Diposkan pada dailynotesyanti

PERJALANAN KE KAMPUNG HALAMAN BAPAK

passport_to_happiness.jpg
Paspport to Happines : 11 Kota 11 Cerita Mencari Cinta, Karya : Ollie

 

Saya anak pertama dari dua bersaudara. Jujur, saya belum banyak pengalaman dalam bepergian. Tapi karena tempat kerja saya yang baru yang ada hubungannya dengan pariwisata, saya jadi punya kesempatan untuk jalan-jalan ke luar kota saya beberapa kali. Saya anak rumahan yang jarang sekali jalan-jalan ke luar rumah, apalagi ke luar daerah. Saya kebanyakan menghabiskan waktu di rumah. Tapi saya senang sekali karena dalam pekerjaan saya yang baru akhirnya saya bisa beberapa kali ke luar daerah tanpa mengeluarkan biaya transportasi dan akomodasi karena ditanggung kantor.

 

Saya ingat perjalanan pertama saya ke luar daerah. Waktu itu saya pergi bersama Bapak, Mama, dan adik saya yang masih batita tahun 2001 untuk pulang ke kampung halaman Bapak di Desa Gunung Kidul, Jogjakarta. Saya, Bapak dan Mama pergi ke Jogjakarta lewat jalur laut dan lewat Surabaya. Kala itu ekonomi keluarga kami bisa dibilang pas-pasan dan harga tiket kapal laut kala itu lebih murah dan terjangkau jika dibandingkan dengan naik pesawat terbang. Kami menuju Pelabuhan Trisakti jam 3 dini hari, saya ingat kala itu saya masih tertidur lelap lalu Mama tiba-tiba membangunkan saya dengan tergesa-gesa bahkan adik saya juga masih tidur. Saya sama sekali tidak mengetahui rencana Mama dan Bapak saya untuk mengajak kami anak-anaknya pergi untuk menuju kampung halaman Bapak di Jogjakarta.

 

Bapak saya adalah orang Jogjakarta asli, dan sejak lulus SMA beliau merantau dari kota kelahirannya menuju ke Kalimantan Selatan, tempat Bapak dan Mama saya akhirnya dipertemukan. Sudah tujuh belas tahun lamanya Bapak tidak pernah pulang ke kampung halamannya. Saya yakin Bapak sangat rindu dengan Mbah saya di Jogjakarta setelah belasan tahun tidak bertemu. Kini saat Bapak pulang, dia tidak hanya sendiri tapi untuk pertama kalinya mengajak serta istri dan kedua anaknya.

 

Saya ingat sekali waktu itu kepergian kami mendadak, Mama baru saja mengemas semua baju dan keperluan kami di dalam tas jinjing kecil, satu-satunya tas tempat pakaian yang kami miliki. Dengan uang seadanya kami berempat pergi ke Jogjakarta. Kami sampai di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Kemudian kami naik Bus sampai 2 kali untuk menuju Kota Jogjakarta, waktu itu umur saya masih 10 (sepuluh) tahun. Dan sangat mabuk darat, berkali-kali saya muntah di Bus dan kami tidak pernah kebagian tempat duduk di dalam Bus yang sangat sesak penuh dengan penumpang. Setelah 2 kali naik Bus, terakhir naik mobil charteran satu kali untuk menuju kampung Mbah ‘lanang’ dan mbah ‘wedo’ saya yang cukup jauh dan terpencil.

 

Desa tempat Mbah saya tinggal cukup sulit dicapai dan jauh dari pusat kota, kami harus ke Desa yang terletak di atas gunung dengan berjalan kaki setelah turun dari mobil charter. Dan untuk pertama kalinya saya melihat hamparan pegunungan yang sangat indah dan menghijau yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Untuk pertama kalinya juga saya mendaki gunung dan saya cukup kelelahan. Sesampai di depan sebuah gubuk kecil sederhana dengan bilik yang terbuat dari bambu dan beratap genteng tanah liat, saya melihat dua orang wanita tua berdiri menunggu kedatangan kami dengan senyuman mengembang di wajahnya. Kemudian Bapak menghampiri seorang wanita tua yang saya perkirakan adalah Mbah saya karena seumur hidup saya tidak pernah melihat Mbah saya sampai hari ini saya akhirnya bisa melihatnya dan di sebelahnya adalah Nenek Bapak, Eyang putri kami.

 

Untuk pertama kalinya saya melihat Bapak menangis dan berulang kali mengusap air matanya tetapi tetap jatuh juga. Untuk pertama kalinya saya tahu kalau Bapak bisa menangis juga. Setahu saya Bapak adalah sosok yang selalu terlihat tegar, kuat dan tidak pernah menangis. Tetapi, siapa yang tidak menangis apabila bertemu kembali dengan orang tua apalagi ibu yang sangat dicintai setelah tujuh belas tahun lamanya tak bertemu?

 

Bapak memperkenalkan Mbah wedo dengan Mama, kemudian dengan kami, cucu-cucunya. Mbah juga memeluk Mama dengan erat, juga aku dan adikku yang masih ada dalam gendongan Mama. Aku juga ikut menangis haru, entah kenapa, terbawa suasana karena semua orang menangis, bahkan adikku yang kecil juga ikut menangis dalam pelukan Mbah. Mbah wedo dan Eyang putri mengajak kami masuk. Di dalam rumah Bapak dan Mbah wedo juga Eyang putri berbicara dalam bahasa yang tidak saya mengerti, yaitu bahasa ‘Jawa’.

