Posted in dailynotesyanti

#ALoveGiveAway

“Aku Ingin Dia Tersenyum”

Feri menjadi seorang dengan tempramen sangat tinggi setelah kepergian orang tuanya setahun yang lalu. Ia merasa memiliki tanggung jawab atas adiknya, Reska. Ia menjadi seseorang yang sangat over protektif terhadap adiknya tersebut.
Sedangkan Reska sendiri, selama ini berusaha mengembalikan lagi sifat periang yang dulu ada pada Feri. Ia ingin agar abangnya tersebut menjalani hidup dengan lebih ringan, tidak penuh beban. Ia ingin mengembalikan lagi kebahagiaan yang ada di antara mereka, meskipun kini mereka bukan lagi menjadi keluarga yang utuh dengan ketiadaan orang tua mereka yang meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat.
Banyak cara yang telah Reska lakukan demi, minimal, memancing kembali senyum di wajah Feri. Selama setahun ia tidak pernah berhenti mencoba. Ia merindukan Feri yang dulu, Feri yang selalu mampu membawa suasana keceriaan. Sekarang, ia akan mengambil alih posisi Feri dulu, ia akan mencoba membawa suasana ceria di hati Feri yang sekarang kelam.
“Kalian ke kampus, kan?” tiba-tiba Kokom, pembantu sebelah rumah, sudah duduk di kursi belakang mobil yang akan membawa Feri dan Reska ke kampus.
“Kokom ngikut sampai depan, ya? Ke pasal.”
“Pasal? Pasal berapa ayat berapa?”
“Itu loh non.. tempat olang (orang) jualan.”
“Itu namanya pasar.”
Kokom memang cadel. Ia menyebut huruf ‘R’ menjadi ‘L’.
Feri sebagai orang yang berada di balik kemudi melajukan begitu saja mobil secara tiba-tiba, sehingga membuat Reska dan Kokom terdorong ke depan. Sekaligus menjadi pertanda bahwa ia tidak keberatan jika Kokom menjadi penumpang tidak diundang di mobilnya.
“Abangnya, kok, ketus banget, non?” Kokom mengadu pada Reska.
“Abang memang begitu, kayak gak tahu aja.”
“Tapi, kalau Kokom beljodoh sama abangnya, non Leska mendukung, kan?”
“Jangan mimpi! Gue gak kebayang kalau abang gue punya bini pembantu, cadel pula. Dan nama gue Reska pake ‘R’, bukan Leska dengan ‘L’.”
“Kalau Kokom nikah sama abangnya, kan, gak bakal jadi pembantu lagi, non. Non Leska mau bantuin, kan?”
“Gue bantuin loe menjauh dari abang gue.”
“Tapi, Kokom yakin, kok, kalau sebenalnya den Feli juga suka sama Kokom. Kokom yakin itu.”
“Ngaca dulu, baru mimpi.”
“Millol-millol (mirror-mirror) on the wall, who’s the failiest (fairiest) mole?”
Reska terkikik. “Mole?”
“Kom, pinjam hape loe.”
Dengan polosnya, Kokom memberikan saja ponselnya pada Reska. Reska kemudian dengan cepat mengetik dan menuliskan sesuatu pada ponsel Kokom. Setelah merasa cukup, Reska mengembalikan lagi ponsel tersebut pada Kokom dan memintanya untuk membaca apa yang sudah ia tuliskan di sana. Kokom pun kembali menurut.
HANYAORANGBODOHYANGBISAMEMBACATULISANINIYANGBERARTIORANGITUMEMILIKIMOLE
Kokom mencibir. “Abang sama adik, sama-sama nyebelin.”
“Biarin, wee…bahasa Inggris loe lumayan ancur, Kom.”
“Memangnya, Kokom salah menyebutkan, ya, non. Mole apaan memangnya?”
“Eelaah.. loe ngemeng gak tahu artinya. Mole artinya tompel.”
“Hah??”
