapa ayat berapa?”
“Itu loh non.. tempat olang (orang) jualan.”
“Itu namanya pasar.”
Kokom memang cadel. Ia menyebut huruf ‘R’ menjadi ‘L’.
Feri sebagai orang yang berada di balik kemudi melajukan begitu saja mobil secara tiba-tiba, sehingga membuat Reska dan Kokom terdorong ke depan. Sekaligus menjadi pertanda bahwa ia tidak keberatan jika Kokom menjadi penumpang tidak diundang di mobilnya.
“Abangnya, kok, ketus banget, non?” Kokom mengadu pada Reska.
“Abang memang begitu, kayak gak tahu aja.”
“Tapi, kalau Kokom beljodoh sama abangnya, non Leska mendukung, kan?”
“Jangan mimpi! Gue gak kebayang kalau abang gue punya bini pembantu, cadel pula. Dan nama gue Reska pake ‘R’, bukan Leska dengan ‘L’.”
“Kalau Kokom nikah sama abangnya, kan, gak bakal jadi pembantu lagi, non. Non Leska mau bantuin, kan?”
“Gue bantuin loe menjauh dari abang gue.”
“Tapi, Kokom yakin, kok, kalau sebenalnya den Feli juga suka sama Kokom. Kokom yakin itu.”
“Ngaca dulu, baru mimpi.”
“Millol-millol (mirror-mirror) on the wall, who’s the failiest (fairiest) mole?”
Reska terkikik. “Mole?”
“Kom, pinjam hape loe.”
Dengan polosnya, Kokom memberikan saja ponselnya pada Reska. Reska kemudian dengan cepat mengetik dan menuliskan sesuatu pada ponsel Kokom. Setelah merasa cukup, Reska mengembalikan lagi ponsel tersebut pada Kokom dan memintanya untuk membaca apa yang sudah ia tuliskan di sana. Kokom pun kembali menurut.
HANYAORANGBODOHYANGBISAMEMBACATULISANINIYANGBERARTIORANGITUMEMILIKIMOLE
Kokom mencibir. “Abang sama adik, sama-sama nyebelin.”
“Biarin, wee…bahasa Inggris loe lumayan ancur, Kom.”
“Memangnya, Kokom salah menyebutkan, ya, non. Mole apaan memangnya?”
“Eelaah.. loe ngemeng gak tahu artinya. Mole artinya tompel.”
“Hah??”
Reska kemudian melirik pada abangnya. Ia ingin mencari tahu, apakah perdebatan kecil konyol yang tadi terjadi di antaranya berhasil membuat senyum di wajah Feri terkembang atau tidak. Ternyata usahanya gagal sama sekali. Bahkan, hingga kekonyolan tersebut terus berlanjut hingga Kokom turun di depan komplek, Feri tetap dengan wajah datarnya.
Setelah Kokom turun dari mobil, Feri langsung memacu gas untuk segera tiba di kampus, hari ini ia ada kuliah pagi. Sambil mengisi kekosongan, Reska mencoba untuk membuka percakapan dengan Feri yang sedari tadi hanya diam.
“Abang, kenapa harus pelit senyum, sih?! Aku kangen abang yang dulu.”
“Gue gak peduli lagi bagaimana caranya tersenyum, gue hanya harus selalu berpikir untuk menjaga loe. Loe itu amanat dari Papa sama Mama yang harus gue jaga.”
“Gak perlu mikirin gue. Pikirkan saja abang yang sekarang sudah berubah menjadi orang yang kaku sejak kepergian mereka.”
Feri menghentikan mobilnya secara mendadak. Biasanya, kalau sudah begitu, tandanya Feri tidak ingin melanjutkan pembicaraan mereka lagi. Reska pun mengambil langkah diam, sebelum abangnya itu mengamuk marah padanya, dan membuatnya diturunkan di jalan sebelum tiba di kampus.
Di tengah keheningan yang terasa sedikit mencekam. Seorang kakek tua yang tampak lusuh tiba-tiba datang dan mengetuk jendela mobil.
“Jangan dibuka!” Feri memperingatkan.
Akan tetapi, larangan Feri tersebut diacuhkan begitu saja oleh Reska. Reska pun menurunkan kaca mobil.
“Nak, eyang sedang mencari isteri ke sembilan untuk menyempurnakan ilmu eyang.”
Reska langsung menaikkan kembali kaca mobil. Ia ketakutan.
“Kan, sudah gue bilang. Ketakutan, kan, sekarang.”
“Gue mending, masih punya rasa takut dan dapat mengekspresikannya, daripada loe, flat, gak ada ekspresi.”
Feri membuang muka. Ia kesal, namun ekspresi wajahnya masih begitu saja. Tidak ada perubahan mimik, sangat datar, sama seperti yang dikatakan Reska. Feri seolah lupa caranya membuat wajahnya berekspresi. Namun, ia mencoba untuk tidak memikirkannya, ia segera melajukan mobilnya setelah traffic light kembali hijau.
***
“Bwa.. ha.. ha..” tawa Didi meledak seketika setelah Reska menceritakan kesialan yang dialaminya tadi di traffic light. “Loe ditawarin eyang ubur-ubur buat nikah?”
Didi kemudian menghentikan langkahnya, ia duduk di sebuah kursi panjang yang ada di depan kelas Feri. Namun, tanpa diduga, bruk.. Didi jatuh terjengkang. Ternyata ia menduduki kursi yang sudah lapuk.
“Bwa.. ha.. ha..” Reska puas tertawa. Ajang balas dendamnya karena Didi tadi juga telah menertawakannya.
“Makanya, lihat-lihat dulu. Itu ada tulisan ‘DILARANG DUDUK, KURSI RAPUH’,” kata Feri yang masih dengan wajah datarnya. Ia mengambil secarik kertas yang terjatuh di lantai dan memberikannya pada Didi yang masih meringis kesakitan.
“Gue memang sengaja. Enak tahu, duduk di lantai dingin.”
