Posted in dailynotesyanti

Cinta yang Pahit

               Cinta. Apa itu cinta? Aku nggak mengerti sama sekali sama yang namanya cinta. Aku Yanti, umurku 19 tahun, baru lulus SMA dan baru memasuki dunia kerja. Ternyata kerja itu capek dan yang namanya kerja sama orang lain, kita harus siap disuruh-suruh dan jangan membantah perintah atasan jika disuruh. 

“Hufh..” Aku menghela nafas panjang.

“Lagi-lagi printernya ngadat, padahal masih banyak halaman yang musti diprint, dan ini sudah tanggal 24, besok terakhir mengirimkan laporan bulanan, uukh” Keluhku dalam hati.

“Hari ini Pak Arya nggak masuk, biasanya dia yang selalu menolong disaat seperti ini.” 

“Ruangan kerja hari ini kosong, Pak Arya tidak masuk kerja karena sakit diare, Pak Rizal sedang ke luar kota dan Bu Iriana anaknya sedang sakit jadi tidak masuk kerja juga, hanya tersisa aku sendiri.”

“Tapi tidak sendiri, aku ditemani  dengan banyak pekerjaan.” Keluhku lagi dalam hati.

“Kata siapa bekerja itu enak? Bekerja itu melelahkan dan menguras energi dan pikiran. Mencari uang itu susah, walaupun aku hanya punya penghasilan kecil, tapi pekerjaan yang kulakukan sangat banyak.” Gumamku kesal. 

Aku suka mengeluh, tapi tidak ada yang tahu, karena aku hanya mengeluh dalam hati. Di luar aku terlihat serius dan tenang. Di dalam hati aku suka kesal dan ngedumel sendiri.

Apa ada pekerjaan yang mudah? Setiap profesi memiliki resikonya masing-masing, masih mending aku bekerja di ruangan nyaman dengan AC, aku tidak harus banyak berjalan kemana-mana dan banyak bekerja di balik meja. Yang kubutuhkan hanya kekuatan mata untuk menatap layar monitor dan tangan untuk mengetik lama dan juga pantat yang kuat untuk duduk lama.

Coba lihat di sekeliling, ada banyak profesi yang lebih penuh resiko  dan melelahkan, seperti orang yang bekerja memberi makan hewan buas di kebun binatang, penambang emas  tradisional atau pembersih kaca di gedung-gedung pencakar langit, bekerja sebagai petugas penyapu jalanan juga sangat melelahkan dan harus bekerja di bawah panas terik matahari. 

Setelah lulus SMA aku berpikir aku akan bekerja apa saja yang penting halal dan bisa membantu ekonomi keluargaku. Sekarang setelah dapat kerja, aku malah banyak sekali mengeluh.  Mungkin, aku kurang mensyukuri apa yang aku dapatkan.

“Aku tidak bisa memperbaiki  kerusakan printer ini.” Gumamku lagi.

Aku mengecek handphoneku, membuka laman facebook, ada seorang teman yang dari dulu membuatku iri, Levita namanya. Dia selalu mendapat nilai tinggi waktu sekolah, dia menarik, kharismatik, semua cowok di SMA tau siapa dia, dia sangat popular di kalangan cowok, dia mengunggah fotonya dan pacarnya, bahkan status hubungannya menikah.

“Ah, jaman sekarang orang-orang suka berlebihan, soal hubungan apalagi, masih pacaran saja di facebook ditulis menikah dengan… lucu banget.” Gumamku.

“Bosannya..”

“Bikin status saja.”

BETE. PRINTER NGADAT. PADAHAL KERJAAN MASIH BANYAK.

Tiring!

Beberapa kali muncul pemberitahuan facebook kalau ada komentar baru. Beberapa dari sahabatku, Jesi, dan ada beberapa dari teman facebook yang aku tidak kenal. Entah dapat dari mana aku nama akun-akun ini. Teman -temanku di facebook hanya 70 % saja yang aku kenal, sisanya adalah akun yang aku tidak kenal siapa pemiliknya.