Reska kemudian melirik pada abangnya. Ia ingin mencari tahu, apakah perdebatan kecil konyol yang tadi terjadi di antaranya berhasil membuat senyum di wajah Feri terkembang atau tidak. Ternyata usahanya gagal sama sekali. Bahkan, hingga kekonyolan tersebut terus berlanjut hingga Kokom turun di depan komplek, Feri tetap dengan wajah datarnya.
Setelah Kokom turun dari mobil, Feri langsung memacu gas untuk segera tiba di kampus, hari ini ia ada kuliah pagi. Sambil mengisi kekosongan, Reska mencoba untuk membuka percakapan dengan Feri yang sedari tadi hanya diam.
“Abang, kenapa harus pelit senyum, sih?! Aku kangen abang yang dulu.”
“Gue gak peduli lagi bagaimana caranya tersenyum, gue hanya harus selalu berpikir untuk menjaga loe. Loe itu amanat dari Papa sama Mama yang harus gue jaga.”
“Gak perlu mikirin gue. Pikirkan saja abang yang sekarang sudah berubah menjadi orang yang kaku sejak kepergian mereka.”
Feri menghentikan mobilnya secara mendadak. Biasanya, kalau sudah begitu, tandanya Feri tidak ingin melanjutkan pembicaraan mereka lagi. Reska pun mengambil langkah diam, sebelum abangnya itu mengamuk marah padanya, dan membuatnya diturunkan di jalan sebelum tiba di kampus.
Di tengah keheningan yang terasa sedikit mencekam. Seorang kakek tua yang tampak lusuh tiba-tiba datang dan mengetuk jendela mobil.
“Jangan dibuka!” Feri memperingatkan.
Akan tetapi, larangan Feri tersebut diacuhkan begitu saja oleh Reska. Reska pun menurunkan kaca mobil.
“Nak, eyang sedang mencari isteri ke sembilan untuk menyempurnakan ilmu eyang.”
Reska langsung menaikkan kembali kaca mobil. Ia ketakutan.
“Kan, sudah gue bilang. Ketakutan, kan, sekarang.”
“Gue mending, masih punya rasa takut dan dapat mengekspresikannya, daripada loe, flat, gak ada ekspresi.”
Feri membuang muka. Ia kesal, namun ekspresi wajahnya masih begitu saja. Tidak ada perubahan mimik, sangat datar, sama seperti yang dikatakan Reska. Feri seolah lupa caranya membuat wajahnya berekspresi. Namun, ia mencoba untuk tidak memikirkannya, ia segera melajukan mobilnya setelah traffic light kembali hijau.
***
“Bwa.. ha.. ha..” tawa Didi meledak seketika setelah Reska menceritakan kesialan yang dialaminya tadi di traffic light. “Loe ditawarin eyang ubur-ubur buat nikah?”
Didi kemudian menghentikan langkahnya, ia duduk di sebuah kursi panjang yang ada di depan kelas Feri. Namun, tanpa diduga, bruk.. Didi jatuh terjengkang. Ternyata ia menduduki kursi yang sudah lapuk.
“Bwa.. ha.. ha..” Reska puas tertawa. Ajang balas dendamnya karena Didi tadi juga telah menertawakannya.
“Makanya, lihat-lihat dulu. Itu ada tulisan ‘DILARANG DUDUK, KURSI RAPUH’,” kata Feri yang masih dengan wajah datarnya. Ia mengambil secarik kertas yang terjatuh di lantai dan memberikannya pada Didi yang masih meringis kesakitan.
“Gue memang sengaja. Enak tahu, duduk di lantai dingin.”
Terlihat sekali, Didi mencoba mengeles. Sedangkan Reska masih dengan terpingkal menertawakan kekonyolan sahabatnya itu. Meski begitu, wajah Feri tetap saja datar.
“Sudah, bangun loe!” perintah Reska.
Didi berusaha berdiri, namun tidak bisa, ada yang menahannya. Tanpa sadar ia menduduki permen karet.
“Gue menduduki permen karet.”
“Bwa.. ha.. ha.. emang enak??”
“Kalian bereskan ini, jangan sampai ada masalah. Gue mau masuk.”
