Diposkan pada dailynotesyanti

Sebuah Catatan Cinta

​Aku nggak suka bau rokok, itu membuatku batuk-batuk.

Aku nggak suka kehadiranmu karena itu membuat nafasku sesak.

Setiap kali aku melihatmu berjalan di hadapanku, selalu membuat aku tersenyum sepanjang waktu.

Dan aku tau, inilah cinta.
Sebulan sudah kuketahui dia jadian dengan seorang gadis : cantik, tinggi, putih, manis dan masih muda, umurnya baru 20 tahunan. Kalau dibandingkan dengan aku yang berpenampilan biasa, nggak bisa dandan dan nggak stylish. Aku pasti kalah jauh dibandingkan dengan gadis itu.
                 Sekarang umurku 24 tahun, dan laki-laki yang kutaksir lebih muda satu tahun usianya dariku. Ya, aku sedang jatuh suka pada lelaki yang lebih muda alias brondong. Tapi jiwa laki-laki itu seperti anak- anak, dia suka bermain game, seperti dia suka bermain hati dengan banyak wanita. Dulu, kukira dia laki-laki yang polos dan baik hati. Orang sepertiku yang mudah jatuh cinta bisa salah paham dengan kebaikan sikapnya, tapi bukan hanya denganku saja dia bersikap baik, dia bersikap baik ke siapa saja, wanita mana saja.
Mungkin semua kualitas yang dimiliki oleh gadis itu tidak dimiliki olehku, tapi aku wanita yang baik dan setia. Mungkin sifat baik tidak bisa terlihat di luar, karena itu adalah salah satu kecantikan yang tersembunyi di dalam. Tidak seperti make up yang bisa menambah kecantikan yang bisa dipandang dari luar. Suatu hari gadis itu mencari laki-laki yang kutaksir, sebut saja dia Gio dan gadis itu adalah Luna.
Luna mengajakku mengobrol, aku merasa ada suatu perasaan tidak suka ketika mengobrol dengan Luna. Mungkin aku minder bila dihadapan wanita yang jauh lebih cantik dariku. Ada terbersit perasaan tidak nyaman saat dia mengajakku ngobrol. Semakin lama mengobrol dengan Luna, hatiku semakin sakit. Karena aku melihatnya lebih baik dariku. 
              Dia wanita yang ramah, setiap aku melihat wajahnya aku selalu melihat sebuah senyuman yang indah. Matanya yang bulat dan bulu matanya yang lentik, lesung pipinya yang dalam dan aura keceriaan yang selalu muncul setiap ia tersenyum. Laki-laki mana yang bisa menolak pesona wanita ini. Jadi wajar saja kalau aku kalah dari dia. Tapi aku tidak mau menyerah begitu saja, aku akan berusaha mendapatkan Gio yang kala itu masih single dan masih dalam tahap pendekatan dengan Luna.
Luna gadis yang baik, wajar jika ia bisa merebut hati Gio. Suatu kali, saat aku menyadari perasaanku pada Gio, aku berubah, dari seseorang yang pendiam menjadi sosok yang lebih ceria dan suka melontarkan jokes-jokes lucu. Ternyata ada semacam hormon yang dilepaskan ketika kita sedang jatuh cinta dan hal itu membawa kebahagiaan dalam hidup kita.
Aku menatap Gio sangat lama saat ia tak menyadarinya. Aku bahkan stalking akun media sosialnya dan untungnya aku tak menemukan foto Luna disana. Dari sosial medianya aku baru tahu kalau dia menyukai warna biru dan dia sangat suka Klub Sepakbola Chelsea. Aku ikut-ikutan nonton saat ada pertandingan Chelsea dan bikin status mendukung klub sepakbola itu agar dia membacanya. Suatu hari aku sengaja memakai baju dan jilbab warna favoritnya, biru agar ia senang melihatnya.
Aku yang biasanya nggak pernah dandan, jadi mulai membeli alat make up untuk pemula dan belajar make up. Dan aku berdandan saat ke kantor. Teman-teman yang menyadarinya mulai mengejekku, tapi aku acuh saja. Tapi sayangnya Gio tak pernah menyadarinya.
Pernah suatu kali kami hanya tinggal berdua dalam ruang kantor yang sunyi. Rasanya aku ingin sekali menghampirinya lalu mengungkapkan perasaanku, tapi sayangnya dia keburu keluar dari ruangan untuk menghindariku. Apa dia begitu tak menyukaiku? Hingga berada dalam satu ruangan bersama pun dia tak sudi? Entahlah, sejak saat itu aku sering melihatnya chatting lewat aplikasi Whatssapp dengan seseorang sambil senyum-senyum sendiri. Dan kutebak, itu pasti Luna. Mereka saling menyukai, pantas mereka bersama. Dan aku tidak rela dengan keadaan ini, tiba-tiba dunia terasa tak adil bagiku. Kurasa hidupku tak berarti lagi saat aku melihatnya memajang foto di Instagram dengan Luna. Mereka saling memberi komentar  dalam postingan foto itu. Beberapa hari kemudian dia kembali memajang kue donat hasil bikinan Luna untuk dia berbuka puasa sunah. Rasanya hatiku seperti sangat panas, aku cemburu dan aku marah.
Di umurku yang 24 tahun ini aku masih jomblo, jadi ada beberapa orang mencoba menjodoh-jodohkanku. Tapi tidak pernah berhasil, karena mereka tidak tahu bahwa aku sedang jatuh cinta pada Gio. Aku menyimpan rapat-rapat rahasia ini dalam hatiku hingga hanya aku dan Tuhan yang tahu.
              Lama baru aku bisa menyadari bahwa aku harus mulai merelakan seseorang yang bukan jodohku. Tapi rasa sakit yang aku rasakan sungguh sulit untuk aku tahan. Setiap malam aku tidak bisa tidur dengan nyenyak setelah patah hati. Setiap hari tanganku selalu gatal ingin mengintip Instagram Gio, padahal aku tahu hal ini malah akan semakin menyakiti diriku semakin dalam.
                Rasa sakit hatiku mungkin tidak bisa pulih dengan segera. Tapi, setelah beberapa bulan, aku mulai berhenti melihat-lihat postingan fotonya di Instagram. Urusan percintaannya bagiku bukanlah urusanku lagi, walau kadang-kadang aku masih sering memikirkannya saat aku sedang sendiri dan melamun.
              Dia pantas untuk bahagia bersama Luna, begitu pula denganku. Aku juga ingin bahagia dan mengalami kisah cinta yang bahagia sama seperti Gio dan Luna. Saat ini aku sedang berusaha melupakan Gio dan berusaha menemukan pelabuhan hati yang baru. Menemukan seseorang yang juga bisa membalas perasaanku, yang tidak akan membuatku patah hati lagi seperti dulu. Tapi aku tidak perlu buru-buru, jodoh bukanlah sebuah perlombaan siapa cepat dia yang menang. Yang terpenting sekarang adalah aku ingin jadi wanita yang paling bahagia dan terus optimis sekalipun banyak coba’an mendera dan pertanyaan “Kapan Kawin?” yang tak kunjung reda. Berbahagia dan bersyukurlah atas apa yang kau miliki sebelum kau kehilangan segalanya.

Iklan