Ada satu nama akun facebook (fb) yang selalu setia mengomentari setiap status yang aku buat, sudah beberapa minggu ini, orang itu selalu menyukai statusku dan juga berkomentar. Ya, asalkan tidak aneh-aneh, aku tidak akan menghapus akunnya dari pertemanan.

Nama akun itu adalah Ervin. Aku orangnya suka penasaran, aku membuka dan stalking tentang akun fb itu. Jadi dia itu lebih tua 3 tahun dariku dan dari biodatanya tidak disebutkan pekerjaannya. Sepertinya dia sering sekali main fb, karena dalam sehari saja statusnya banyak sekali. Aku balas menyukai statusnya juga.

Tiba-tiba ada pesan masuk di fb ku, dia menanyakan aku tinggal dimana dan berapa umurku. Ya, aku hanya mencantumkan tanggal dan bulan lahirku tapi tidak mencantumkan tahun kelahiranku.

Karena aku orangnya jujur dan tak suka berbohong,  tentu saja aku tak pernah memalsukan identitasku, kuberitahu kalau aku tinggal di Kalimantan Selatan dan umurku 19 tahun.

Malamnya dia mengirim pesan lagi, bahkan minta nomor handphoneku. Dia mengatakan ingin berteman denganku, kupikir kalau hanya berteman saja tidak masalah. Lagipula aku tidak pernah punya teman laki-laki sebelumnya dan Ervin ini tinggal di Jakarta, jadi tidak masalah kalau aku jadikan dia tempat curhat, karena toh dia tidak kenal siapa aku dan tidak kenal dengan teman-temanku atau teman kerjaku jadi pasti curhat dengan dia itu aman.

“Met malam, lagi apa?”

Kata-kata itu sangat standar, tapi aku suka karena baru kali ini ada yang memperhatikanku. Jujur, aku tidak pernah berpacaran sebelumnya. Hanya dengan pertanyaan sederhana semacam itu, maka hatiku bisa luluh.

Semakin lama kami makin sering berkirim SMS dan bahkan dia sudah berani menelponku. Aku pikir itu adalah perhatian khusus untukku dan hanya karena dia menelponku, aku langsung gede rasa. Mendengar suaranya membuatku merasa berdebar-debar.

Aku tidak mengerti, selama 2 hari dia tidak ada kabar. 

Tiba-tiba ada sebuah nomor baru mengirimiku SMS, ternyata Ervin ganti nomor baru, katanya handphone nya tercebur di kolam renang, makanya dia ganti nomor baru. Setiap malam dia selalu menelponku. Kalau dia meminta aku yang menelponnya, aku juga menelponnya. Kami bergantian menelepon.

Sudah 2 bulan aku dan dia saling menelpon, berkirim SMS dan berkirim pesan di facebook. Aku sangat nyaman membicarakan berbagai hal dengannya. Aku menceritakan ini pada Jesi, Jesi malah menyarankanku untuk berhati-hati pada orang yang tidak begitu kukenal apalagi karena aku mengenal laki-laki  itu di sosial media. Jesi menyuruhku untuk tidak begitu percaya dengan semua omongan apalagi karena Ervin juga sering mengucapkan kata-kata romantis.

Aku tidak menuruti nasehat Jesi. Aku sama sekali tidak peduli kalau aku mengenalnya di sosial media. Bagiku ini adalah perasaan suka, perasaan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Dan aku terus berkomunikasi dengan Ervin.

Mama kadang marah-marah karena aku suka telepon-teleponan di kamar sampai tengah malam. Aku bahkan sering diam-diam meneleponnya di tempat kerja saat sedang tidak ada pekerjaan. 