Terlihat sekali, Didi mencoba mengeles. Sedangkan Reska masih dengan terpingkal menertawakan kekonyolan sahabatnya itu. Meski begitu, wajah Feri tetap saja datar.
“Sudah, bangun loe!” perintah Reska.
Didi berusaha berdiri, namun tidak bisa, ada yang menahannya. Tanpa sadar ia menduduki permen karet.
“Gue menduduki permen karet.”
“Bwa.. ha.. ha.. emang enak??”
“Kalian bereskan ini, jangan sampai ada masalah. Gue mau masuk.”
Feri kemudian masuk ke dalam kelas, meninggalkan Reska dan Didi yang harus membereskan kursi yang sudah rusak dengan keadaan yang semakin parah, sebelum mereka pergi untuk mengikuti kuliah yang masih satu jam lagi.
“Gue bingung, kehabisan cara supaya bang Feri, minimal, bisa tersenyum lagi. Ini sudah setahun dan mukanya masih flat aja.”
“Tenang, kita bakal nemuin caranya, kok.” Jawab Didi dengan yakin.
“Yakin loe? loe ada punya ide apa?”
“Gimana kalau kita bikin pesta kejutan buat abang loe, besok kan dia ultah tuh, terus kita sama Rani bikinin dia pesta di rumah loe. Siapa tau kita bisa bikin dia senyum lagi.”
“Hmm…ide bagus tuh, entar gue calling Rani deh.”
************************
Keesokan harinya, Didi, Reska dan Rani, sahabat Feri bersama-sama mendekorasi rumah Reska sebagus mungkin dan mereka melakukannya saat Feri sedang pergi keluar rumah agar tidak ketahuan. Reska sudah membeli balon, pita, beberapa hiasan dan kue ulang tahun untuk abangnya. Didi dan Rani mulai memasang hiasan di atas dinding dan plafon rumah Reska dan Reska menyiapkan makanan serta kue ulang tahun di meja makan. Tidak lama kemudian terdengar suara pintu dibuka, Reska, Didi dan Rani bersembunyi di balik pintu dengan maksud untuk membuat Feri terkejut. Mereka juga sudah menyiapkan tepung dan telur yang nantinya akan dilempar ke tubuh Feri saat Feri masuk. Reska memberi aba-aba agar Didi dan Rani bersiap – siap.
“Satu….dua….tiga…” Reska berbisik sambil mengarahkan kedua temannya.
“Plok…Plok..” Reska dan Didi melemparkan telur ke arah depan pintu, Rani membubuhkan tepung dengan segera. Alangkah kagetnya mereka melihat penampakan Feri berubah menjadi agak gempal, pendek dan hitam, yang paling aneh adalah rambut Feri berubah menjadi keriting. Mereka mulai berpikir, ini Feri atau kembarannya genderuwo? Reska, Didi dan Rani segera mendekat ke arah orang yang mereka lempari tepung dan telur.
“Aduuuh non Leska, kok pakai acara lempal-lempal telul segala, ini Kokom non.”
“Bwa….ha…ha…ha…” Reska, Rani dan Didi segera menertawakan Kokom yang badannya berlumuran telur dan tepung.
“Aduuuh, muka Kokom jadi ngga cantik lagi nih…” Protes Kokom dengan mulut cemberut.
“Hehehe…lagian, loe datang di saat ngga tepat sih, harusnya kan itu buat abang gue.” Ucap Reska.
“Loe lebih cantik begitu kok, Kom, muka loe jadi lebih putih, hehe.” Ucap Didi sambil menahan perutnya yang sakit karena tertawa.
“Ah, yang benel den Didi, Kokom mau dong putih tiap hali, kalo gitu ntal Kokom pake tepung deh tiap hali bial makin cantik belsinal.” Ucap Kokom sambil tersipu.
“Hush, ngomong apa’an sih loe Kom, pulang sana, badan loe bau amis ntar dikerubungin lalat deh.”
“Ya udah deh, ntal kalo den Feli datang, Kokom lapolin den Feli kalau kalian beltiga mau ngeljain dia.”
“Ssst…ngga bisa tutup mulut dikit loe? ya udah, loe boleh numpang pake kamar mandi gue, baju loe gue pinjemin deh.” Ucap Reska dengan terpaksa.
“Asiik…makasih ya non Leska, non Leska baik deh.” Ucapnya mau memeluk Reska, Reska segera menjauh dan ngga sengaja menginjak kaki Didi.
“Sori, Di, habisnya Kokom nih, rese banget.” Ucap Reska.
“Iya. No problem, asal loe jangan nginjak-nginjak hati gue aja.”
“Ngomong apa’an sih loe.” Marah Reska sambilmencubit pinggang Didi.
Reska yang jahil mengunci Kokom yang sedang di kamar mandi agar tidak bisa keluar. Didi dan Rani membersihkan bekas tepung dan telur yang berceceran di depan pintu. Saat Kokom mau keluar, dia kaget karena pintunya tidak bisa dibuka.
“Non Leska tolooong, Kokom kekunci nih di kamal mandi.”
“Sori Kom, gue lupa bilang sama loe kalau kunci kamar mandinya rusak, nanti kalau abang gue datang biar gue suruh dia berusaha buat bukain pintunya. Loe tenang aja dulu disana ya.”
“Yah, padahal kan Kokom udah wangi nih, ya udah deh Kokom sabal menunggu..” Ucap Kokom dengan polosnya.
Rani dan Didi tertawa terpingkal-pingkal mendengar ulah jahil Reska yang dengan tega mengunci Kokom di kamar mandi.
“Ngomong-ngomong, Feri kok ngga muncul-muncul sih, Res, mana tepung sama telurnya udah habis lagi.” Ucap Rani.
“Iya nih, biarin deh, ngga usah pakai tepung sama telur, daripada salah sasaran lagi.”
“Iya, gue masih punya ini nih…” Ucap Didi sambil mengeluarkan kandang yang berisi beberapa ekor tikus putih.
