Diposkan pada dailynotesyanti

Review Baran

Asalamualaikum wr. wb

 

Hai, para blogger yang masih setia nge-blog atau blogwalking, para pembaca yang   bersedia membaca postingan ini.

Kali ini aku mau memberi review tentang film Baran, film yang merupakan film lawas asal negara Iran.

Keterangan Film :

Judul : Baran (Hujan)

Sutradara : Majid Majidi

Produser : Majid Majidi & Fouad Nahas

Ditulis oleh : Majid Majidi
Dibintangi oleh : Hossein Abedini, Zahra Bahrami, Mohammad Amir Naji, Abbas Rahimi, Gholam Ali Bakhshi
Tanggal Rilis : 31 Januari 2001

Film ini aku dapatkan  kemarin dan ternyata aku cukup menyukai film Iran ini. Dari Lima bintang kuberikan 3,5 Bintang pada Film besutan Majid Majidi. Sejujurnya ini adalah Film kedua yang aku tonton setelah Children of Heaven, film mengharukan tentang Kakak Beradik tentang sebuah sepatu, yang merupakan salah satu film besutan Majid Majidi.

Ada beberapa adegan mengharukan tapi tidak sampai membuatku berurai air mata.

Baran adalah seorang gadis imigran asal Afghanistan yang menyamar menjadi laki-laki. Hal ini terpaksa dia lakukan demi menggantikan pekerjaan sang Ayah yang mengalami kecelakaan saat bekerja di bangunan. Lateef adalah seorang pemuda yang bekerja sebagai pelayan di bangunan tersebut sebagai pembuat teh, pencuci baju dan membelibarang-barang kebutuhan para pekerja bangunan. Awalnya Lateef sangat membenci kedatangan Baran yang menyamar menjadi laki-laki bernama Rahmat. Dia terus mengerjai Rahmat dan menyulitkan pekerjaannya di dapur. Hingga suatu hari Lateef mendapati kenyataan bahwa Rahmat ternyata adalah wanita Afghan yang menyamar.

Lateef mulai menyukai Rahmat yang diketahuinya sebagai wanita. Dia mengintip Rahmat diam-diam untuk mengawasi gerak-geriknya yang membuatnya tertarik.

Suatu hari pengawas pemerintah datang untuk melakukan inspeksi ke bangunan tempat Lateef bekerja, dimana pemerintah Iran melarang imigran gelap asal Afghaistan bekerja di Iran. Rahmat hampir saja ditangkap jika bukan karena bantuan Lateef yang menghalangi petugas pemerintah. Karena kejadian itu, Lateef ditangkap dan bosnya harus membebaskannya dan diberi sangsi memberhentikan semua pekerja ilegal asal Afghan.

Lateef sedih karena Rahmat diberhentikan dan dia terus memikirkan tentang Rahmat.

Lateef menagih semua uang hasil bekerjanya selama setahun di konstruksi kepada Bosnya yang kejam bernama Ma’mar. Uang itu kemudian ia titipkan pada sahabat Ayah Baran bernama Sulthan.

Lateef tidak menyangka bahwa uang itu akan dipakai Sulthan untuk pulang ke Afghanistan padahal uangnya untuk membantu ayah Baran yang kakinya patah.

Lateef juga mengambil semua uang tabungannya untuk membelikan tongkat berjalan untuk Najaf, Ayah Baran tanpa diketahui siapapun. Jadi bisa dibilang Lateef adalah laki-laki yang pengecut mengatakan maksud hatinya ke Baran atau Ayahnya. Mungkin karena dia masih muda atau rasa takutnya terlalu besar sampai tidak berani membantu Baran secara langsung. Hal ini yang membuat aku sebagai penonton menjadi geregetan ke Lateef.

Niat mulianya nggak diketahui siapapun.

Film ini  memiliki akhiran yang cukup gantung. Karena penonton hanya bisa berspekulasi sendiri dan bertanya-tanya apakah pada akhirnya Lateef merelakan begitu saja kepergian Baran atau Lateef akan berusaha menyusul Baran.

Film ini berakhir dengan adegan baran atau jika diartikan secara harfiah adalah hujan.

Namun banyak pesan moral yang disuguhkan dalam film ini terutama pengorbanan yang ditunjukan Lateef untuk orang yang dikasihinya yaitu Baran. Walau Baran tidak membalas perasaannya. Menurutku kalau Lateef berterus terang sejak awal mungkin saja Ia dan Baran dapat bersama, namun ditengah rintangan yang begitu besar yaitu beda kewarganegaraan dan keadaan ekonomi yang pas-pasan tentu ini bukanlah hal yang mudah diatasi.

Film romantis Iran tidak menyelipkan adegan-adegan seperti film negara lain, misalnya Indonesia. Tidak ada adegan dimana mereka bergandengan tangan atau berpelukan. Yang ada hanya tatapan  penuh makna yang tersirat dari mata kedua tokoh utama. Namun, tidak menghilangkan esensi dari keromantisan itu sendiri.

Film yang terlihat sederhana namun memberikan makna yang sangat mendalam kepada penontonnya. Jadi tidak sabar untuk menonton film Iran lainnya.