Feri kemudian masuk ke dalam kelas, meninggalkan Reska dan Didi yang harus membereskan kursi yang sudah rusak dengan keadaan yang semakin parah, sebelum mereka pergi untuk mengikuti kuliah yang masih satu jam lagi.
“Gue bingung, kehabisan cara supaya bang Feri, minimal, bisa tersenyum lagi. Ini sudah setahun dan mukanya masih flat aja.”
“Tenang, kita bakal nemuin caranya, kok.” Jawab Didi dengan yakin.
“Yakin loe? loe ada punya ide apa?”
“Gimana kalau kita bikin pesta kejutan buat abang loe, besok kan dia ultah tuh, terus kita sama Rani bikinin dia pesta di rumah loe. Siapa tau kita bisa bikin dia senyum lagi.”
“Hmm…ide bagus tuh, entar gue calling Rani deh.”
************************
Keesokan harinya, Didi, Reska dan Rani, sahabat Feri bersama-sama mendekorasi rumah Reska sebagus mungkin dan mereka melakukannya saat Feri sedang pergi keluar rumah agar tidak ketahuan. Reska sudah membeli balon, pita, beberapa hiasan dan kue ulang tahun untuk abangnya. Didi dan Rani mulai memasang hiasan di atas dinding dan plafon rumah Reska dan Reska menyiapkan makanan serta kue ulang tahun di meja makan. Tidak lama kemudian terdengar suara pintu dibuka, Reska, Didi dan Rani bersembunyi di balik pintu dengan maksud untuk membuat Feri terkejut. Mereka juga sudah menyiapkan tepung dan telur yang nantinya akan dilempar ke tubuh Feri saat Feri masuk. Reska memberi aba-aba agar Didi dan Rani bersiap – siap.
“Satu….dua….tiga…” Reska berbisik sambil mengarahkan kedua temannya.
“Plok…Plok..” Reska dan Didi melemparkan telur ke arah depan pintu, Rani membubuhkan tepung dengan segera. Alangkah kagetnya mereka melihat penampakan Feri berubah menjadi agak gempal, pendek dan hitam, yang paling aneh adalah rambut Feri berubah menjadi keriting. Mereka mulai berpikir, ini Feri atau kembarannya genderuwo? Reska, Didi dan Rani segera mendekat ke arah orang yang mereka lempari tepung dan telur.
“Aduuuh non Leska, kok pakai acara lempal-lempal telul segala, ini Kokom non.”
“Bwa….ha…ha…ha…” Reska, Rani dan Didi segera menertawakan Kokom yang badannya berlumuran telur dan tepung.
“Aduuuh, muka Kokom jadi ngga cantik lagi nih…” Protes Kokom dengan mulut cemberut.
“Hehehe…lagian, loe datang di saat ngga tepat sih, harusnya kan itu buat abang gue.” Ucap Reska.
“Loe lebih cantik begitu kok, Kom, muka loe jadi lebih putih, hehe.” Ucap Didi sambil menahan perutnya yang sakit karena tertawa.
“Ah, yang benel den Didi, Kokom mau dong putih tiap hali, kalo gitu ntal Kokom pake tepung deh tiap hali bial makin cantik belsinal.” Ucap Kokom sambil tersipu.
“Hush, ngomong apa’an sih loe Kom, pulang sana, badan loe bau amis ntar dikerubungin lalat deh.”
“Ya udah deh, ntal kalo den Feli datang, Kokom lapolin den Feli kalau kalian beltiga mau ngeljain dia.”
“Ssst…ngga bisa tutup mulut dikit loe? ya udah, loe boleh numpang pake kamar mandi gue, baju loe gue pinjemin deh.” Ucap Reska dengan terpaksa.
“Asiik…makasih ya non Leska, non Leska baik deh.” Ucapnya mau memeluk Reska, Reska segera menjauh dan ngga sengaja menginjak kaki Didi.
“Sori, Di, habisnya Kokom nih, rese banget.” Ucap Reska.
“Iya. No problem, asal loe jangan nginjak-nginjak hati gue aja.”