“Aaaaa….” Teriak Rani dan Reska sambil melonjak kaget.
“Hahaha…rupanya kalian takut tikus juga ya ?” Tanya Didi jahil.
“Gue bukannya takut, gue geliii, buang jauh-jauh tikusnya..” Teriak Reska histeris.
“Awas loe Di, kalo loe berani ngeluarin tikus-tikus itu, gue jitak kepala loe.” Ancam Rani.
“Iya, ni gue masukin lagi tikusnya ke tas gue.”
“Ada apa sih, ribut banget?”
Rani, Reska dan Didi spontan menganga lebar melihat Feri yang sudah ada di depan mereka. Mereka tidak menyangka kalau Feri datang dengan tiba-tiba.
“Kenapa? kalian ngeliat hantu? ada-ada aja.” Ucap Feri yang heran dengan tingkah adik dan teman-temannya.
“Loe udah pulang bang, cepet amat.”
“Emangnya kenapa kalo gue pulang cepet ?” Tanyanya masih dengan ekspresi datar.
Reska mengedipkan mata untuk memberi aba-aba ke Didi dan Rani. Feri melihat ke arah mereka curiga. Reska, Rani dan Didi segera menyanyikan lagu ulang tahun.
“Happy birthday to you…happy birthday to you…happy birthday…”
“Stop…stop… kalian ngga lucu.” Ucap Feri sambil berlalu meninggalkan mereka.
“Abang, tunggu.” Cegah Reska.
“Gue mau istirahat, kalian tiup lilin dan makan sendiri aja kuenya.” Ucap Feri ketus.
“Kok abang tau sih?”
“Kejutan loe basi tau nggak? loe pulang aja Di, Ran.” Ucapnya sambil mengusir Didi dan Rani dari rumahnya. Feri segera masuk ke kamar dengan muka kesal.
“Kok rencana kita gatot sih, Di ?” Ucap Reska kecewa.
“Gatot kaca kali, udahlah, gue mau pulang aja kalo gitu…” Ucap Didi putus asa.
“Iya, Res, abang loe itu kayak batu, ngga bisa dibikin senyum.” Ucap Rani merajuk sambil mengambil tas dan jaketnya yang ditaruhnya di sofa Reska.
“Aaah, kalian kok pada pulang sih? jangan gitu dong…” Reska mencoba merayu Didi dan Rani, tapi mereka berkeras ingin pulang.
“Ya udah, lain kali kita coba lagi ya, Res.” Ucap Didi.
“Makasih ya Di, makasih ya Ran.”
“Sama-sama. Mungkin abang loe cuma butuh waktu. Kami pulang dulu ya.” Ucap Rani pamit.
“Iya, hati-hati.” Ucap Reska sambil mengantarkan mereka berdua ke pintu depan.
**********************
Reska mengetuk pintu kamar Feri, Feri tidak mau membuka pintu kamarnya. Dia bukannya senang, malah kesal dengan perbuatan adik dan teman-temannya.
“Bang, kami cuma bermaksud baik, mau merayakan ultah abang bareng-bareng, mau lihat abang senyum lagi kayak dulu. Kami kangen abang yang dulu, yang periang, murah senyum dan ngga jutek kayak sekarang.”
“Emangnya kenapa? kalian terganggu sama sikap gue yang begini, ya udah jangan deketin gue, jangan maksa gue untuk jadi apa yang kalian mau.” Teriak Feri dari balik pintu kamarnya.
“Reska tau abang sedih atas meninggalnya Papa dan Mama, tapi bukan begini caranya bang, semua orang juga sedih dan terpukul, apalagi Reska. Tapi Reska mohon abang jangan begini. Ngga baik terus-terusan berlarut dalam kesedihan.”
“Kasih gue waktu. Abang pengen sendiri.”
“Oke, tapi jangan lama-lama. Reska ngomong begini juga demi kebaikan abang, bukan bermaksud menggurui abang.” Ucap Reska.
Reska membereskan makanan yang sudah dia buat dengan susah payah ke lemari makan dan menyimpan kue brownies untuk kakaknya di kulkas. Ia juga melepas semua hiasan-hiasan yang sudah dipasang teman-temannya di dinding dan plafon rumahnya. Tiba-tiba tanpa Reska duga, Feri keluar kamar dan menghampiri Reska lalu segera memeluknya.
“Ma’afin gue, gue egois banget, Res.”
“Iya, abang memang egois. Reska ngga suka sama abang yang egois.” Ucap Reska terharu.
“Abang akan berusaha berubah mulai sekarang.”
“Nah, gitu dong. Jangan lupa minta ma’af ke Didi dan Rani juga ya?”
“Iya, tenang aja.” Ucap Feri sambil mengacak-acak rambut adiknya.
“Jail deh, rambut gue abis dari salon tau.”
“Hehe.”
“Asiik, abang akhirnya bisa senyum, ini baru abang gue.” Ucap Reska senang.
“Telepon Rani sama Didi gih, kita traktir mereka makan di restoran sekarang.”
“Bener bang? ya udah deh, aku hubungi mereka dulu ya. Hmm…. tapi ada sesuatu yang aku lupa lakuin bang, tapi apa ya?”
“Apa? pikunan banget loe, coba ingat-ingat lagi.”
“Aaah, bukan apa-apa kok.”
**********
Reska dan Feri berangkat menjemput Rani dan Didi untuk mentraktir mereka makan sekaligus meminta ma’af atas sikap Feri yang keterlaluan. Tanpa Reska sadari, Kokom telah dia biarkan berjam-jam di kamar mandi tanpa bisa keluar dari sana.
“Non Leska….non Leska, Kokom kehabisan napas nih.” Teriaknya sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi Reska.
“Tolongin Kokom, siapa aja, tolooong, bukain pintu !!!!” Kokom melolong dari dalam kamar mandi, sayangnya tidak ada seorangpun yang bisa mendengar teriakannya.
**************
#ALoveGiveaway
Cerpen Kolaborasi oleh :
Yanti Nurhida (@Anti17n) dan Ririn (@Ririn_ck_Riana)