 

Selama di rumah si Mbah, Mbah menyambut kami dengan baik. Mbah bahkan setiap hari memotong ayam kampung peliharaannya untuk menyediakan makanan istimewa untuk kami. Saya sangat menyayangi Mbah wedo saya, dan Mbah wedo saya yakin juga sangat menyayangi kami. Mbah sering mengajak saya bicara dan membelai rambut saya, kadang Mbah mengeluarkan Bahasa ‘Jawa’ yang tidak saya mengerti, Mbah juga kadang-kadang berbahasa Indonesia agar saya bisa paham apa yang diucapkannya.

 

Selama disana saya tidak berjalan kemana-mana, hanya berkeliling di kampung Mbah. Kami menghabiskan waktu enam hari yang tak terlupakan di Jogjakarta, di kampung Mbah yang masih asri. Disana banyak perkebunan palawija yang subur, hamparan sawah menghijau yang menyejukkan mata, undakan-undakan sengkedan tanah kosong yang siap digarap untuk ditanami singkong dan sayur-sayuran, kebun di halaman rumah Mbah yang ditanami pohon lada, singkong dan kacang tanah. Setiap hari kami harus naik gunung untuk mandi ke ‘beli’, sebutan untuk satu-satunya mata air yang tidak pernah kering di Desa itu, airnya dingin dan sebening kaca. Lalu saya menghabiskan waktu bermain dengan adik saya di halaman rumah Mbah.

 

Dari perjalanan itu saya jadi lebih mengenal seperti apa sosok Bapak sebenarnya. Bapak yang diam-diam rindu akan kampung halaman dan orang tuanya yang sudah ditinggalkannya belasan tahun. Bapak yang bisa menangis sesenggukan saat melihat kembali orang tuanya. Oya, saya belum bercerita tentang Mbah lanang ya, Mbah lanang sudah lama bercerai dan pisah rumah dengan Mbah wedo saya. Beliau kini tinggal dengan adik Bapak dan rumahnya cukup jauh dari rumah Mbah wedo. Kami juga mengunjungi rumah Mbah lanang dan adik Bapak. Kadangkala saya tidak mengerti mengapa ada orang yang sudah hidup berpuluh tahun bersama memutuskan untuk berpisah dari pasangannya. Entahlah, itu adalah pilihan dan mungkin jalan terbaik bagi mereka berdua di masa-masa tua mereka.

 

Hari terakhir kami di rumah Mbah wedo, Mbah berpesan agar Bapak sering-sering pulang ke Jogja dengan mengajak anak dan istrinya lagi, jangan harus menunggu 17 tahun lagi untuk kembali kesana. Mbah bahkan pernah bertanya pada saya apakah ingin hidup di Jogjakarta menemani Mbah atau tidak, saya yang kala itu masih anak-anak dan tidak mengerti hanya menjawab pertanyaan Mbah dengan menggeleng, karena saya merasa kampung halaman saya bukan disitu dan rumah saya juga bukan disitu.

 

Sudah empat belas tahun sejak saat itu Bapak tidak pernah mengajak kami lagi untuk pulang ke kampung halaman untuk menjenguk Mbah di Jogja. Saya tidak tahu alasannya apa dan kenapa. Saya juga urung menanyakannya karena Bapak cukup sensitif kalau disinggung tentang masalah ini. Saya yakin Bapak juga pasti merindukan untuk pulang ke kampung halamannya, karena sejauh apapun seseorang pergi, mereka pasti akan selalu merindukan kampung halamannya dimana ia menghabiskan masa kecil sampai remaja. Terlebih Bapak pasti sangat rindu ingin bertemu dengan Ibunya dan Bapaknya juga neneknya, Eyang putri kami, tetapi rasa kangen itu hanya ia simpan dalam hati.

 

Saya juga mengkhawatirkan keadaan Mbah wedo dan Mbah Lanang juga Eyang putri saya disana. Kabar terakhir dari Mbah adalah beberapa bulan lalu. Kemudian Mbah tidak pernah menghubungi kami lagi, Kamipun tidak bisa menghubungi Mbah lagi karena nomor handphone Mbah sudah tidak aktif. Kami putus kontak dengan Mbah. Tetapi kami berharap Mbah sehat dan baik-baik saja. Dan suatu saat kami bisa kembali ke Jogjakarta untuk menjenguk Mbah wedo, Mbah Lanang dan Eyang saya yang sudah sangat sepuh.

 

Bagi saya banyak sekali hal yang bisa dipelajari dari perjalanan kita ke tempat lain yang tidak pernah kita kunjungi. Kita bisa melihat hal-hal baru yang tidak pernah kita lihat di tempat tinggal kita, kita bisa mendengar Bahasa dari daerah lain yang mungkin tidak pernah kita dengar sebelumnya, mempelajari budaya masyarakat sekitar yang sangat berbeda dengan budaya masyarakat di sekitar kita dan makanannya yang beragam yang belum pernah kita coba sebelumnya. Perjalanan akan membuka wawasan kita tentang banyak hal. Dan mengubah sudut pandang kita tentang sesuatu.

Sometimes we need travel to learn something in the way.

*(Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Passport to Happines karya Ollie yang diselenggarakan GagasMedia dan Acer)

Iklan

Penulis:

Yantinurhida lahir pada tanggal 17 Nopember. Dia sulung dari dua bersaudara. memiliki 1 orang adik laki-laki yang sekarang sedang duduk di kelas XI SMA. Sedang dalam pencarian pekerjaan yang membuatnya merasa menemukan passion-nya. Hobinya adalah menulis blog, membaca, bermimpi, menggambar, menyanyi asal , nonton film, nonton acara sport, main game dan menonton Running Man. Motto : Selalu OPTIMIS dan pantang menyerah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s