“Ngomong apa’an sih loe.” Marah Reska sambilmencubit pinggang Didi.
Reska yang jahil mengunci Kokom yang sedang di kamar mandi agar tidak bisa keluar. Didi dan Rani membersihkan bekas tepung dan telur yang berceceran di depan pintu. Saat Kokom mau keluar, dia kaget karena pintunya tidak bisa dibuka.
“Non Leska tolooong, Kokom kekunci nih di kamal mandi.”
“Sori Kom, gue lupa bilang sama loe kalau kunci kamar mandinya rusak, nanti kalau abang gue datang biar gue suruh dia berusaha buat bukain pintunya. Loe tenang aja dulu disana ya.”
“Yah, padahal kan Kokom udah wangi nih, ya udah deh Kokom sabal menunggu..” Ucap Kokom dengan polosnya.
Rani dan Didi tertawa terpingkal-pingkal mendengar ulah jahil Reska yang dengan tega mengunci Kokom di kamar mandi.
“Ngomong-ngomong, Feri kok ngga muncul-muncul sih, Res, mana tepung sama telurnya udah habis lagi.” Ucap Rani.
“Iya nih, biarin deh, ngga usah pakai tepung sama telur, daripada salah sasaran lagi.”
“Iya, gue masih punya ini nih…” Ucap Didi sambil mengeluarkan kandang yang berisi beberapa ekor tikus putih.
“Aaaaa….” Teriak Rani dan Reska sambil melonjak kaget.
“Hahaha…rupanya kalian takut tikus juga ya ?” Tanya Didi jahil.
“Gue bukannya takut, gue geliii, buang jauh-jauh tikusnya..” Teriak Reska histeris.
“Awas loe Di, kalo loe berani ngeluarin tikus-tikus itu, gue jitak kepala loe.” Ancam Rani.
“Iya, ni gue masukin lagi tikusnya ke tas gue.”
“Ada apa sih, ribut banget?”
Rani, Reska dan Didi spontan menganga lebar melihat Feri yang sudah ada di depan mereka. Mereka tidak menyangka kalau Feri datang dengan tiba-tiba.
“Kenapa? kalian ngeliat hantu? ada-ada aja.” Ucap Feri yang heran dengan tingkah adik dan teman-temannya.
“Loe udah pulang bang, cepet amat.”
“Emangnya kenapa kalo gue pulang cepet ?” Tanyanya masih dengan ekspresi datar.
Reska mengedipkan mata untuk memberi aba-aba ke Didi dan Rani. Feri melihat ke arah mereka curiga. Reska, Rani dan Didi segera menyanyikan lagu ulang tahun.
“Happy birthday to you…happy birthday to you…happy birthday…”
“Stop…stop… kalian ngga lucu.” Ucap Feri sambil berlalu meninggalkan mereka.
“Abang, tunggu.” Cegah Reska.
“Gue mau istirahat, kalian tiup lilin dan makan sendiri aja kuenya.” Ucap Feri ketus.
“Kok abang tau sih?”
“Kejutan loe basi tau nggak? loe pulang aja Di, Ran.” Ucapnya sambil mengusir Didi dan Rani dari rumahnya. Feri segera masuk ke kamar dengan muka kesal.
“Kok rencana kita gatot sih, Di ?” Ucap Reska kecewa.
“Gatot kaca kali, udahlah, gue mau pulang aja kalo gitu…” Ucap Didi putus asa.
“Iya, Res, abang loe itu kayak batu, ngga bisa dibikin senyum.” Ucap Rani merajuk sambil mengambil tas dan jaketnya yang ditaruhnya di sofa Reska.
“Aaah, kalian kok pada pulang sih? jangan gitu dong…” Reska mencoba merayu Didi dan Rani, tapi mereka berkeras ingin pulang.
“Ya udah, lain kali kita coba lagi ya, Res.” Ucap Didi.
“Makasih ya Di, makasih ya Ran.”
“Sama-sama. Mungkin abang loe cuma butuh waktu. Kami pulang dulu ya.” Ucap Rani pamit.