Diposkan pada dailynotesyanti

Lomba Cerpen Romance UNSA

Lomba Cerpen Romance UNSA
Hai friends, udah ngga sabar nunggu info lomba nulis terbaru, tenang, masih ada lagi kok, berikut nih ada lomba Cerpen Romance yang sayang beud kalau dilewatkan, hadiah bukunya itu sih yang lebih membuat aku tertarik, weheheh. Setiap kota Punya Cerita Cinta, itu Temanya, Let’s Check It Out..
Sumber : fb de teens Diva-Press
Banyak kenangan terukir saat kita singgah dan tinggal disebuah kota. Kenangan manis, kenangan pahit bahkan mungkin menyakitkan. Anda tengah merajut kasih di kota Bandung, menikmati kebahagiaan saat berbulan madu di Denpasar, atau hubungan kalian kandas justru saat kalian liburan di Surabaya?
Semua bisa Anda tuangkan dalam sebuah cerpen romantis dan ikutkan dalam lomba menulis cerpen romance bertemakan ‘Setiap Kota Punya Cerita Cinta’ yang diselenggarakan oleh UNSA.

Berikut syarat-syarat mengikuti lomba:

-Cerpen yang diinginkan berbentuk romance murni (bukan komedi) dengan tema umum ‘Setiap Kota Punya Cerita Cinta’, kota yang dimaksud adalah kota-kota di dalam negeri saja.
-Cerpen boleh berdasarkan kisah nyata atau hanya fiktif belaka.
-Judul cerpen harus mengandung ‘nama kota’ yang menjadi setting utama dari cerpen yang ditulis. Contoh : ‘Denpasar Moon’, ‘Kamu, Bogor dan Hujan’, ‘Cintaku Tertinggal di Kota Gudeg’, dll.
-Syarat naskah setebal 10-15 halaman, spasi 2, font Times New Roman ukuran 12 pts, ukuran kertas A4, justified, margin : 4(atas)-3(bawah)-3(kanan)-4(kiri), satuan dalam sentimeter.
-Kirimkan karya original kamu yang belum pernah dipublikasikan di media manapun ke email: unsaku27@yahoo.com.
-Judul email: #CerpenRomance, format file: nama penulis+judul cerpen. (Contoh: Aiman Bagea+Cintaku Tertinggal di Kota Gudeg).
-Sertakan juga biodata narasi kamu di akhir naskah dan sertakan juga biodata lengkap (berisi nama asli, alamat lengkap, nomor HP, nomor rekening bank), silakan digabungkan dalam satu file word sekaligus.
-Setiap peserta wajib follow twitter penyelenggara lomba ini yaitu: @unsa27 dan @de_teens
-Setiap peserta hanya boleh mengirimkan 1 naskah terbaik.
-Lama penjurian 1 bulan.
-Update daftar peserta lomba sebanyak dua kali saja, yaitu: 1 minggu sebelum lomba berakhir dan 4 jam setelah lomba ditutup.
-Hadiah bagi pemenang:
Dicari antara 10-15 pemenang
Juara 1 : Uang Tunai Rp 500.000,-
Juara 2 : Uang Tunai Rp 300.000,-
Juara 3 : Uang Tunai Rp 200.000
Hadiah hiburan :
-Untuk semua naskah yang lolos namun tidak menjadi juara masing-masing menerima uang tunai @Rp 100.000,-
-Semua peserta yang lolos mendapat 1 eks buku tanda terbit dari De Teens.
-Semua peserta yang lolos mendapat 1 eks buku (boleh pilih: ‘Si Jola’ karya Diba Azzukhruf dkk, ‘Hantu Obesitas’ karya Dang Aji dkk atau ‘Jendela Dua Mata’ karya Hermawan WS dkk), dan juga masing-masing mendapat 1 pin exclusive dari UNSA.
-Lomba ini berlangsung sejak 10 Mei – 9 Juni 2013, pukul 12.00 siang.

Ayo, tuliskan kisah cinta Anda dan si dia di kota-kota yang Anda singgahi atau diami agar menjadi bacaan yang indah, romantis dan disukai oleh pembaca seantero tanah air!