Sebulan kemudian, dia menembakku, tepat seminggu sebelum aku berulang tahun. Senang sekali rasanya akhirnya aku memiliki pacar. Tapi, pacar macam apa ini yang tidak pernah terlihat fisiknya, hanya aku bisa rasakan dalam status hubungan di facebook menjadi berpacaran.

Aku dengan mudahnya percaya pada seseorang, padahal biasanya aku tak semudah ini percaya pada orang lain. Mungkin aku sudah dibutakan rasa suka.

Dia tidak membalas SMS-ku lima menit saja, aku langsung marah-marah. Mungkin aku terlalu berlebihan dan posesif.

Aku hanya masih belajar berhubungan dengan seseorang, aku rasa kadang aku mengekangnya dan membuatnya tidak nyaman. Kami pernah bertengkar karena masalah ini di telepon. Tapi tidak lama, kami berbaikan lagi. Aku tidak bisa marah padanya, aku selalu minta maaf duluan.

Hubungan kami akhirnya berjalan satu bulan, dia mengirimiku syal sebagai kado ulang tahun. Aku menghargainya, walaupun syal itu jarang kupakai karena cuaca sedang panas dan aku tidak mungkin menggunakan syal itu setiap hari. Tapi tetap saja aku sangat menghargai hadiah kecil darinya.

Kami  sering bertengkar, tapi tidak pernah lama, kami akan segera baikan setelah aku minta maaf. Kadang aku merasa begitu bodoh, kesalahan siapapun, selalu saja aku yang minta maaf. Aku terlalu sering mengalah dan hubungan ini sudah tidak sehat. Kenapa aku begitu seperti ini, akupun tidak tahu.

Dia menyarankanku untuk begitu dan begini dan aku menurutinya. Dia mengirimiku surat dan aku mengiriminya balasan. Dia mengirim fotonya. Dia memang tidak terlalu tampan, tapi aku sangat menyukainya. Mungkin dia pakai ilmu hipnotis sampai aku begitu tertarik padanya.  

Tapi.. aku juga tak terlalu memiliki kecantikan yang bisa dibanggakan. 

Aku tak pernah memandang seseorang dari fisik. Tapi hatinya. Apakah hati seseorang bisa dilihat? Tidak mungkin, tapi aku bisa menilainya dari cara bicaranya yang sopan dan dia juga sangat sayang pada keluarganya. Dia punya dua adik laki-laki, dia sering memposting foto bersama dua adiknya di fb.

Jesi bilang aku gila karena berpacaran dengan orang yang tidak nyata. Aku bahkan tidak tahu apakah semua yang dikatakan Ervin itu benar dan apa itu memang fotonya. Aku mengakui kalau aku sudah gila, aku gila karena cinta.

Setelah enam bulan jadian, aku jadi tahu kalau dia juga sering berkomentar di dinding facebook wanita lain dan isinya sangat manis, persis seperti kata-kata yang sering dia tulis di dinding facebook ku. Dan aku merasa sakit hati olehnya. Aku menanyakan langsung padanya tapi dia tidak mengaku dan bilang kalau adiknya yang meminjam facebooknya untuk merayu gadis-gadis. Aku tidak percaya dengan ucapannya itu. Aku tidak membalas SMS nya.

Esoknya aku bangun dengan mata sembab, aku menangis semalaman, aku tidak mengerti kenapa aku harus menyukai orang yang playboy dan tidak setia seperti Ervin. Aku dengan mudahnya tertipu oleh kata-kata manis, padahal dia mengucapkannya ke semua wanita. Tapi,  aku selalu mencoba untuk mempercayainya. 

Cinta itu tidak semanis yang aku kira, aku bisa terluka dan patah hati karenanya. Karena itu aku selalu berhati –hati pada orang agar tak mudah menyakiti hatiku. Aku selalu berhati-hati saat berhubungan dengan orang lain, tapi dengan mudahnya seorang Ervin mematahkan hatiku. 