“Iya, hati-hati.” Ucap Reska sambil mengantarkan mereka berdua ke pintu depan.
**********************
Reska mengetuk pintu kamar Feri, Feri tidak mau membuka pintu kamarnya. Dia bukannya senang, malah kesal dengan perbuatan adik dan teman-temannya.
“Bang, kami cuma bermaksud baik, mau merayakan ultah abang bareng-bareng, mau lihat abang senyum lagi kayak dulu. Kami kangen abang yang dulu, yang periang, murah senyum dan ngga jutek kayak sekarang.”
“Emangnya kenapa? kalian terganggu sama sikap gue yang begini, ya udah jangan deketin gue, jangan maksa gue untuk jadi apa yang kalian mau.” Teriak Feri dari balik pintu kamarnya.
“Reska tau abang sedih atas meninggalnya Papa dan Mama, tapi bukan begini caranya bang, semua orang juga sedih dan terpukul, apalagi Reska. Tapi Reska mohon abang jangan begini. Ngga baik terus-terusan berlarut dalam kesedihan.”
“Kasih gue waktu. Abang pengen sendiri.”
“Oke, tapi jangan lama-lama. Reska ngomong begini juga demi kebaikan abang, bukan bermaksud menggurui abang.” Ucap Reska.
Reska membereskan makanan yang sudah dia buat dengan susah payah ke lemari makan dan menyimpan kue brownies untuk kakaknya di kulkas. Ia juga melepas semua hiasan-hiasan yang sudah dipasang teman-temannya di dinding dan plafon rumahnya. Tiba-tiba tanpa Reska duga, Feri keluar kamar dan menghampiri Reska lalu segera memeluknya.
“Ma’afin gue, gue egois banget, Res.”
“Iya, abang memang egois. Reska ngga suka sama abang yang egois.” Ucap Reska terharu.
“Abang akan berusaha berubah mulai sekarang.”
“Nah, gitu dong. Jangan lupa minta ma’af ke Didi dan Rani juga ya?”
“Iya, tenang aja.” Ucap Feri sambil mengacak-acak rambut adiknya.
“Jail deh, rambut gue abis dari salon tau.”
“Hehe.”
“Asiik, abang akhirnya bisa senyum, ini baru abang gue.” Ucap Reska senang.
“Telepon Rani sama Didi gih, kita traktir mereka makan di restoran sekarang.”
“Bener bang? ya udah deh, aku hubungi mereka dulu ya. Hmm…. tapi ada sesuatu yang aku lupa lakuin bang, tapi apa ya?”
“Apa? pikunan banget loe, coba ingat-ingat lagi.”
“Aaah, bukan apa-apa kok.”
**********
Reska dan Feri berangkat menjemput Rani dan Didi untuk mentraktir mereka makan sekaligus meminta ma’af atas sikap Feri yang keterlaluan. Tanpa Reska sadari, Kokom telah dia biarkan berjam-jam di kamar mandi tanpa bisa keluar dari sana.
“Non Leska….non Leska, Kokom kehabisan napas nih.” Teriaknya sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi Reska.
“Tolongin Kokom, siapa aja, tolooong, bukain pintu !!!!” Kokom melolong dari dalam kamar mandi, sayangnya tidak ada seorangpun yang bisa mendengar teriakannya.
**************
#ALoveGiveaway
Cerpen Kolaborasi oleh :
Yanti Nurhida (@Anti17n) dan Ririn (@Ririn_ck_Riana)

Penulis:

Yantinurhida lahir pada tanggal 17 Nopember. Dia anak pertama. memiliki 1 adik laki2 yang sekarang sudah kelas XI SMA. sedang dalam pencarian pekerjaan yang membuatnya merasa menemukan passion-nya. Hobinya adalah menulis, membaca, bermimpi, menggambar, menyanyi asal , nonton film, nonton acara sport, main game dan menonton Running Man. Motto : Selalu OPTIMIS dan pantang menyerah!

3 thoughts on “#ALoveGiveAway

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s