Lomba cerpen ini merupakan kerja bareng antara grup UNSA dengan penerbit remaja De Teens.

Salam,
crew UNSA 😉

Diposkan pada dailynotesyanti

LOVE AT FIRST SIGHT AT COUNTER HAPE

‘Love At First Sight At Counter Hape’

Write at : 07 Mei 2013

 

               Hari Sabtu kemarin, tanggal 04 Mei 2013, aku pergi ke sebuah counter service hape yang biasa aja (gak pake telor *halah, apa’an sih*). Jaraknya sekitar lima belas menit dari rumah (tepatnya di Kec. Cempaka), aku pergi ke counter itu, karena cuma satu counter itu aja yang aku tau bisa menservice hape, yang lainnya ngga tau dimana (maklum, kuper). Disana aku memperbaiki Hape Merk China  kesayangan, hape GVON namanya, hape yang kubeli dari adikku karena dia sudah bosan dengan handphonenya, lagipula fitur yang dia senangi yaitu games , tidak terdapat di hape itu. Namun buatku, hape ini menghadirkan kenangan tersendiri yang tidak mudah untuk dilupakan, makanya aku sayang padanya. Di tengah siang bolong yang terik aku rela naik motor panas-panasan demi memperbaiki dia.

            Saat aku masuk ke dalam, aku menemukan seseorang dengan rambut cepak (potongan rambut soldier), jiwa sok tau ku langsung menebak ‘pasti ni cowok tentara, kalo ngga dia pasti penggemar film Rambo, atau paling banter emaknya pasti tentara’, ngaco banget. Pas dia balik badan, ternyata wajahnya unyu banget. Aku langsung melongo girang dan lupa duduk. Sang cowok menggeser duduknya dan membiarkan aku duduk di sampingnya, ooh…so cweet. Sang penjaga counter mengagetkan aku dari lamunan panjangku dan dia bertanya ‘ Ada apa gerangan nona kesini?’ *LeBay*. Aku segera tersadar dan menjawab pertanyaan sang penjaga counter yang ngga ganteng-ganteng amat itu, ‘ Mau memperbaiki hape saya yang rusak bang..’

            Sang penjaga counter langsung ngebolak-balik hape aku, aku pikir ngapain dibolak-balik segala, kayak baca buku aja. Dia dengan sigapnya ngasih tau, “Ini sih biayanya sekitar tiga puluh lima ribu”, sontak aku kaget mendengar penjelasannya, dari mana dia bisa bilang biaya perbaikannya segitu, orang cuman dibolak-balikin doang, lagian kenapa mahal amir?

            “Ya udah deh, perbaiki aja” Ucapku pasrah, karena kalau tidak diperbaiki hari ini, aku ngga bisa makai buat foto-foto besok, rencananya besok atau lusa mau jalan-jalan ke suatu daerah yang pemandangannya cukup cihuy ulala, kan sayang kalau ketinggalan momen/ view yang indah-indah #Cailaah.

            Sang soldier / cowok berambut mirip tentara lalu mulai menggeser duduknya, agak-agak gelisah gitu, mungkin grogi duduk di sebelah gadis cantik *Gubrakkk* atau lebih parahnya mungkin dia terkena ambeien akut *waspada, takut ketularan*. Dia lalu pindah tempat duduk dan duduk mendekati sang penjaga counter satunya yang kutebak sedang memperbaiki handphone sang cowok tentara.

            Sang penjaga counter memutar channel TV biar kami yang nunggu dia memperbaiki hape ngga  pingsan karena bosan. Dan aku sesekali memperhatikan wajah unyu nan elok si cowok tentara, ya ampun, dia itu kiut (cute) sama manis banget, kulitnya ngga terlalu putih, kuning langsat, tingginya sedang, sekitar 165 cm, matanya sayu, alisnya bagus dan satu itu yang memikat, hidungnya, hidungnya agak mancung sedikit, mungkin kalo aku bersilangan sama dia (kayak mangga aja di kawin silang), aku bisa memperbaiki keturunan dari segi hidung dan tinggi tentunya, hehe, otak licik aku mulai bereaksi.

            Tanpa aku sangka dan duga, sang cowok tentara kadang curi-curi pandang ke aku, aku jadi ke GR-an sendiri dan salah tingkah ujung-ujungnya gelisah, padahal dia mungkin memperhatikan sandal jepit aku yang butut banget , hehe. Aku kesenengan banget saat  mata kami beradu (kayak banteng aje, beradu). Aku suka cowok ini, gumamku dalam hati. Tapi setelah wajahnya diperhatikan baik-baik, aku rasa aku pernah melihat atau bertemu dengannya, tapi dimana ya? ah, aku ingat, aku pernah bertemu dia di tempat kerja…. Atau dia itu mempelai pria yang pernikahannya baru saja kuhadiri beberapa minggu lalu. Ah, hilang sudah kesempatan menggebet cowok ganteng ini, gumamku. Lagipula aku belum tentu bisa bertemu lagi dengan dia, kecuali Tuhan yang mentakdirkan, karena aku cuma bertemu dengannya di counter hape, tanpa berbicara sedikitpun dengan dia, tanpa teguran, perkenalan, apalagi tukeran nomor, aku tidak tau alamatnya, begitu pula sebaliknya, yang aku tau cuma wajahnya dan senyumnya yang manis. Harapan untuk bertemu cowok itu lagi, sepertinya harapan yang semu. Aku berdo’a sama Tuhan semoga kami bisa dipertemukan lagi, entah itu kapan dan dimana. Tidak ada hal yang mustahil kan, kalau itu seijin Tuhan?  Dan meskipun aku ngga ada apa-apanya dibanding dia (secara fisik), aku berharap aku masih ada harapan untuk mengenal dia, sedikit saja. Mungkin ini yang dinamakan Love At First Sight. So Cweet. 🙂