Ervin menelponku berkali-kali namun tidak kujawab. Saat ini aku butuh ketenangan. Jesi yang sejak awal tidak setuju dengan keputusanku berpacaran dengan orang yang tidak begitu kukenal menyaranku untuk memutuskan Ervin sebelum terlambat. Tapi aku malah berbaikan dengan Ervin. Jesi pasti akan marah, jadi aku tak memberi tahunya kalau aku dan Ervin sudah berbaikan.

Ervin mengatakan kalau dia ingin datang ke kotaku. Aku menolaknya dengan keras, aku tidak mau dia bertemu orang tuaku, karena aku tidak pernah bilang ke orang tuaku kalau aku berpacaran dengan orang yang kukenal lewat facebook. Aku belum siap mempertemukannya dengan mereka.

Ervin bilang dia akan menjelaskan semuanya pada orang tuaku dan akan meminta restu orang tuaku, tapi aku melarangnya. Dia bilang akan tetap datang ke kotaku karena dia serius dengan hubungan kami. Dia cukup keras kepala dengan kemauannya dan akhirnya aku menyetujuinya, dia sudah tahu alamatku karena kami sering berkirim surat. Aku berjanji akan menjemputnya di bandara, meskipun hanya pakai sepeda motor, karena hanya alat transportasi itu saja yang aku punya di rumah.

Sebelum berangkat, dia memposting foto tiket pesawatnya. Aku tertawa senang dan sudah minta ijin pada atasanku di tempat kerja untuk pulang lebih awal karena ada urusan keluarga, walau sebenarnya aku ingin menjemput pacarku. 

Ervin akan datang hari ini dan aku senang sekali dan sudah tidak sabar untuk melihat wajahnya secara langsung. Akhirnya aku bisa bertemu dengan pacarku.

Jam menunjukkan pukul 14.30 WITA, seharusnya pesawat Ervin sudah tiba. Aku sudah sampai sejak pukul 14.00 WITA. Tak masalah jika aku menunggu, aku harus menunjukkan kesan yang baik di pertemuan pertama kami, aku tak ingin jika dia yang menungguku. Sudah sejam berlalu dan semua penumpang pesawat dari Jakarta dengan nomor penerbangan Ervin sudah keluar semua. Tapi dimana Ervin? Mengapa dia tidak muncul.

Aku sudah hampir menangis saat jam menunjukan pukul 6 sore. Aku sudah mencoba menghubunginya beberapa kali tapi dia tidak mengangkat teleponnya. Dan akhirnya dia menghubungiku.

“Maafin aku, Yan, aku batal berangkat ke Banjarmasin.”

“Apa? Kenapa kamu batalin dan kamu nggak ngasih tahu aku?”

“Sebenarnya aku sudah sampai di Bandara Soekarno-Hatta dan tiba-tiba aku mendapat panggilan dari Adikku, adikku mengatakan kalau Mamaku kena serangan jantung dan masuk rumah sakit, akhirnya aku pergi ke rumah sakit untuk mendatangi Mama.”

“Lalu? Gimana keadaan Mama kamu?” Aku menanyakannya sambil menahan tangisanku yang hampir mau pecah.

“Syukurlah dia sudah baik-baik saja sekarang.” Ucap Ervin sambil menghela nafas. 

“Mama nggak tahu kalau aku mau pergi ke Banjarmasin, kamu tahu kan kalau Mama nggak tahu tentang hubungan kita ini, dan setelah adikku bilang kalau aku mau pergi ke Banjarmasin Mama langsung marah-marah dan saat aku mau berangkat ternyata Mama malah kena serangan jantung. Aku nggak tahu kalau Mama bakal sakit begini. Maafin aku, Yan, aku sudah membuat kamu kecewa, apa kamu masih berada di Bandara?”

“Iya, aku menunggu kamu dan sekarang sudah empat jam aku berada disini.”

“Sekali lagi aku minta maaf.”

“Ya sudah, mau  apa lagi.”

“Maaf ya.”