Diposkan pada dailynotesyanti

HUJAN DI HARI SELASA

07 Mei 2013
# Selasa, jam 10. 30 pagi…
Sekarang jam setengah sebelas pagi dan di luar hujan deras. Yah, aku benci hujan di hari Selasa. Ini seperti sebuah kedukaan. Hari ini giliran PKM-ku sore, itu artinya kalau hujannya tidak reda hingga sore, aku terpaksa berangkat ke tempat PKM yang jaraknya cukup jauh (± 20 menit) dengan hujan-hujanan. Jalanan yang licin membuatku takut, karena aku pernah jatuh dari sepeda motor pada saat hujan dan jalanan licin, bajuku kotor semua dan aku terpaksa harus ganti baju karena ngga mungkin memakai baju yang kotor untuk ke kampus. Sebalnya lagi, aku jatuh tidak terlalu jauh dari kampus, jadinya aku kesal karena musti buang-buang waktu dan tenaga lagi, apalagi kakiku saat itu luka-luka.
*****************************************************************************
Sorenya…

Syukurlah ternyata hujannya tidak sampai sore, jadi aku bisa berangkat PKM dengan hati riang, karena jalanan tidak lagi basah dan licin lagi . Aku menganggap sekarang bukan hari sial lagi, tapi ternyata aku salah, baru saja datang ke tempat PKM, sudah dapat marah-marah dari sang ketua kelompok karena salah paham, sebal banget rasanya. Udahlah, emosi nggak perlu dilawan dengan emosi, biarkan bebek berkoar, aku tetap berlalu, tutup kuping saja lah, karena aku ngga merasa ada kesalahan. Oke, ini hanya miss komunikasi yang menumpuk berminggu-minggu, hingga akhirnya jadi salah paham. Mungkin aku juga ada salah sama beliau, mungkin sudah saatnya membuka pintu hati masing-masing untuk sama-sama memaafkan dan introspeksi. Semoga hal seperti ini tidak terulang di hari Selasa yang lain. I hope so.
***********************************************************************

Diposkan pada dailynotesyanti

dua keping uang receh

DUA KEPING UANG RECEH

Suatu hari gue dan sohib gue jalan ke sebuah toko buku yang letaknya di lantai dua sebuah Plaza di Kota Banjarbaru. Kita berdua baru ngerasain gimana rasanya cuma pergi berdua tanpa ditemenin sahabat kita yang satu lagi, Uyuy. Uyuy selalu  bisa bikin suasana jadi berbeda, dia selalu bisa bikin muka kami yang sumpek dan murung—kayak tukang angkot ngga dapat penumpang— jadi ceria dan tertawa lepas. Dan disinilah kami berdua, dua orang pendiam yang celingak-celinguk ngga jelas kayak ‘kutu’ sama ‘rayap’  berkeliaran di buku. Yang saat itu lagi gue cari adalah buku motivasi. Ya, biasanya buku-buku model begitu cocoknya buat orang yang lemah, letoy, loyo yang lagi butuh pencerahan. Atau ABG labil yang bingung nyari jati diri dia apakah dia cewek atau cowok.

Setelah keliling cukup lama, tiba-tiba perut gue sakit melilit minta ampun. Yang pertama gue ingat adalah hari itu tanggal 8 (delapan), harinya gue. Pantas aja dari naik motor menuju rumah Riri, perut gue udah mulai berasa, asem-asem gitu deh. Ini sakit perut apa bau ketek? ga jelas. Bayangin, satu tangan gue pake buat megangin sepeda motor, satunya buat megangin perut yang melilit kayak ular phyton. Sakit minta ampun. Gue yang lagi ayik-asyik memilih buku tiba-tiba langsung jongkok nahanin perut gue. Riri langsung ikut jongkok, ngelirik heran lalu nanyain ;

“Loe kenapa, Yan ?” Tanyanya sambil dahinya mengernyit dan mengerut kayak dahi nenek-nenek.

“Gue… Gue … “ Ucap gue sambil nahanin perut gue yang sakit.

“Kenapa?”

“Gue….” Ucap gue sok dramatis sekalian ngerjain Riri.

“Kenapa? Loe ngeden ya disana?” Tanya Riri polos.

“Kampret loe! Ini toko buku tau, bukan WC umum!”  Gumam gue marah.

“Perut gue Ri… sakit banget.”

“Mules ya?”

“Bukan… bukan, PMS.”

“Oooh….” Ucapnya tanpa ekspresi.

Ngeliat kita yang lagi jongkok-jongkok nggak jelas, tiba-tiba ada yang ngejatuhin dua keping duit receh ke tangan gue, gue ngga tau siapa. Dasar! Dia pikir kita ini pengemis apa? kalo ngemis juga lihat-lihat sikon (situasi kondisi) kali, udah baju lumayan lecek gini, pake tas Louis Vuiton  KW super, ngga normal kali ya tu orang. Nggak lama setelah orang itu berlalu dan gue lihat kondisi sekitar cukup sepi, gue kantongin aja itu duit receh ke dalam saku celana jeans gue. Lumayan, hitung-hitung buat bayar parkiran entar. Riri langsung ngelirik mencurigakan ke arah gue. Gue segera nutupin kantong gue rapat-rapat. Apa’an, enak aja dia minta jatah, orang cuman dikasih dua ribu perak gini. Lagian, lebih melas muka siapa jadi tuh orang kasian. Melasan muka gue kali, hehe.

Gue sama Riri  akhirnya beli masing-masing satu buah buku, Riri beli novel yang menurut gue nggak banget, soalnya sampulnya aja kelihatan lecek, warnanya buram, butek deh. Banyak  yang bilang —gue lupa siapa— don’t judge book from it’s cover, gue rasa kata-kata ini agak salah, soalnya gimana bisa kita ngga ngenilai buku dari sampul mukanya, sedangkan yang kita liat pertama kali adalah sampul depan sama belakang yang ada sinopsisnya. Kalo depannya aja udah jelek, butut, nggak menarik, gimana orang mau ngebaca, ngeliat aja ngga sudi, huh. Apalagi bukunya diplastikin, jadi gimana kita bisa baca isi bukunya secara gratisan? Aneh kan.

Gue sendiri memilih sebuah buku di jajaran buku motivasi yang gue ambil secara asal  karena gue udah nggak tahan pengen keluar dari sini. Belakangan gue baru tau bahwa buku gue itu isinya ‘ajaran bahagia’. Kasian banget ya gue? Mau bahagia aja musti baca buku, gue jadi agak nyesel juga, buku ini cocoknya buat orang-orang yang nggak pernah ketawa seumur hidupnya, gue rasa penulisnya pasti sotoy banget, dan gue rasa yang ngebeli lebih sotoy lagi (itu artinya gue dong?).

Gue bukannya nyesel karena isi bukunya nggak bagus sih, tapi karena harus membayar tiga puluh lima ribu rupiah demi sebuah buku saku yang tipis banget seperti itu. Ya, gue emang orangnya perhitungan banget soal beli barang-barang, kadang beda tipis sama pelit. Tapi, kadang gue suka beli sesuatu kemahalan karena ngga bisa nawar harga. Gue emang freak banget orangnya.

Setelah keluar dari toko buku, gue sama Riri bingung nyari tempat duduk buat istirahat dimana, sementara perut gue udah ngga karuan rasanya. Riri ngusulin gue duduk di tangga eskalator yang rusak, gila aja, ya gue nggak turutin nasehat dia. Lalu kami numpang duduk di depan penjual burger, untungnya saat itu jam  istirahat penjual burgernya, jadi nggak ada pembeli dan kami nggak harus duduk sambil ‘terpaksa’ beli burger mereka. Hehehe

Setelah perut gue agak tenangan, gue dan Riri melanjutkan perjalanan ke sebuah warung makan ayam penyet. Gue udah laper berat, Riri juga dari tadi kayak muka orang nahanin laper. Riri memesan seporsi nasi uduk, gue memilih seporsi ayam penyet. Riri beli jus melon dan gue es jeruk. Setelah pesanan datang, kami pun segera makan. Sayang, hidangan yang kami pesan sudah tidak panas lagi. Riri meneguk minumannya, terlihat raut muka aneh di wajahnya. Gue langsung tanya’in aja ke dia :

“Loe kenapa Ri, keselek ya?”

“Emm… rasa jus gue kok aneh ya? Coba’in deh Yan.” Suruhnya, gue yang emang doyan banget buah melon langsung aja ngambil gelas Riri dan nyoba’in dikit, padahal kalo dia nyuruh gue habisin jus itu pasti gue bakal habisin, karena gue emang suka melon. Tapi ternyata setelah indera perasa gue mengecap, ternyata itu bukan jus melon.

“Bener, Ri kok jusnya rasa mentimun gini ya? salah anter kali.” Komentar gue.

“Ya udahlah Yan, biarin aja.” Komentarnya pasrah, gue sebel ngeliat muka pasrahnya itu.

“Itu Ri, jus yang lo pesen.” Tunjuk gue pada jus yang barusan diantar pelayan ke meja seberang kami, orang yang jusnya gue tunjuk-tunjuk langsung masang tampang serem kayak ngga seneng gitu, gue segera nurunin tangan gue.

“Ketuker dong?” Tanya Riri ke gue sambil ngeliatin gelas jus di meja seberang.

“Iya, Ri.”

Gak lama kemudian, tiba-tiba gue ngerasain ada yang nyolek-nyolek jilbab gue, gue nggak tau siapa, pas gue menoleh ternyata bapak-bapak tua pake baju rombeng gitu. Rasanya gue pengen teriak ‘Wow’ sambil jingkrak-jingkrak karena bapak tua ini bersikap nggak sopan banget. Tiba-tiba dia nyodorin sebuah buku yasin kecil ke gue. Karena ngerasa dikasih ya gue ambil aja terus gue masukin dalam tas. Ternyata itu bapak-bapak masih aja berdiri di samping gue. Ya udah, gue kasian dan gue tawarin aja makanan gue, dia menggeleng, gue tawarin es jeruk, dia geleng-geleng juga, Riri cuma ngetawa’in gue pas ngeliat gue yang putus asa nawarin bapak itu sandal jepit gue dan bapak itu menggeleng lebih keras.