“Sudah, jangan minta maaf terus, semoga Mama kamu cepat baikan ya, sekarang aku mau pulang ke rumah.”

“Tapi, Yan..”

“Apa lagi ?”

“Mama sudah kuceritakan soal hubungan kita, Mama memarahiku dan malah memaksaku untuk menikah dengan gadis pilihan Mama, dia temanku sejak kecil dan kami bertetangga, Mama sudah menganggap gadis itu seperti anak Mama sendiri, Mama mau aku menikah dengan gadis itu, aku sudah menolaknya tapi Mama mengancamku kalau aku tidak akan diakui sebagai anak lagi kalau sampai aku tidak menikahi gadis itu.”

Apa? Kenapa semua ini harus terjadi padaku, apa yang dikatakan Ervin barusan membuatku sangat marah dan kecewa. Aku tak dapat berkata-kata lagi, Ervin terus berbicara dan aku hanya diam.

“Ma’afin aku. Kita harus berpisah dengan cara seperti ini. ”

“Ya sudah, kalau memang itu jalan yang terbaik untuk kita.”

“Sekali lagi, aku minta ma’af, aku sangat menyayangi kamu, tapi aku tidak bisa menentang Mama, karena dia juga orang yang paling kusayangi dalam hidupku.”

“Jangan menangis, kamu kuat, Yan.” Gumamku dalam hati, tapi air mataku terus berjatuhan dan aku tak dapat menahan perasaanku lagi. 

“Kamu jaga diri baik-baik ya, dan aku harap kamu akan menemukan laki-laki yang lebih baik dari aku.” Ucap Ervin

“Iya.” Jawabku singkat, aku tak dapat berkata apa-apa lagi selain menangis.

Aku segera menutup telepon dan menghapus air mataku, tapi air mataku terus berjatuhan dan tak bisa kuhentikan. Aku berteriak sambil terus berkendara menuju rumah.

Apa yang terjadi hari ini sama sekali tak pernah kusangka. Bertemu saja tidak pernah, kenapa aku begitu tersakiti dengan orang seperti dia. Kenapa Mamanya tidak merestui hubungan kami? Apa karena Ervin orang kaya dan aku hanya orang miskin. Dan siapa gadis itu, dia hebat sekali karena mendapat kasih sayang dari Mama Ervin.

Kadang, apa yang kita harapkan tidak selalu bisa kita dapatkan, begitu pula dengan urusan percintaan. Walaupun aku dan Ervin tidak ditakdirkan untuk bersama tapi aku bersyukur atas segala kejadian ini, aku mengambil banyak sekali hikmah dan pelajaran dari kejadian ini. 

Meskipun aku dan dia hanya berpacaran di dunia maya, tapi aku bahagia karena dialah yang mengenalkanku arti cinta. 

Walaupun harus berakhir pahit dan aku harus merelakan dia, tapi aku tidak akan pernah putus asa dalam cinta, aku tidak akan menyerah seperti yang dilakukan Ervin yang begitu mudah menyerah pada cintanya padaku. Aku akan memperjuangkan cintaku.

Penulis:

Yantinurhida lahir pada tanggal 17 Nopember. Dia anak pertama. memiliki 1 adik laki2 yang sekarang sudah kelas XI SMA. sedang dalam pencarian pekerjaan yang membuatnya merasa menemukan passion-nya. Hobinya adalah menulis, membaca, bermimpi, menggambar, menyanyi asal , nonton film, nonton acara sport, main game dan menonton Running Man. Motto : Selalu OPTIMIS dan pantang menyerah!

2 thoughts on “Cinta yang Pahit

  1. Kalau sudah urusan cinta, omongan kanan kiri enggak akan didengar. Yaa walau sudah berjuang dan akhirnya berpisah juga…mau gimana lagi. Yang penting sudah berjuang.

    Eh, mampir ke blogku juga ya? Aku juga ikutan kuis Romeo nih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s