Tangannya langsung aja nyamber di depan mata gue, sampe mata gue hampir kecolok. Gue tau sekarang apa maksudnya, kalo tau gini nggak bakal gue terima buku yasin kecil dan tipis itu. Dengan terpaksa, gue merogoh kantong celana jeans gue, gue kasih sekeping uang receh seribu sama dia, eh dia masih menggeleng, dengan muka sangat terpaksa gue rogoh lagi kantong celana jeans gue dan gue ambil sekeping lagi, dia berlalu pergi dari hadapan gue dan Riri. Buset, ini pengemis apa tukang palak? Jahat banget. (*)

Diposkan pada dailynotesyanti

Lomba Menulis Cerita Remaja (LMCR-2013) Berhadiah Total Rp 92 Juta

Lomba Menulis Cerita Remaja (LMCR-2013) Berhadiah Total Rp 92 Juta

JANGAN LEWATKAN…LMCR 2013

Kesempatan Berprestasi Menjadi Pengarang Unggul Di Tanah Air Tercinta Ini.

Bagi Anda Semua – Putra Putri Terbaik Negeri

Lebih Berbobot, Lebih Bergengsi, Lebih Banyak Pemenangnya

Lomba Menulis Cerita Remaja (LMCR-2013)

Berhadiah Total Rp 92 Juta

20 Cerita Pendek Terbaik Diterbitkan sebagai Antologi LMCR 2013

Syarat-Syarat Lomba

1. Lomba terbuka bagi pelajar (Kategori A: Pelajar SLTP; Kategori B: Pelajar SLTA), mahasiswa, penulis/pengarang dan umum (Kategori C), warga Indonesia di Tanah Air maupun yang bermukim di Luar Negeri.

2. Lomba dibuka 1 April 2013 dan ditutup 25 September 2013 (Stempel Pos/Jasa Kurir)

3. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia yang benar, indah (literer) dan komunikatif

4. Naskah yang dilombakan karya asli (bukan jiplakan, terjemahan atau saduran), belum pernah dipublikasi dalam bentuk apa pun dan tidak sedang disertakan lomba serupa

5. Tema Cerita: Dunia remaja dan segala aspek rona kehidupannya (cinta, harapan, kepedihan, perjuangan, kekecewaan, perjuangan hidup dan pencerahan)

6. Panjang naskah 5 – 10 halaman A4, 1,5 spasi Times New Roman 12 Font, 2 (dua) rangkap, dilampiri foto copy identitas KTP/Kartu Pelajar/Paspor/SIM/Kartu Keluarga (Pilih salah satu) dan foto pose bebas serta file naskah cerpen yang dilombakan dalam CD/DVD

7. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 (satu) judul. Perjudul dilampiri struk/bon pembelian produk PT Rohto Laboratories Indonesia (jenis produk apa saja, bebas memilih) – klik http://www.rohto.co.id

8. Naskah dikirim ke Sekretariat LMCR: Jalan Gunung Pancar No.25 Bukit Golf Hijau Sentul City Bogor 16810, dalam amplop tertutup dilampiri persyaratan Butir 6 dan 7, tulis keterangan Kategori-nya A, B atau C di bagian kanan atas amplop.

9. Naskah yang dilombakan menjadi milik penyelenggara, hakcipta pada pengarang

10. Pemenang diumumkan 26 Oktober 2013

11. Daftar Pemenang dan Hadiah sebagai berikut:

Kategori A: Pemenang 1: Rohto-Mentholatum Golden Award + Uang Tunai Rp 4.000.000,-; Pemenang 2: Piagam Rohto-Mentholatum + Uang Tunai Rp 3.000.000; Pemenang 3: Piagam Rohto-Mentholatum + Uang Tunai Rp 2.000.000,- ; 10 Pemenang Harapan, masing-masing memperoleh: Piagam Rohto-Mentholatum + Uang Tunai Rp 500.000,- dan Pemenang 25 Karya Favorit – Piagam Rohto-Mentholatum.

Kategori B: Pemenang 1: Rohto-Mentholatum Golden Award + Uang Tunai Rp 5.000.000,-; Pemenang 2: Piagam Rohto-Mentholatum + Uang Tunai Rp 4.000.000,-; Pemenang 3: Piagam Rohto-Mentholatum + Uang Tunai Rp 3.000.000 dan 8 Pemenang Harapan, masing-masing memperoleh Piagam Rohto Mentholatum + Uang Tunai Rp 500.000,- dan Pemenang 60 Karya Favorit: Piagam Rohto-Mentholatum.

Kategori C: Pemenang 1: Rohto-Mentholatum Golden Award + Uang Tunai 7.000.000,- ; Pemenang 2: Piagam Mentholatum + Uang Tunai Rp 6.000.000,-; Pemenang 3: Piagam Rohto-Mentholatum + Uang Tunai 4000.000,-; 8 Pemenang Harapan masing-masing memperoleh: Piagam Rohto-Mentholatum + Uang Rp 750.000,- dan 150 Pemenang Karya Favorit: Piagam Rohto-Mentholatum.

– Penghargaan Khusus: Pemenang Cerpen Berbahasa Terliris Kategori B mendapat Piagam Rohto-Mentholatum + Uang Tunai Rp 1.000.000,- dan Pemenang Cerpen Berbahasa Terliris Kategori C mendapat Piagam Rohto-Mentholatum + uang Tunai Rp 1.500.000,-

– Seluruh Pemenang mendapat hadiah Antologi Cerpen LMCR-2013.

– Pajak hadiah ditanggung PT Rohto Laboratories Indonesia.

– Nama Para pemenang dapat diakses di: http://www.rohto.co.id, http://www.rayakultura.net dan Facebook: http://www.facebook.com/#!/groups/4598847( Grup Diskusi: Puisi, Cerpen dan Novel

Jakarta, 13 Maret 2013